Resiko Jadi Bidan Desa, Salah Satunya Bertemu Begal

Resiko Jadi Bidan Desa, Salah Satunya Bertemu Begal
Foto ilustrasi: Uci Wulandari, bidan desa di daerah paling barat Provinsi Jambi, Kerinci, Source: teropongjambi.com

Senyumperawat.com – Menjadi bidan desa ada suka dan dukanya. Sukanya mungkin karena hidup di desa akan sangat menikmati panorama tiap hari yang rindang dan sejuk. Keakraban warga juga masih sangat hangat. Kalau bicara dukanya ya mungkin soal sinyal Hp yang susah. Salah satu resiko jadi bidan desa juga adalah siap siaga saat dipanggil tengah malam oleh warga. Malangnya, resiko kejahatan juga kadang mengintai.

Kita ketahui bersama bahwa tugas di pedesaan itu cukup berat untuk akses jalan antar kampung. Di sebagian besar desa di luar pulau Jawa khususnya, akses jalan masih belum begitu baik. Jalan banyak yang rusak, penerangan minim hingga masih banyaknya kebun sehingga cukup rawan untuk lalu-lalang sendirian.

Read More

Biar bagaimana pun, bidan desa harus siap untuk itu semua. Mungkin ini juga yang menjadi pertimbangan untuk segeralah menikah agar ada yang menemani.

Salah satu kejadian mengerikan dialami oleh Nurul Zubaidah. Ia merupakan bidan desa Mojokendil Kecamatan Ngronggot, Nganjuk Jawa Timur.

Bidan desa dibegal saat pulang tugas

Dua pelaku pembegalan terhadap Nurul Zubaidah (29), seorang bidan asal Desa Mojokendil, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur pada akhir bulan Desember 2019 lalu, ditangkap Tim Macan Wilis Satreskrim Polres Nganjuk.

Diberitakan oleh Antvklik, Keduanya yakni Febri Suwigyo, warga Desa Klurahan, Nganjuk, yang berperan membacok lutut kanan korban pelaku dan Saiful Anam (25) warga Desa Banjarsari, Nganjuk. Selain dua pelaku begal, polisi juga menangkap Abdul Rahman (33) yang menampung handphone yang dirampas Saiful dan Febri dari korban.

Saiful mengaku membonceng Febri saat melakukan pembegalan terhadap korban.

Kasatreskrim Polres Nganjuk, Iptu Nikolas Bagas Kurnia mengatakan, pelaku terpaksa dilumpuhkan petugas karena saat dilakukan penelusuran di lokasi kejadian berusaha melarikan diri.

Peristiwa pembegalan ini terjadi pada 25 Desember 2019 malam, saat itu, korban dalam perjalanan pulang dari Puskesmas Prambon, tempatnya bekerja sebagai bidan. Tepat di Jalan Desa Cengkok, Kecamatan Ngronggot, Nganjuk, tiba-tiba Febri dan Saiful yang mengendarai motor, membacok lutut kanan korban. Setelah korban terjatuh, para pelaku yang mengenakan penutup wajah langsung mengambil tas milik korban kemudian pelaku melarikan diri.

Dari para pelaku, polisi mendapatkan barang bukti berupa pisau yang digunakan membacok korban, handphone, arloji, dan atm milik korban. Serta 35 butir pil dobel L yang ditemukan di rumah Abdul Rahman.

Resiko jadi bidan desa berat, tapi gajinya sekarat

Bukan rahasia lagi jika profesi bidan itu merupakan garda terdepan dalam pelayanan kesehatan. Siap ditempatkan di tempat terpencil sekalipun. Akses sinyal pun tersendat, belum lagi harus melintasi antar kampung yang mana cukup beresiko.

Sayangnya, nasib para bidan itu masih belum begitu bisa disebut mendapatkan jasa yang layak. Memang dalam profesi yang digelutinya, istilah pamrih adalah hal yang tabu. Namun itu membutuhkan pengertian dari pihak terkait untuk mengupayakan peningkatan kesejahteraan.

Beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian untuk bidan yang bertugas di desa salah satunya perihal keamanan. Setidaknya ada perangkat keamanan desa yang turut menjaga keamanan selama bidan tersebut bertugas khususnya bagi yang belum menikah.

Kemudian, moda transportasi yang memadami juga diperlukan untuk mempermudah akses. Tidak sedikit bidan desa yang bertugas di pelosok tidak dibekali dengan kendaraan yang layak. Mereka masih menggunakan kendaraan sendiri yang terkadang secara fungsi kurang bisa mendukung akses jalan yang belum bagus.

Lebih miris lagi jika kendaraan sudah kurang memadai, kondisinya juga kurang terawat. Tidak lain karena jika gaji bidan tersebut dipakai untuk perawatan motor maka akan habis begitu saja untuk motor itu. Kondisi semacam ini mungkin tidak begitu banyak dijumpai di area Jawa. Namun di luar Jawa sepertinya tidak hanya 1 atau 2 lokasi yang membutuhkan perhatian lebih.

Related posts

Leave a Reply

Tinggalkan Komentar

  Subscribe  
Notify of