Rahim Diangkat, Bagaimana Hukum Bayi Tabung Agar Punya Anak?

Senyumperawat.com – Mayoritas pasangan suami-istri akan sangat menantikan hadirnya buah hati. Semua itu merupakan salah satu tujuan dari pernikahan yang mereka jalani. Namun tentunya tiap keluarga memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Terkadang ada yang diuji dengan masalah ekonomi. Ada pula yang diuji dengan kelahiran buah hati yang begitu lama harus menanti. Beberapa kasus mengharuskan rahim diangkat dari diri si istri. Bagaimana hukum bayi tabung jika ingin punya anak jika kasusnya semisal ini?

Upaya untuk segera diberi momongan memang banyak yang bisa dicoba. Namun, jangan sampai cara yang dilakukan itu menyelisihi dari apa yang Rosulullah ajarkan pada kita. Salah satu yang telah Rosulullah ajarkan adalah dengan meningkatkan taqwa.

Kunci utamanya adalah taqwa

Surat Al-Ma’idah Ayat 35

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, menafsirkan ayat di atas dengan begitu lugas. Wahai orang-orang mukmin, bertakwalah kepada Allah dengan menunaikan syariat dan hukum-hukumNya. Dan carilah sesuatu yang terhubung dengan Allah dan ridhaNya, yaitu amal shalih. Al-Washilah adalah jalan untuk mendekat. Dan berusahalah untuk meninggikan kalimat agama (Islam) supaya kalian dapat meraih keberhasilan dan surga. (Tafsirweb)

Kuncinya adalah taqwa kepada Allah. Contoh dari taqwa itu misalkan dengan menyempurnakan sholat. Sebagaimana yang dikerjakan oleh para Nabi terdahulu. Nabi Zakariya misalkan, beliau diberikan ujian berupa pernyataan dokter di zaman itu bahwa beliau tidak mungkin punya keturunan.

Tapi beliau tidaklah berputus asa. Justru semakin meningkatkan taqwa kepada Allah. Surat 3: 38-39 menjelaskan bagaimana kisah Nabi Zakariya tersebut.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

  1. Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.

نَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

  1. Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (Tafsirweb)

Waktu strategis untuk berdoa

Ustadz Adi Hidayat terkait beberapa ayat yang dijelaskan di atas, beliau sebutkan ada 4 waktu yang strategis dalam sholat:

  1. Berdiri
  2. Ruku’
  3. Sujud
  4. Sesaat sebelum salam

Orang sholeh zaman dahulu ketika ada hajat maka mereka mengutamakan sholat terlebih dahulu. Para Nabi pun memerintahkan keluarganya untuk sholat.

Nabi Zakariya pun dinyatakan tidak punya keturunan. Namun beliau menyampaikan do’a kepada Allah. Tak lupa beliau menyematkan asma-ul husna. Bahkan jawaban dari ikhtiar Nabi Zakariya itu berupa anak beserta nama yang istimewa. Istimewanya karena Allah yang mengabarkan itu melalui malaikat Jibril yang diutus kepada Nabi Zakariya.

Bagaimana hukum bayi tabung?

Perkembangan teknologi medis memang sangat pesat. Untuk kasus keluarga yang mendambakan keturunan, tentunya syariat Islam akan begitu ketat mengaturnya. Misalkan metode yang bisa menjadi alternatif saat ini adalah dengan program bayi tabung.

Melalui video di atas, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi dalam proses itu. Pastikan bahwa sel sperma dan sel telur harus berasal dari pasangan yang sah. Kemudian, harus dilakukan dengan tata cara yang tidak melanggar syariat Allah.

Kurang lebih demikian untuk menyikapi permasalahan ini. Jadi, jika ada pertanyaan bagaimana hukum bayi tabung, maka jawabannya adalah bisa tergantung dari permasalahan keluarga masing-masing. Kemudian, perlu diperhatikan pula adalah terkait metode yang dijalani jangan sampai melanggar syari’at.

Pos terkait