Perawat Jumraini Dipenjara Padahal Sedang Hamil, PPNI Turun Aksi Solidaritas

Senyumperawat.com – Belakangan beredar kabar seorang perawat asal Lampung dipenjara atas tuduhan menyebabkan kematian pasien. Atas kabar tersebut, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Lampung pada Rabu (2/10) melaksanakan aksi damai. Aksi tersebut menuntut keadilan bagi perawat Jumraini, nama perawat yang dikenai tuduhan mal praktik tersebut.

150 perawat yang tergabung dalam Persatuan Perawatan Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Pesawaran, bertolak ke Kabupaten Lampung Utara. Agendanya adalah untuk mengikuti aksi damai yang akan diikuti oleh seluruh PPNI se-Provinsi Lampung.

Dirinya mengatakan kegiatan ini bentuk simpatik dan solidaritas terhadap kasus yang menimpa Jumraini, seorang perawat di Kabupaten Lampung Utara, yang saat ini mendekam di penjara atas tuduhan menyebabkan kematian seorang pasien. “Ya kami meminta agar Jumraini ini, dilakukan penangguhan penahanan, karena saat ini Jumraini sedang dalam posisi mengandung dan memiliki anak balita,” papar Widodo, Ketua PPNI Kabupaten Pesawaran.

Ia juga mengatakan, aksi damai yang akan dilakukan melibatkan seluruh PPNI yang ada di Provinsi Lampung. “Nanti kami akan melakukan aksi damai di Kejaksaan, DPRD Lampura dan mungkin ke Pemkab Lampura, jadi tiga tempat yang akan kami datangi,” tutupnya dikutip dari Lampost.

Kasus yang menjerat perawat Jumraini

Kasus ini terjadi di Desa Paraduan Waras, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten Lampung Utara. Seorang perawat bernama Jumraini melakukan pertolongan kepada seorang warga berinisial A. Bapak A meminta bantuan perawatan atas kondisi luka yang dialaminya akibat tertusuk paku. Sebelumnya Bapak A pergi memeriksakan kondisinya ke Puskesmas Bumi Agung.

Setelah diperiksa di Puskesmas Bumi Agung, Bapak A pergi ke rumah perawat Jumraini untuk meminta perawatan. Sebelum melakukan perawatan, perawat menyarankan kepada Bapak A untuk segera ke RSUD Ryacudu. Rumah sakit tersebut bertempat di Kabupaten Lampung Utara, agar dilakukan perawatan yang lebih komprehensif, tetapi Bapak A menolak dengan alasan tidak ada biaya.

Pada akhirnya, Jumraini merasa iba dengan kondisi Bapak A, sehingga ia melakukan perawatan luka sederhana. Perawatan diberikan dengan cara membersihkan luka tersebut dengan air hangat agar bakteri pada luka tersebut tidak menyebar ke seluruh anggota tubuh.

Kemudian, setelah mendapatkan perawatan luka tersebut, Bapak A pergi ke RSUD Ryacudu untuk dirawat karena kondisinya belum membaik. Setelah 3 sampai 4 hari perawatan di RSUD Ryacudu, Bapak A meninggal dunia pada tanggal 18 Desember 2018 silam.

Kasus berlanjut ada usaha perdamaian antara kedua pihak secara kekeluargaan dan dianggap selesai.
Tetapi ada pihak ketiga yang mencoba mengangkat kasus ini dan keluarga mendapat ancaman. Akhirnya keluarga melaporkan dan minta bantuan ke organisasi PPNI.

Pada 22 Juni 2019, kasus dibongkar kembali oleh pihak ketiga dengan alasan tertentu. Akibatnya, saat ini Perawat Jumraini ditetapkan sebagai terdakwa dan sudah dibui selama tiga hari. Saat sidang terbuka, Jumraini tak sadarkan diri karena vonis tersebut memberatkannya. Atas dasar ini, para perawat se-propinsi Lampung merasa ada ketidakadilan dalam penetapan hukuman tersebut. Hal itu karena tuduhan yang dialamatkan kepada Jumraini adalah berupa mal praktik. Dikutip dari fanpage Cerita Perawat.

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker