Tukar Pengalaman Perawat Haji Indonesia yang Pernah Gagal Mendaftar Jadi TKHI

Tukar Pengalaman Perawat Haji Indonesia yang Pernah Gagal Mendaftar Jadi TKHI

Senyumperawat.com – Menjadi seorang tim perawat haji Indonesia merupakan tugas yang mulia. Mengemban tugas negara di sana untuk menjaga kesehatan para jama’ah yang sedang menjalankan rukun Islam ke-5. Tidak sedikit perawat yang begitu ingin menjadi petugas kesehatan haji. Termasuk juga seorang perawat bernama Hendri Yanti asal Aceh ini.

Sejak menjadi perawat, Hendri Yanti (36) sudah mendambakan pada suatu saat nanti ia bisa menjadi tim perawat haji Indonesia. Impian Hendri Yanti tersebut akhirnya terwujud pada musim haji 2019 setelah ia dipercayakan menjadi petugas haji untuk tenaga kesehatan yang mengawal 393 jamaah Kelompok terbang (Kloter) 4 Embarkasi Aceh.

Muat Lebih

Yanti sapaan akrabnya, sehari-hari bertugas di Rumah Sakit (RS) Kesdam Iskandar Muda, Banda Aceh. Ibu dua anak ini sudah 15 tahun lebih mengabdi sebagai perawat di rumah sakit tersebut.

Selama bertugas di rumah sakit, Yanti sering melihat seniornya terpilih menjadi petugas haji dan hal itu menjadi kebanggan tersendiri bagi mereka. Karena itu, sejak beberapa tahun lalu Yanti dan beberapa rekan seprofesinya terbersit untuk mengikuti tes sebagai petugas haji.

“Ya namanya kami berusaha dan ada keinginan, kalau kita ikut tes kan bisa jadi lulus, bisa jadi ngak. Tapi, kalau kita tidak pernah ikut tes kan sama sekali nggak mungkin lulus,” ujar perawat yang juga anggota Bhayangkari ini.

Yanti pertama kali mengikuti tes petugas haji pada tahun 2015, namun ia gagal terpilih. Pada 2018 lalu, ia kembali ikut tes untuk petugas haji 2019. Namun, dalam seleksi kali kedua ini ia dinyatakan lulus dan terpilih mendampingi jamaah haji ke Tanah Suci. Sejak saat itu, Yanti pun mulai mempersiapkan diri untuk beradaptasi dengan tempat tugas baru dengan cuaca yang bisa dibilang ekstrem.

Untuk diketahui, saat ini suhu di Arab Saudi mencapai 40-43 derajat Celcius. Dengan cuaca yang cukup panas itu, perawat dan dokter dituntut supaya mampu memberikan pelayanan maksimal kepada jamaah.”Mungkin suhu di Arab Saudi musim kali haji ini yang paling panas ya, bahkan katanya bisa mencapai 50 derajat Celcius. Makanya, fisik kita harus betul-betul kuat,” ujar alumni SPK Kesdam ini.

Meski sudah berada di Tanah Suci dan berkesempatan melaksanakan ibadah haji, namun bagi Yanti akan tetap memprioritaskan tugas sebagai pelayan kesehatan. Ia juga berharap di sela-sela bertugas nanti tetap punya kesempatan untuk menunaikan ibadah haji.

“Motto kami kan ‘tugasku, ibadahku.’ Nanti kami akan mengikuti kemana jamaah pergi. Jadi, mungkin melaksanakan ibadah haji tetap bisa, tapi pasti gak semuanya sempat dilaksanakan, yang wajib-wajib saja. Karena kami ke sana kan untuk bertugas,” ujarnya. Selama bertugas di Tanah Suci, Yanti juga harus rela berpisah jauh dengan suami dan dua anaknya yang masih kecil.

Jamaah haji Kloter 4 asal Banda Aceh dan Aceh Besar yang dikawal Yanti mendarat di Jeddah, Sabtu (27/7) pagi waktu setempat. Saat mendarat, seorang jamaah asal Banda Aceh atas nama Radja Radan, sakit hingga harus dirawat di Rumah Sakit King Abdullah, Jeddah. Tentu, hal itu menjadi awal tantangan bagi Yanti dan teman-temannya di Tanah Suci. Di setiap kloter, terdapat lima petugas yang terdiri atas dua perawat, satu dokter, dan dua tenaga nonmedis. (Tribun/Destur)

Pos terkait