6 Jenis Halusinasi dan Teknik Mengontrolnya

Senyumperawat.com РPengertian halusinasi bisa diartikan sebagai gangguan persepsi dari seseorang terhadap sesuatu. Bisa berupa persepsi bahwa  sesuatu itu sebenarnya tidak ada menjadi seolah ada baginya. Padahal tanpa diawali dengan sebuah stimulasi. Ada 6 jenis halusinasi yang umum diketahui, namun secara prinsip konsepnya sama.

6 Jenis Halusinasi

Berikut ini adalah jenis halusinasi yang mana biasanya cukup variatif pada tiap pasien. Ada yang hanya menderita satu gangguan halusinasi, namun ada juga yang bisa mengalami beberapa di antaranya.

1. Halusinasi Pendengaran

Ditandai dengan mendengar suara, terutama suara-suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.

2. Halusinasi Penglihatan

Ditandai dengan adanya stimulus pengelihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun atau panorama yang luas dan kompleks. Pengelihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.

3. Halusinasi Penghidu

Ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti darah, urin atau feses. Kadang-kadang terhirup bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan demensia.

4. Halusinasi Peraba

Ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh: merasakan sensasi listrik yang datang dari tanah, benda mati atau orang lain.

5. Halusinasi Pengecap

Ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan.

6. Halusinasi Sinestetik

Ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urin.

Baca juga: LP Jiwa Halusinasi

Halusinasi dapat berwujud penginderaan kelima indera yang keliru, tetapi yang paling sering adalah halusinasi pendengaran dan halusinasi pengelihatan (visual) seperti merasa mendengar suara-suara yang mengajaknya bicara padahal tidak ada atau melihat sesuatu yang pada kenyataan tidak ada.

Penyebab Halusinasi

Halusinasi bisa disebabkan oleh banyak hal. Beberapa di antaranya antara lain karena biologis, psikologis atau juga sosial budaya. Secara biologis dapat bermula dari gangguan perkembangan dan fungsi otak serta susunan syaraf-syaraf pusat dapat menimbulkan gangguan realita. Gangguan yang mungkin timbul adalah hambatan dalam belajar, berbicara, daya ingat dan muncul perilaku menarik diri.

Dari sisi psikologis, bisa saja terjadi karena keluarga pengasuh yang tidak mendukung (broken home, overprotektif, dictator dan lainnya). Lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis klien. Sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang kehidupan klien.

Dalam aspek sosial budaya juga sangat berpengaruh. Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita misalnya terjadi kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, dan bencana alam) dan kehidupan terisolasi yang disertai stress.

Baca juga: Prinsip Dasar Perawatan Ruang Isolasi

Dampak Halusinasi

Kalau kita pernah melihat ada orang dengan gangguan jiwa berkeliaran di jalan, kurang lebih seperti itu wujud konkritnya. Banyak sekali hal yang bisa terjadi akibat gangguan halusinasi ini.

1. Kebutuhan fisiologis

    • Nutrisi. Terjadi penurunan berat badan karena klien asyik dengan halusinasinya, terlebih jika halusinasi sudah ke tahap lanjut, maka kebutuhan nutrisi klien akan terganggu karena halusinasi telah menguasai sehingga klien sulit untuk melakukan aktivitas lain untuk pemenuhan kebutuhan nutrisinya.
    • Istirahat tidur. Klien akan mengalmi gangguan dalam kebutuhan istirahat tidur karena klien sangat terfokus pada halusinasinya. Halusinasi akan menguasai klien dan klien akan mengalami kecemasan dan ketegangan dan merangsang RAS (Retikular Activating System ), sehingga klien akan sulit tidur.
    • Aktivitas Sehari-hari. Klien dengan halusinasi penglihatan sulit untuk melakukan aktivitas, baik yang berkaitan dengan perawatan diri maupun aktivitas sehari-hari karena perhatiannya terganggu oleh halusinasi, baik pada tahap awal maupun lanjut ketika halusinasinya telah menguasainya.

2. Kebutuhan rasa aman dan keselamatan

Tahap awal halusinasi klien merasa aman dan nyaman dengan halusinasinya, karena klien beranggapan bahwa halusinasi dapat mengurangi ketegangan yang dihadapinya. Namun pada tahap lanjut klien akan merasa ketakutan karena halusinasi menguasainya.

3. Kebutuhan rasa cinta dan memiliki

Klien mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan ini yaitu dengan membina hubungan interpersonal yang baik termasuk hubungan untuk mencintai dan dicintai karena adanya perasaan curiga dan tidak percaya diri.

4. Kebutuhan harga diri

Klien dengan halusinasi cenderung tidak mampu melaksanakan fungsi perannya dengan baik didasari oleh kegagalan dalam waktu yang lama dan rasa tidak percaya mengakibatkan klien merasa tidak berharga, tidak berguna sehingga harga diri kien rendah.

5. Kebutuhan aktualisasi diri

Umumnya klien dengan halusinasi lihat acuh tak acuh terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Ini dikarenakan klien tidak dapat berhubungan dengan realita sehingga kebutuhan aktualisasi diri tidak terpenuhi.

Dari tiap jenis halusinasi yang dibahas sebelumnya, mungkin saja berdampak sebagaimana tersebut di atas. Oleh karena itu perlu adanya metode untuk mengatasinya. Salah satunya adalah mengontrol halusinasi tersebut. Cara mengontrol tiap jenis halusinasi memiliki konsep yang sama. Akan dibahas di bawah ini.

Cara Mengontrol Halusinasi

1. Menghardik halusinasi

Menghardik halusinasi adalah cara mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dapat dilatih untuk mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak memperdulikan halusinasinya. Jika ini dapat dilakukan, pasien akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul. Ini dapat diajarkan pula oleh keluarga dirumah untuk membantu pasien melatih menghardik halusinasinya.

2. Berbicara dengan orang lain

Berbicara dengan orang lain dapat membantu mengalihkan halusinasi. Ketika pasien berbicara dengan orang lain, terjadi distraksi fokus perhatian pasien akan beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain.

Keluargalah yang sangat berperan penting dalam hal ini, keluarga dapat senantiasa meluangkan waktunya untuk dapat berbicara dengan anggota keluarga yang mengalami halusinasi serta sekaligus memberikan dukungan upaya mengalihkan fokus pasien.

3. Melakukan aktivitas yang terjadwal

Untuk mengurangi resiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukan diri melakukan aktivitas yang teratur. Dengan beraktifitas secara terjadwal, pasien tidak akan mengalami banyak waktu luang sendiri yang sering kali mencetuskan halusinasi. Oleh karena itu, halusinasi dapat dikontrol dengan cara beraktifitas secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam. Dalam hal ini salah satu anggota keluarga dapat membantu membuat jadwal kegiatan pada pasien dan ikut memantau kegiatan yang dilakukan pasien tersebut. Keluarga hendaknya menjelaskan beberapa hal seperti :

    • Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi.
    • Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan pasien.
    • Melatih pasien melakukan aktivitas.
    • Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih. Upayakan pasien mempunyai aktivitas mulai dari bangun pagi sampai tidur malam.
    • Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan memberikan penguatan terhadap prilaku pasien yang positif.

4. Minum obat secara teratur

Minum obat secara teratur dapat mengontrol halusinasi. Pasien juga harus dilatih untuk minum obat secara teratur sesuai dengan program terapi dokter sesuai penjelasan aturan minum obat yang telah dijelaskan perawat saat berobat jalan ke rumah sakit. Pasien gangguan jiwa yang dirawat dirumah sering mengalami putus obat sehingga pasien mengalami kekambuhan. Jika kekambuhan terjadi, untuk mencapai kondisi seperti semula akan membutuhkan waktu. Oleh karena itu, pasien harus dilatih dan dipandu untuk minum obat saat dirumah.

Referensi:

  • Stuart & Laraia. (2001). Principles and Practice of Psychiatric Nursing. USA: Mosby Company
  • Erlinafsiah. (2010). Modal Perawat Dalam Praktik Keperawatan Jiwa, Jakarta: Trans Info Media
  • Dalami, E., Suliswati., Rochimah., Suryati, K, R. & Lestari, W. (2009). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa, Jakarta : Trans Media
Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker