Alasan Pasien Mesti Diinfus, Komplikasi Apa yang Bisa Terjadi?

Senyumperawat.com – Pernah beberapa kali ada cerita warga kepada penulis terkait pasien di sebuah klinik rawat inap dengan mudahnya diberikan infus. Ada yang berkisah kalau penyakitnya hanya maag tapi begitu saja dipasang infus. Benar atau tidaknya informasi tersebut, faktanya sebagian masyarakat memang perlu mendapatkan edukasi terkait alasan pasien mesti diinfus. Hal ini agar tidak menimbulkan polemik setelah si pasien pulang sebab otomatis ia akan dijenguk lalu ditanya sakit apa. Tak sedikit yang kemudian berkisah pengalamannya selama dirawat.

Pada posisi ini, penting bagi seorang tenaga kesehatan untuk mengedukasi pasien dan keluarga. Menjelaskan setiap tindakan yang akan dilakukan. Termasuk perihal infus ini. Tidak sembarang seorang pasien diberi tindakan infus. Perlu mempertimbangkan banyak aspek terlebih dahulu.

Apa alasan pasien mesti diinfus?

Setidaknya ada 6 alasan pasien mesti diinfus. Dalam beberapa kasus di bawah ini, pasien mesti mendapatkan tindakan baik injeksi intravena atau pun pemenuhan asupan cairan dalam jumlah banyak segera. Termasuk juga ketika untuk mentranfusikan darah. Selengkapnya, indikasi pasien diinfus antara lain:

  1. Pemberian cairan intravena (intravenous fluids).
  2. Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas.
  3. Pemberian kantong darah dan produk darah.
  4. Pemberian obat yang terus-menerus.
  5. Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat)
  6. Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.

Baca juga: Kenapa Diinfus dan Macam-Macam Cairan Infus?

Hal di atas perlu dijelaskan kepada pasien sesuai indikasi pasien tersebut. Tidak harus disampaikan semua hal di atas. Jika kondisi pasien memang hanya memerlukan tindakan untuk pemberian cairan intravena, maka cukup jelaskan tindakan tersebut sebatas alasan kenapa mesti diinfus sesuai kondisi pasiennya. Jika memang dipasang infus untuk pemberian terapi obat intravena maka jelaskan itu sesuai indikasi pula. Termasuk obat-obatan yang akan dimasukkan fungsinya untuk apa.

Komplikasi yang mungkin timbul

Beberapa komplikasi yang mungkin saja bisa terjadi, perlu dijelaskan kepada pasien dan keluarga. Namun, tentunya dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tidak menakut-nakuti. Sekali lagi, gunakan bahasa yang tidak terkesan menakutkan. Hal ini penting agar pasien dan keluarga tetap kooperatif dan tentunya memperhatikan lokasi infus. Tindakan ini agar pasien dan keluarga tidak sembarangan melakukan aktivitas yang justru berpotensi menimbulkan komplikasi itu.

Baca juga: Jangan Asal Pasang Infus, Awas Infeksi Kateter IV

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus antara lain:

  1. Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah.
  2. Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah.
  3. Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar.
  4. Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah.
  5. Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus:
    • Rasa perih/sakit
    • Reaksi alergi

Indikasi pemberian obat melalui infus

Baca juga: Prosedur Standar Injeksi Intravena (IV)

Ada beberapa indikasi pemberian obat melalui jalur intravena. Di antaranya:

  1. Pada seseorang dengan penyakit berat, pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis). Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan obat oral. Namun sering terjadi, meskipun pemberian antibiotika intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius, rumah sakit memberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi. Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada kebanyakan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri, sama efektifnya dengan antibiotika intravena, dan lebih menguntungkan dari segi kemudahan administrasi RS, biaya perawatan, dan lamanya perawatan.
  2. Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. Atau hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik). Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya “polications” dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap melalui jalur gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung.
  3. Pasien tidak dapat minum obat karena muntah, atau memang tidak dapat menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada keadaan seperti ini, perlu dipertimbangkan pemberian melalui jalur lain seperti rektal (anus), sublingual (di bawah lidah), subkutan (di bawah kulit), dan intramuskular (disuntikkan di otot).
  4. Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak—obat masuk ke pernapasan), sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan.
  5. Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.
Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker