Pencegahan dan Pengendalian Infeksi, Apakah Lockdown Benar-Benar Bisa Diterapkan?

Senyumperawat.com – Upaya pengendalian infeksi virus Covid-19 akhir-akhir ini cukup menguras energi masyarakat Indonesia. Hingga terakhir dirilis secara resmi oleh pemerintah, jumlah pasien yang positif Virus Corona sudah mencapai lebih dari 700 pasien atau hampir tembus 800 lebih tepatnya.

Dalam kasus wabah saat ini, dibutuhkan kebijakan yang tepat untuk mengendalikan sebaran virus. Konsep dasar dari pengendalian infeksi adalah mengendalikan penyebaran agen penyebab penyakit dengan melakukan prosedur tertentu. Prosedur tersebut berupa seperangkat kebijakan-kebijakan yang digunakan untuk meminimalkan resiko
penyebaran infeksi pada semua sektor. Tidak bisa lagi jika mengandalkan salah satunya saja ketika statusnya sudah pandemi.

Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi

Menurut Depkes RI, strategi pencegahan dan pengendalian infeksi terdiri dari:

  1. Peningkatan daya tahan pejamu. Pejamu (host) adalah semua faktor yang terdapat pada manusia yang dapat mempengaruhi timbulnya suatu perjalanan penyakit. Daya tahan pejamu dapat meningkat dengan pemberian imunisasi aktif dan pemberian imunisasi pasif (imunoglobulin). Promosi kesehatan secara umum
    termasuk nutrisi yang adekuat akan meningkatkan daya tahan tubuh.
  2. Inaktivasi agen penyebab infeksi. Inaktivasi agen infeksi dapat dilakukan dengan metode fisik maupun kimiawi. Contoh metode fisik adalah pemanasan (Pasteurisasi atau Sterilisasi) dan memasak makanan seperlunya. Metode kimiawi termasuk klorinasi air, disinfeksi.
  3. Memutus rantai penularan. Hal ini merupakan cara yang paling mudah untuk mencegah penularan penyakit infeksi. Tetapi hasilnya sangat bergantung kepada ketaatan petugas dalam melaksanakan prosedur yang telah ditetapkan. Tindakan pencegahan ini telah disusun dalam suatu Isolation Precautions (Kewaspadaan Isolasi). Dalam hal ini terdiri dari dua tingkatan yaitu Standard Precaution (Kewaspadaan Standar) dan Transmission-based Precautions (Kewaspadaan Berdasarkan Cara Penularan).
  4. Tindakan pencegahan paska pajanan (Post Exposure Prophylaxis/ PEP) terhadap petugas kesehatan. Hal ini terutama berkaitan dengan pencegahan agen infeksi yang ditularkan melalui darah dan cairan tubuh lainnya, yang sering terjadi karena luka tusuk jarum bekas pakai atau pajanan lainnya.

Baca juga: Prabowo: Alat Medis Bantuan China Akan Terus Berdatangan

Memutus mata rantai penularan

Salah satu upaya penting dalam strategi pencegahan dan pengendalian infeksi virus yang sudah mewabah adalah memutus mata rantai. Hal ini diperlukan agar penanganan bisa fokus pada pasien yang sudah terinfeksi. Dengan memutus mata rantai, maka pasien tidak akan bertambah.

Di tengah masyarakat secara umum, ada beberapa hal yang dapat diterapkan dalam upaya memutus infeksi ini. Menurut WHO (2004) kebersihan tangan yang tepat dapat meminimalkan mikro-organisme. Khususnya yang diperoleh dari adanya kontak dengan darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi dan peralatan yang terkontaminasi dikenal dan tidak dikenal.

6 langkah cuci tangan

  1. Gosokkan kedua telapak tangan
  2. Gosok punggung tangan kiri dengan telapak tangan kanan, lakukan sebaliknya,
  3. Gosokkan kedua telapak tangan dengan jari-jari tangan saling menyilang,
  4. Gosok ruas jari tangan kiri dengan ibu jari tangan kanan, lakukan sebaliknya,
  5. Gosok ibu jari tangan kiri dengan telapak tangan kanan secara memutar, lakukan sebaliknya,
  6. Gosokkan semua ujung jari tangan kanan di atas telapak tangan kiri, lakukan sebaliknya.

Langkah cuci tangan di atas dapat diterapkan dengan air dan sabun antiseptik. Namun juga dalam kondisi tertentu bisa menggunakan larutan handsanitizer atau handrub. Antiseptik ini cepat dan mudah digunakan serta menghasilkan penurunan jumlah flora tangan awal yang lebih.

Baca juga: Akhirnya 100.000 Alat Pelindung Diri Disalurkan ke Seluruh RS Rujukan Corona

Penggunaan alat pelindung diri

Dalam strategi pencegahan dan pengendalian infeksi virus terhadap petugas kesehatan, ada standar operasional prosedur yang harus dipatuhi. Salahs atunya adalah dengan menggunakan alat pelindung diri. Tujuannya adalah memberikan penghalang fisik antara mikroorganisme dan pemakainya.

Alat pelindung diri meliputi sarung tangan, masker, alat pelindung mata (pelindung wajah dan kaca mata), topi, gaun, apron, sepatu dan pelindung lainnya. Alat pelindung diri harus digunakan oleh:

  1. Petugas kesehatan yang memberikan perawatan langsung kepada pasien dan yang bekerja dalam situasi dimana mereka mungkin memiliki kontak dengan cairan darah, tubuh, ekskresi atau sekresi.
  2. Staf dukungan termasuk pembantu medis, pembersih, dan staf laundry di situasi di mana mereka
    mungkin memiliki kontak dengan darah, cairan tubuh, sekresi dan ekskresi.
  3. Staf laboratorium yang menangani spesimen pasien.
  4. Anggota keluarga yang memberikan perawatan kepada pasien dan berada dalam situasi di mana mereka mungkin memiliki kontak dengan darah, cairan tubuh, sekresi dan ekskresi.

Kelengkapan alat pelindung diri

  1. Gaun pelindung, tutupi badan sepenuhnya dan leher hingga lutut, lengan hingga bagian pergelangan tangan dan
    selubungkan ke belakang punggung, ikat di bagian belakang leher dan pinggang.
  2. Masker, eratkan tali atau karet elastis pada bagian tengah kepala dan leher, paskan klip hidung dan logam fleksibel pada batang hidung, paskan dengan erat pada wajah dan di bawah dagu sehingga melekat dengan baik, periksa ulang pengepasan masker.
  3. Kacamata atau pelindung wajah, pasang pada wajah dan mata dan sesuaikan agar pas.
  4. Sarung tangan ditarik hingga menutupi bagian pergelangan tangan gaun isolasi.

Pedoman umum alat pelindung diri

  1. Tangan harus selalu dibersihkan meskipun menggunakan APD,
  2. Lepas dan ganti bila perlu segala perlengkapan APD yang dapat digunakan kembali yang sudah rusak atau sobek segera setelah anda mengetahui APD tersebut tidak berfungsi optimal
  3. Lepaskan semua APD sesegara mungkin setelah selesai memberikan pelayanan dan hindari kontaminasi terhadap lingkungan di luar ruang isolasi, para pasien atau pekerja lain.
  4. Buang semua perlengkapan APD dengan hati-hati dan segera membersihkan tangan.

Jadi kurang lebih seperti itu beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai salah satu upaya mencegah dan mengendalikan infeksi.

Terkait kebijakan lockdown

Istilah lockdown di Indonesia khususnya dalam perundang-undangan belum pernah ada. Istilah yang digunakan adalah karantina.

“Lockdown itu bahasa media dan bahasa publik yang sudah terlanjur dikenal. Undang-Undang nomor 6 tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan menyebutkan empat jenis pembatasan,” kata Tito Karnavian, Rabu, (18 Maret 2020).

Karantina ini terdiri dari:

  1. Karantina rumah. Artinya orang tidak boleh keluar rumah. Misalnya, mereka yang sudah masuk dalam kategori Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP).
  2. Karantina rumah sakit.
  3. Karantina wilayah. Inilah yang dikenal dengan istilah lockdown,.
  4. Pembatasan sosial berskala besar.

Kewenangan untuk memutuskan karantina wilayah dan pembatasan sosial dalam skala besar ada pada Menteri Kesehatan. Daerah yang akan membuat kebijakan pembatasan harus mengusulkan kepada Kepala Gugus Tugas. Sesuai Undang-Undang ini, Kepala Gugus Tugas dapat mengajukan kepada Menteri Kesehatan Terawan. Kemudian kebijakan baru bisa secara resmi dikeluarkan oleh Menteri Kesehatan.

Ada 7 syarat yang tercantum dalam perundang-undangan terkait kebijakan karantina ini. Di antaranya adalah

  1. Epidemologi
  2. Tingkat bahayanya,
  3. Efektivitas,
  4. Ekonomi,
  5. Sosial,
  6. Budaya,
  7. Keamanan.

Tapi problem nyata yang terjadi di Indonesia saat ini adalah masalah ekonomi. Kebijakan lockdown tidak bisa begitu saja diterapkan jika syarat-syarat tersebut belum terpenuhi. Khususnya soal kondisi perekonomian masyarakat. Ketika pemerintah memerintahkan masyarakat untuk berhenti dari aktivitas perekonomian, maka otomatis mereka akan kehilangan penghasilan selama masa itu.

Baca juga: Stop Pandangan Negatif Kepada Perawat Pasien Corona

Di sisi lain, kembali kepada si pemegang kebijakan. Ketika akhirnya mengambil kebijakan lockdown maka harus benar-benar melayani rakyatnya dengan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak akan berhasil jika hanya sebatas himbauan atau justru lebih salah lagi kalau diterapkan tindakan pidana atas aktivitas yang tak bisa diambil alih oleh pemerintah itu.

Intinya, segala kebijakan perlu persiapan yang begitu matang. Terkadang terlambat untuk mengantisipasi bisa berakibat lebih buruk misalnya sebelum terjadi seperti ini, orang asing berbondong masuk atas dalih investasi. Tapi tanpa mempertimbangkan dampak virus yang mungkin lebih cepat tersebar karena dibawa oleh para pendatang tersebut.

Ketika sudah terlanjur terjadi seperti ini ya itu bagian dari resiko. Kebijakan tetaplah kebijakan, akan selalu ada resiko di baliknya. Dan sekarang resiko itu terlihat maka langkah berikutnya adalah menerapkan langkah antisipasi yang mestinya dibuat juga saat menentukan kebijakan membuka pintu lebar bagi pendatang.

So, ini negara begitu besar. Perlu kerja sama setiap masyarakat untuk bangkit dari musibah ini. Tetap update informasi, tetap jaga diri dan tetap tingkatkan ibadah semoga segera teratasi.

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Leave a Reply

Tinggalkan Komentar

  Subscribe  
Notify of
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker