Pahala Perawat Saat Merawat Pasien

Pahala Perawat Saat Merawat Pasien

Senyumperawat.com – Tugas seorang perawat secara sederhana adalah merawat pasien. Sesederhana itukah, tentu saja tidak. Harus memahami kaidah dasar asuhan keperawatan. Memahami pula bagaimana asuhan keperawatan itu diberikan sesuai dengan analisis data dan diagnosis yang tepat. Dari serangkaian asuhan keperawatan yang diberikan itu, tentu sudah dipahami kalau pahala perawat saat merawat pasien itu tidak sedikit.

Mendapatkan pahala yang banyak untuk modal masuk Surga, tentu semua orang mau. Profesi perawat adalah salah satu sarana yang mudah sekali untuk mendapatkannya. Tentunya dengan syarat yang telah dituntunkan dalam agama. Pertama amalan itu sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi dan diiringi dengan sebuah keikhlasan.

Muat Lebih

Dalam ayat Al Quran disebutkan:

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya“.” (QS. Al Kahfi: 110)

Disebutkan pula terkait niat yang ikhlas dalam hadits:

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah pada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena dunia yang ia cari-cari atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya berarti pada apa yang ia tuju (dunia dan wanita)” (HR. Bukhari no. 6689 dan Muslim no. 1907.)

Ini satu hal yang perlu ditanamkan sebenarnya sejak masuk ke dunia keperawatan. Maka, pelajaran agama mestinya mendapatkan porsi yang lebih dalam perkuliahan keperawatan.

Pahala perawat dalam merawat pasien

Terkait bagaimana pahala seorang perawat ketika ia memberikan asuhan keperawatan dengan ikhlas dan mengikuti petunjuk Rosulullah itu luar biasa. Beberapa pahala bagi perawat yang berpotensi dalam meningkatkan amal sholeh di antaranya bisa kita telaah berdasarkan dalil berikut ini:

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِـيْ حَاجَةِ أَخِيْهِ ، كَانَ اللهُ فِيْ حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ ، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًـا ، سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Seorang Muslim adalah saudara orang Muslim lainnya. Ia tidak boleh menzhaliminya dan tidak boleh membiarkannya diganggu orang lain (bahkan ia wajib menolong dan membelanya). Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, maka Allâh Azza wa Jalla senantiasa akan menolongnya. Barangsiapa melapangkan kesulitan orang Muslim, maka Allâh akan melapangkan baginya dari salah satu kesempitan di hari Kiamat dan barangsiapa menutupi (aib) orang Muslim, maka Allâh menutupi (aib)nya pada hari Kiamat. (HR. Bukhâri (no. 2442 dan 6951), Muslim (no. 2580) dan Ahmad (2/91), Abu Dâwud (no. 4893), at-Tirmidzi (no. 1426), dan Ibnu Hibbân (no. 533) dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma)

“Sesungguhnya Allah ta’ala hanya merahmati hamba-hambaNya yang pengasih.” (HR. Bukhari)

“Orang yang pengasih akan di kasihi Dzat yang Maha Pengasih, kasihilah yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihimu.” (HR. Tirmidzi)

Barangsiapa yang mempermudah kesulitan orang lain, maka Allah ta’ala akan mempermudah urusannya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Berlemah-lembutlah terhadap hamba Allah ta’ala maka kamu akan termasuk orang yang didoakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Ya Allah, barang siapa yang berlemah-lembut terhadap umatku maka berlemah-lembutlah terhadapnya, dan barang siapa yang mempersulit umatku maka persulitlah ia.” (HR. Ahmad)

Allah akan menolong hambaNya yang gemar menolong orang lain

Rosulullah juga bersabda dalam hadits riwayat Muslim,

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

Masya Allah Islam mengatur ini dengan sedemikian rupa. Sangat gamblang bagaimana pahala yang dijanjikan oleh Allah kepada perawat. Sebab, tugas perawat tidak jauh-jauh dari definisi dasar dalam ayat dan hadits di atas.

Oleh karenanya, penting sekali ditanamkan perihal landasan beragama dalam diri para perawat. Khususnya sejak menempuh pendidikan keperawatan, perlu adanya perhatian khusus dalam mata kuliah agama. Sebaiknya, porsi mata kuliah tersebut ditingkatkan. Akan sangat kurang jika hanya mengandalkan durasi mata kuliah 2 jam sepekan lalu bisa menghasilkan perawat yang ikhlas dan mengikuti Sunnah Rosulullah dalam beramal. Perlu pendalaman yang terpatri lebih dalam terkait pehamaman agama Islam agar semua itu tercapai.

Pos terkait