Perawat Judes Bikin Pasien Makin Sakit, Faktanya Kadang Menyedihkan

Perawat Judes Bikin Pasien Makin Sakit, Faktanya Kadang Menyedihkan
Foto: noozhawk.com

Senyumperawat.com – Istilah perawat judes itu muncul bukan dari literatur atau jurnal keperawatan. Tapi lebih identik berasal dari apa yang pasien keluhkan ketika mereka berjumpa dengan perawat yang wajahnya cemberut. Penilaian pasien semacam ini sedikit banyak mempengaruhi respon masyarakat lainnya. Sebab, ketika pasien yang tidak puas akan pelayanan tersebut pulang, maka ia akan menceritakan kepada masyarakat lainnya.

Mengutip perkataan ketua PPNI Kabupaten Demak, H Soekarjo. “Padahal diakui atau tidak, banyak pasien sembuh atau minimal berkurang keluhan sakitnya setelah mendapatkan pelayanan yang ramah petugas kesehatan. Seperti sugesti, setelah bertemu dan ngobrol dengan perawatnya yang santun dan ramah, sakit mereka berkurang,” kata Pak Mantri Karjo, begitu panggilan akrabnya dikutip dari lama Jatengdaily.

Muat Lebih

Sikap seorang perawat ketika memberikan perawatan kepada pasien memiliki peran penting dalam kesembuhan. Jika perawat menampilkan wajah ramah, berkomunikasi dengan baik kepada pasien maka pasien pun akan lebih merasa bahagia. Itu sudah memberikan dorongan untuk sembuh. Sebaliknya, jika perawat judes setiap kali bertemu pasien maka itu mempengaruhi pasien secara psikologis.

Hal senada disampaikan oleh dr Rita Kartikasari, dosen Fakultas Kedokteran Unissula dan Magister Keperawatan Undip.

“Meski tidak cantik atau ganteng, asalkan tidak galak dan senantiasa menyapa pasien dengan santun, sambil mengajak mereka berkomunikasi, optimis mampu membantu mempercepat pemulihan kesehatan. Sebaliknya, meski pandai tapi judes, pasien bisa kabur atau tambah sakit,” tuturnya.

Dilema di balik sikap perawat judes

Setiap orang memiliki karakter kelembutan menurut kadarnya masing-masing. Namun, ketika seseorang sudah terjun dalam dunia keperawatan maka menjadi ramah adalah sesuatu hal yang mutlak. Tidak bisa tidak, sebab profesi ini berhadapan dengan manusia. Berbeda dengan montir di bengkel yang berhadapan dengan benda mati.

Problemnya adalah bagaimana pun kondisi yang melatarbelakangi sikap seseorang kenapa menjadi perawat judes itu tidak bisa dijadikan alasan. Sebab, ini sudah menjadi SOP dalam pelayanan.

Ini bagian yang sedihnya. Pasien sebagai klien yang tengah sakit memang membutuhkan pengertian dari sang perawat. Namun, kadang pihak terkait yang harus mengerti perasaan perawat tidak serta-merta melakukan hal yang sama.

Perawat dituntut untuk selalu memberikan pelayanan prima namun soal kesejahteraannya terkadang tidak ditindaklanjuti dengan prima. Mulai dari pembayaran jasa yang telat, status kepegawaian yang tak kunjung ada kabar dan lain sebagainya. Tidak dipungkiri terkadang hal-hal semacam itu mempengaruhi psikologis seseorang.

Kembali lagi, sayangnya kondisi semacam itu tak berlaku saat harus bertugas merawat pasien. Pihak yang semestinya menggali penyebab di balik sikap para perawat. Kemudian, ketika para perawat sudah melakukan aksi mogok kerja baru hal-hal sensitif demikian disikapi.

Itulah hal-hal yang berkenaan dengan fakta yang boleh jadi jarang dikaji. Tiap orang punya problematika tersendiri. Namun saling pengertian adalah salah satu cara untuk bisa saling berlapang hati.

Pos terkait

Leave a Reply

Tinggalkan Komentar

  Subscribe  
Notify of