Bagaimana Hukum Perawat Muslim Bekerja ke Negara Mayoritas Kafir?

Senyumperawat.com – Banyak perawat muda ingin sekali beriprah hingga kancah internasional. Lowongan kerja ke luar negeri pun terbuka luas. Salah satunya bagi perawat yang sampai hari ini pengiriman perawat ke Jepang tiap tahun diadakan. Namun, apakah sobat sudah paham bagaimana kaidahnya jika seorang perawat muslim ingin bekerja ke negara mayoritas kafir (kafir)?

Ternyata memang tidak bisa begitu saja kita menyimpulkan tidak mengapa bekerja ke negeri semacam itu. Terlebih kita sudah tahu bahwa suatu negeri yang mau dituju sangat sulit untuk melaksanakan ibadah secara terang-terangan. Mungkin bukan rahasia umum bahwa ada sebagian negara yang untuk mengumandangkan adzan saja tak boleh dengan pengeras. Tak sedikit pula kisah TKI yang untuk sholat pun mesti sembunyi-sembunyi. Ada pun yang terang-terangan namun waktunya sering berbenturan dengan jam kerja karena tak ada jam istirahat untuk sholat.

Pedoman bagi perawat muslim bekerja ke negara mayoritas kafir

Seorang muslim yang pindah dari negeri Islam ke negeri kafir bukanlah hijrah, karena yang dinamakan hijrah adalah berpindahnya seseorang dari negeri kafir ke negeri Islam.

Baca juga: Perawat Katolik Masuk Islam Saat Bekerja di Arab Saudi

Pada asalnya, hidup di negeri kafir tidak dibolehkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلْمُسْلِمُ وَ الْمُشْرِكُ لاَ تَتَرَائَى نَارُهُمَا

“Api (dapur) orang muslim dan orang musyrik tidak boleh berdekatan) sehingga satu dan yang lainnya bisa saling melihat.”

Jadi, seorang muslim tidak boleh bertetangga dengan musyrik dengan jarak yang dekat, sehingga nyala api masing-masing bisa saling terlihat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا بَرِيْءٌ مِنْ مُسْلِمٍ سَاكِنِ الْمُشْرِكِيْنَ

“Aku berlepas diri dari seorang muslim yang menempati tempat tinggal kaum musyrikin.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ جَامَعَ الْمُشْرِكَ -أَيْ خَلَطَ- فَهُوَ مِثْلُهُ

“Barangsiapa yang bergaul dengan orang musyrik, maka ia sama dengan orang musyrik tersebut.”

Yaitu, sama dalam hal dosa, bukan dalam kekafiran. Adapun orang yang bepergian ke negeri kafir, kemudian ia tetap hidup di sanan sebagai seorang dai, maka hal ini bisa dibenarkan, dengan syarat dia mempunyai kekuatan dan hidup bersama komunitas muslim lainnya agar diri dan keluarganya serta keturunannya tidak terpengaruh oleh lingkungan orang-orang kafir.

Baca juga: Jadi Perawat di Arab Saudi, Gajinya 21 Juta Plus Bisa Haji Gratis

Sumber: Fatwa-Fatwa Syaikh Nashiruddin al-Albani, Muhammad Nashiruddin al-Albani, Media Hidayah, 1425 H — 2004 M dikutip dari Konsultasi Syariah.

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker