Jumraini Dibebaskan dari Penjara, Kini Jadi Tahanan Kota

Jumraini. (Foto: tribunnews)

Senyumperawat.com – Setelah melalui persidangan perdana kemarin, Selasa (8/10), Jumraini dibebaskan dari penjara. Selaku ketua majlis hakim Pengadilan Negeri (PN) Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara (Lampura) adalah Eva Meita Theodora Pasribu. Didampingi oleh para anggota yakni Rika Amelia dan Suhadi Putra serta panitara pemganti Ardiansyah.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dian Patmawati mengatakan bahwa terdakwa Jumraini diduga telah melanggar Pasal 84 praktek tanpa izin dan Pasal 86 Undang-undang RI nomor 36 tahun 2014 tentang Kesehatan.

Muat Lebih

Dian menjelaskan, Jumraini telah melakukan tindakan medis di rumahnya pada 20 Desember 2018 lalu, kepada Alek Sandra. Akibat perbuatannya, pasien Alek Sandra meninggal dunia.

Setelah terdakwa melakukan pembedahan terhadap bisul di kaki kanan korban, kondisi Alek dikabarkan menurun. Alek mengalami hilang kesadaran, panas yang tinggi dan rasa sakit pada bisul yang dibedah tersebut.

Baca juga: Lanjutan Kasus Perawat Ditampar Oknum Polisi di RSUD Rembang

Beberapa hari kemudian, pada 21 Desember 2018 lalu, korban dikabarkan meninggal dunia di RSUD Ryacudu Kotabumi.

“Terdakwa didakwa dengan pelanggaran pada Pasal pertama 84, tentang tenaga kesehatan dan Pasal 86 karena praktek tanpa izin sebagaimana diatura dalam Undang-undang RI Nomor 36 tahun 2014,” ujar Dian Patmawati saat sidang, dikutip dari Radar Lampung.

Sidang kasus dugaan malpraktek itu akan dilanjutkan pada pekan depan tanggal 15 Oktober 2019. Hal ini dikarenakan ada jadwal persidangan dari kuasa hukum terdakwa. Atas dugaan pelanggaran Undang-undang tersebut, Jumraini terancam dengan hukuman selama 5 tahun penjara.

Penangguhan penahanan Jumraini dikabulkan

Sementara itu, pihak PN Kotabumi akhirnya mengabulkan pengalihan penahanan dari penahanan Rutan menjadi tahanan kota.

Humas Pengadilan Negeri (PN) Kotabumi Lampura, Imam Munandar mengatakan, hasil audensi dengan perwakilan Persatuan Perawat Nasional Indonesiasia (PPNI) waktu menggelar aksi damai beberapa waktu lalu mereka meminta penangguhan untuk terdakwa Jumraini yang saat ini tengah dalam proses persidangan di PN Kotabumi.

Dalam pertemuan itu, PPNI yang dikoordinatori oleh ketuanya, Dedi Aprizal mengajukan permohonan penangguhan. Jika yang bersangkutan mau ditangguhkan tentunya mereka (perawat) harus memenuhi apa ketentuan dari majelis hakim, karena disetujui tidaknya penangguhan tersebut hak majelis hakim.

Baca juga: Perawat Jumraini Dipenjara Padahal Sedang Hamil, PPNI Turun Aksi Solidaritas

Kini Jumraini dibebaskan dari penjara dan beralih menjadi tahanan kota.

“Akhirnya hakim mengabulkan permohonan penangguhan penahanan terhadap Jumraini, menjadi tahanan kota,” tandas Munandar.

Pos terkait