Pengorbanan Perawat Untuk Menangani Korban Virus Corona

Pengorbanan Perawat Untuk Menangani Korban Virus Corona
Foto: China Daily

Senyumperawat.com – Kondisi mencekam saat ini di Wuhan akibat virus Corona masih berlanjut. Tenaga medis dikerahkan untuk bisa membantu para korban. Di sisi lain, pengorbanan perawat yang diterjunkan tidaklah main-main.

Para dokter dan perawat mondar-mandir tanpa henti untuk mengobati pasien. Di sinilah tampak betapa besar peran tenaga medis untuk mengatasi wabah yang level bahayanya mendunia. Tenaga medis perlu diberikan dukungan luar biasa atas dedikasinya memberikan pelayanan.

Read More

Di Wuhan, virus Corona sudah memakan banyak korban. Tertangkap oleh media beberapa momen dimana tenaga medis begitu mengerahkan semua kemampuannya.

Pengorbanan perawat mengatasi Virus Corona di Wuhan

Beberapa hasil liputan beberapa media menunjukkan bagaimana kondisi di Wuhan saat ini. Salah satu yang menarik adalah bagaimana sibuknya tenaga medis khususnya dokter dan perawat. Yuk kita simak seperti apa.

1. Mencukug rambut

Shan Xia (30 tahun) bekerja di Rumah Sakit Renmin yang terletak di Universitas Wuhan. Dia harus menangani banyak pasien setiap harinya. Dilansir dari China Daily, baru-baru ini Shan Xia mencukur rambutnya sampai gundul. Ternyata tindakan itu dilakukan untuk menghemat waktu saat memakai dan melepas baju pelindung. Kepala yang gundul juga mengurangi risiko tertular virus corona saat mengurus pasien.

Selain Shan Xia, hal yang mirip juga dilakukan oleh para perawat lainnya. Mereka bergantian memotong rambut rekannya agar lebih pendek. Itu dilakukan untuk mempermudah pekerjaan sekaligus melindungi diri. Jika bagi banyak wanita, rambut adalah mahkota, berbeda dengan para perawat ini, mereka rela membabatnya demi menyelamatkan nyawa orang-orang.

2. Meninggalkan keluarga

Dilansir dari World of Buzz, para petugas medis dari Rumah Sakit Huaihe Hospital dikirim ke Wuhan pada 26 Januari. Mereka semua naik bus besar. Sesaat sebelum bus itu berangkat, terjadi hal yang mengharukan. Seorang lelaki bernama Xu Guoliang tampak menangis sembari memanggil istrinya, Wang Yuehua. Ternyata sang istri adalah salah satu relawan yang berangkat ke Wuhan. Dia mempunyai pengalaman selama delapan tahun sebagai perawat dan ingin membantu orang-orang yang terserang virus corona.

Wang mendaftar sebagai relawan secara diam-diam tanpa memberitahu suaminya, sebab takut bakal dilarang. Namun akhirnya Xu tahu juga dan sangat terkejut karenanya. Dia mengaku sangat khawatir. Bahkan sebelum istrinya berangkat, Xu menangis dan berteriak, “Wang Yuehua, aku cinta kamu. Aku cinta kamu!” Perpisahan pasangan ini membuat banyak orang terharu. Apalagi Wu juga harus meninggalkan anaknya yang berusia lima tahun. Sungguh mulia tekadnya untuk membantu orang-orang di Wuhan.

3. Mengenakan popok agar tidak bolak-balik toilet

Banyak sekali pasien yang harus dilayani di rumah sakit Wuhan. Akibatnya, para petugas medis harus bekerja seolah tanpa henti. Bahkan mereka hampir tak punya waktu untuk pergi ke toilet. Dilansir dari Washington Post, para petugas medis memilih untuk pakai popok agar tak repot saat hendak buang hajat.

Mereka juga melakukannya untuk mengurangi risiko robeknya pakaian pelindung. Sebab kalau pergi ke toilet, mereka harus melepas pakaiannya dulu untuk buang hajat. Padahal tindakan tersebut berisiko merusak pakaian pelindung secara tak sengaja. Apalagi stoknya terbatas, jadi bisa-bisa mereka tak mendapat gantinya. Stok alat keamanan lain seperti masker operasi dan kacamata pelindung juga menipis. Namun dalam kondisi itu, para petugas medis tetap berusaha bertahan demi menyelamatkan pasien virus corona. Sungguh hebat!

4. Tertular virus hingga meninggal dunia

Dilansir dari CNN, Liang Wudong bertugas sebagai dokter di Rumah Sakit Hubei Xinhua. Dia berada di garda terdepan dalam menangani virus corona sejak awal penyebarannya pada Desember silam. Setiap hari Liang menangani banyak pasien sampai kelelahan. Entah mungkin saking lelahnya sampai bikin imunnya drop, Liang akhirnya ikut tertular virus corona. Ia pun meninggal dunia di usia 62 tahun.

Selain Liang, ternyata ada lagi dokter lain bernama Jiang Jijun yang meninggal dunia. Jiang kena serangan jantung saat menangani pasien-pasien virus corona.

Demikianlah pengorbanan perawat, dokter dan tenaga medis lainnya dalam mengatasi wabah berbahaya ini. Penting untuk dipahami bersama bahwa tidak ada suatu hal yang terjadi kecuali ada hikmah di balik semua itu.

Related posts

Leave a Reply

Tinggalkan Komentar

  Subscribe  
Notify of