Gubernur Kalbar Ancam Pecat Perawat yang Tidak Ramah Pasien, Bagaimana dengan Kebijakan Pemerintah yang Tak Ramah Perawat?

Gubernur Kalbar Ancam Pecat Perawat yang Tidak Ramah Pasien, Bagaimana dengan Kebijakan Pemerintah yang Tak Ramah Perawat?

Senyumperawat.com – Cukup menarik ketika membaca judul berita yang diterbitkan oleh Kumparan. Setelah dibaca memang ternyata isinya demikian. Kabarnya perawat yang tidak ramah pasien akan dipecat. Ini terkait dengan upaya untuk memberikan pelayanan prima kepada pasien yang berobat.

Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, mengancam akan memecat perawat atau pun tenaga kesehatan, jika memberikan pelayanan yang tidak ramah kepada pasien dan keluarga pasien. Hal tersebut ia sampaikan pada saat ulang tahun RSUD Soedarso, Minggu (24/11), dipublikasikan oleh Hi!Pontianak pada laman Kumparan.

Muat Lebih

“Kalau ada perawat yang masih ketus-ketus, itu sampaikan ke saya, dan harus keluar dari rumah sakit Sudarso. Mau dia tenaga ahli apa pun, keluar. Saya bisa siapkan yang lebih baik dari itu,” jelasnya.

Gubernur Kalbar tersebut harap jajaran Direksi RSUD Soedarso untuk serius mengurusi Rumah Sakit Soedarso.

“Saya serius mengubah rumah sakit ini, dan saya paham tidak gampang mengurus rumah sakit,” katanya, saat memberikan sambutan pada peringatan Hari Ulang Tahun Ke 43 RSUD Sudarso.

“Gedung rumah sakit yang Rp 184 miliar, kita bisa bangun. Apa lagi cuma mencari untuk 100 orang tenaga profesional yang betul-betul (berniat melayani), bisa kita bayar. Tinggal saya berikan kesempatan kepada jajaran rumah sakit Soedarso, mau berubah apa tidak,” ucapnya.

Midji meminta kepada pihak terkait untuk melakukan inovasi dalam pelayanan dan evaluasi di RSUD Soedarso.

“Mengubah fisik itu gampang, tetapi mengubah mental itu tidak gampang. Saya meminta kepada jajaran rumah sakit untuk terus melakukan inovasi-inovasi dalam pelayanan, dan melakukan evaluasi dalam pelayanan,” harapnya.

“Pelayanan itu harus dengan hati, bukan dengan mulut, apalagi mulutnya suka ngomel dengan pasien,” pesan Sutarmidji.

Dia menegaskan, tenaga kesehatan diwajibkan untuk bersikap ramah kepada pasien yang datang. “Perawat dan dokter tidak boleh marah dengan pasien. Seberapa ketersinggungan kita dari sikap mereka, kita harus melayani, dan kita harus maklumi karena mereka sakit. Kami juga akan membenahi gedung rumah sakit kemudian peralatan,” tukasnya.

Bagaimana dengan kebijakan yang tak ramah pada perawat?

Perawat yang tidak ramah pasien memang sebuah permasalahan yang perlu diselesaikan. Namun, mungkin ada kalanya sebagaimana penyakit, harus dianamnesis dulu agar ketemu diagnosisnya. Setelah diagnosis ketemu, baru terapinya disesuaikan.

Dalam kasus perawat ketus, judes atau apa pun sebutannya, tidak serta-merta bisa disama-ratakan penanganannya. Jika itu merupakan sifat dasar personal, maka itu bisa saja menjadi solusi. Tapi jika perilaku tersebut bermula dari sebuah kebijakan pemerintah yang tidak pro perawat, maka bukan perawatnya yang harus menerima imbas.

Oleh karena itu, tindakan yang tepat akan sangat diperlukan untuk menjaga kredibilitas baik instansi maupun mereka yang bekerja. Perlu memperhitungkan banyak aspek sebelum mengambil kebijakan. Masih banyak pengangguran yang tersebar, jangan sampai akibat salah diagnosis, bisa berakibat pada salah pemberian terapi. Akibatnya, bisa saja terjadi komplikasi.

Pos terkait