Pembohongan Publik Berdalih “Sugar Free” Pada Label Minuman

Senyumperawat.com – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menemukan sejumlah produk dengan klaim Sugar Free justru mengandung pemanis buatan. Atas temuan ini, TLKI mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati

“Kebanyakan produsen malah menggunakan pemanis buatan untuk pengganti rasa manis gula itu, kata Ketua YLKI Tulus Abadi di kantor YLKI, Jakarta, Jumat (11/10).

Tulus mengatakan klaim klaim seperti ini sangat menyesatkan masyarakat. Banyak konsumen yang tertipu dengan klaim ini. Mereka yang memiliki sensitivitas terhadap berat badan tentunya akan tertarik dengan klaim sugar free ini. Tulus pun menganggap hal ini sebagai pelanggaran terhadap UU Perlindungan Konsumen.

Bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu, menurut Tulus, pemanis buatan bisa jadi lebih berbahaya dibandingkan dengan gula, contohnya saja anak-anak, ibu hamil dan ibu menyusui. Namun, kelompok konsumen inilah yang justru sangat rentan terpapar pangan berpemanis buatan.

Baca juga: Bagaimana Hukum Perawat Muslim Bekerja ke Negara Mayoritas Kafir?

Pasalnya, produk-produk berpemanis buatan sangat mudah ditemukan di berbagai toko kelontong maupun ritel modern. Ditambah, informasi mengenai kandungan pemanis buatan ini kerap kali sangat tersembunyi seperti di bagian lipatan pada kemasan.

Tulus mengakui, memang belum ada pengaduan terkait hal ini dari konsumen. Namun, YLKI menilai isu ini sangat penting karena bisa memberikan dampak yang lebih buruk dalam jangka panjang. Tidak adanya pengaduan, menurut Tulus, bisa juga karena masyarakat kurang memahami efek samping dari pemanis buatan.

Seperti diketahui, pemanis buatan dapat menyumbang banyak efek negatif bagi kesehatan konsumen mulai dari gangguan fungsi ginjal sampai kanker. Oleh karena itu, YLKI meminta pemerintah meninjau kembali dan merevisi regulasi yang mengatur penandaan pada label pangan.

Baca juga: Perawat Jangan Mau Digaji Rendah, Minimal 3 Kali UMP

“Informasi yang disampaikan pada label tidak informatif, ini pelanggaran kepada konsumen. BPOM sebagai pengawas tidak proaktif harusnya bisa mepakukan pengawasan terhadap label-label itu,” kata Tulus dikutip dari Republika.

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker