Perjuangan Perawat Muslimah Berhijab di Swedia Menutup Aurat Lengannya

Senyumperawat.com – Luar biasa perjuangan untuk berhijab di negera minoritas muslim. Seperti perawat muslimah berhijab satu ini. Ia yang tadinya dilarang memakai hijab di rumah sakit, kini mendapatkan haknya sebagai muslimah. Ombudsman Swedia memberikan perlindungan atas hak beragamanya dengan memprioritaskan perkara agama di atas hal lain. Sebelumnya, atas alasan higienis, hijab dilarang untuk dipakai oleh perawat muslimah.

Dikutip dari laman Sputniknews (03/10/2017), ada seorang muslimah yang dipekerjakan sebagai perawat di bangsal ibu di Rumah Sakit Södersjukhuset (SÖS) di Stockholm mendapatkan peringatan. Peringatan itu berupa larangan mengenakan pakaian lengan panjang selama menjadi perawat dengan alasan higienis.

Perawat itu kemudian mengajukan satu alternatif. Ia meminta untuk diperkenankan mengenakan lengan seragam sekali pakai. Jadi ia akan tetap bisa menjaga kehigienisan pakaian. Tiap berganti pasien, maka ia akan mengganti lengan seragamnya.

Sayangnya, alternatif itu tetap ditolak. Ia tetap dilarang untuk menutupi lengannya yang merupakan aurat bagi wanita. Kebijakan tetap mengharuskan ia membuka lengan saat bertugas di rumah sakit.

Atas dasar ini, perawat muslimah berhijab tersebut melaporkan rumah sakit ke Kantor Ombudsman Anti Diskriminasi (DO). Laporan tersebut dilatarbelakangi oleh sikap diskriminasi terhadap agama yang diyakininya. Hijab merupakan identitas seorang muslim. Jika untuk mengenakannya saja dilarang, berarti itu termasuk dalam tindakan diskriminasi. Terlebih faktornya hanya karena mengutamakan kehigienisan.

Baca juga: Jilbab Syari Mahasiswi Bidan Digunting Paksa Oleh Dosen

Meskipun rumah sakit mengklarifikasi bahwa semua staf harus bekerja dengan lengan terbuka demi kebersihan dan keselamatan pasien, DO berpendapat bahwa aturan tersebut hanya dibenarkan jika diberi alasan yang masuk akal.

DO memutuskan bahwa tidak ada dalam peraturan Dewan Kesehatan Nasional yang melarang pakaian pelindung sekali pakai, asalkan diganti setiap menangani pasien baru. Perawat muslimah berhijab itu mengklaim pula bahwa SÖS secara sistematis melanggar undang-undang anti-diskriminasi. Hal ini didukung oleh sikap sebagai “tidak menanggung risiko kontaminasi.”

Lengan termasuk aurat

Dari kisah di atas, tampak begitu gigihnya perawat muslimah tersebut mempertahankan auratnya. Ia paham bahwa lengan termasuk aurat. Sehingga tatkala ada kebijakan yang melarang ia menutup lengannya saat bekerja, ia pun menilai itu sebagai diskriminasi.

Baca juga: Seragam Perawat di Somalia Jauh Lebih Syar’i daripada Indonesia

Bagaimana tidak, sebab menutup aurat adalah termasuk bagian dari perintah dalam beragama. Terlebih alasan yang melatarbelakangi hanya masalah kebersihan. Sedangkan perintah Allah untuk menutup aurat jauh lebih tinggi derajatnya dari peraturan rumah sakit tersebut. Sehingga hal itu tak sebanding.

Wajar jika kemudian perawat itu mengajukan satu solusi yang sederhana. Ia akan mengganti lengan seragamnya tiap selesai menangani pasien. Namun solusi itu pun tak diterima hingga akhirnya ia melaporkan pada pemerintah setempat yang menangani hal serupa. Hingga akhirnya banding darinya diterima untuk dipertahankan keyakinannya itu perihal kewajiban menutup aurat.

Sayangnya, lain dengan di Indonesia. Tak sedikit muslimah yang justru begitu mudah membuka auratnya. Lengan dibiarkan tak tertutup dengan baik. Bahkan sebagian, mengenakan seragam yang begitu ketat sehingga membentuk lekuk tubuh.

Satu hikmah yang dapat kita ambil dari kisah di atas adalah betapa muslimah yang paham batasan aurat, harus menjaganya. Walaupun harus menentang sistem dimana ia bekerja, perintah untuk menutup aurat harus diutamakan di atas kepentingan duniawi lainnya.

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker