Beban Kerja Perawat Garda Terdepan Merawat Indonesia dari Wabah Corona

Senyumperawat.com – Tingginya intensitas beban kerja perawat menangani wabah corona, membuat perawat rentan kelelahan. Sebagai pasukan garda terdepan merawat Indonesia dari serangan wabah Virus Corona, nasib perawat sedang diujung tombak karena rentan terinfeksi.

Pakar Keperawatan Kesehatan Kerja dari Universitas Indonesia (UI) DR. Henny Permatasari mengatakan, mengidentifikasi kesehatan diri menjadi langkah agar tidak tertular pasien.

“Dalam kondisi yang seperti sekarang ini, kita meyakini beban perawat itu akan semakin meningkat. Untuk itu perawat juga harus memikirkan agar dirinya tidak tertular. Lakukan upaya perawat melindungi diri agar tidak tertular dengan pasien,” kata Henny Permatasari dilansir rri.

Beban kerja sebagai garda terdepan merawat Indonesia

Menurutnya, dengan adanya penambahan pasien, dipastikan juga diberlakukan penambahan jam kerja bagi perawat. Kemungkinan jam kerja akan lebih dari 8 jam, seperti yang ditetapkan Kementerian Ketenagakerjaan.

“Memang ada batasan dari Kementerian Ketenagakerjaan 8 hingga 10 jam per hari. Kondisi sekarang, tentu kemungkinan akan lebih dari itu. Mungkin menjadi 8 sampai 14 jam atau berdinas dua shift, pagi sampai malam, malam sampai pagi, sesuai dengan kebutuhan yang ada di rumah sakit tersebut. Dengan kondisi penambahan jam kerja dan penambahan beban kerja, tentu kondisi kelelahan akan terjadi,” ujarnya.

Dengan kondisi lelah, kata Henny para perawat dapat mengalami kurang fokus dalam bekerja. Sehingga perawat dapat mengabaikan hal yang berkaitan dengan keselamatan diri.

“Padahal kita tahu kalau terjadi kondisi kelelahan, maka perawat tidak akan fokus. Mengabaikan hal-hal yang berkaitan dengan keselamatan, kurang waspada. Atau mengalami kondisi kelelahan, sehingga mengalami penurunan nafsu makan, gangguan nutrisi, atau memang perawat memiliki gangguan kesehatan lain,” sebutnya.

Dengan begitu Henny mengatakan, penting bagi perawat untuk mengidentifikasi kesehatan diri sendiri.

“Yang pertama perawat itu perlu mengindentifikasi kesehatan dirinya sendiri. Apakah kondisi sekarang sedang sehat, atau tidak fit. Dia harus care dan segera melapor ke atasannya, dalam hal ini adalah kepala ruangan atau supervisor. Nah, supervisor juga harus memahami kondisi itu, kebanyakan memang perawat itu memaksakan diri. Jadi saya harapkan baik supervisor dan perawat harus saling terbuka. Kalau memang tidak fit jangan dipaksakan,” pungkasnya.

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Leave a Reply

Tinggalkan Komentar

  Subscribe  
Notify of
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker