Okelah Gaji Perawat di Jepang Lebih Wow dari Menteri, Faktanya di Indonesia Sebaliknya

Senyumperawat.com – Beberapa hari belakangan di media sosial bertebaran link berita yang menyebutkan bahwa gaji perawat di Jepang lebih wow dari menteri. Tak sedikit media berskala nasional memberitakan pula. Disertai dengan pernyataan menteri tenaga kerja yang menyebutkan hal serupa.

Seperti diberitakan media-media tersebut, Menteri Tenaga Kerja M Hanif Dhakiri mengatakan bahwa perawat di Jepang mencapai 20 jutaan. Gaji tersebut diterima bersih sebab biaya hidup ditanggung oleh pemerintah setempat.

“Kalau kayak nurse ya lebih tinggi dari menteri, kisaran Rp 20 jutaan. Untuk skilled worker minimum Rp 20 jutaan,” kata Hanif, di kantornya, Jakarta, 25 Juni 2019 dikutip dari Tempo.

Gaji D3 perawat di Jepang 20 Jutaan

Hal ini diungkapkan oleh Rian Setiawan (23). Ia merupakan perawat yang mengikuti program G to G sehingga dikirim ke Jepang untuk merawat Lansia.

Kedutaan Besar Jepang di Jakarta melepas keberangkatan 329 tenaga medis dan perawat lansia yang akan bekerja di beberapa wilayah di Jepang, Senin, 4 Juni 2018. Perawat yang diberangkatkan ini merupakan gelombang ke-11 dan berasal dari berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Teguh Hendro Cahyono, dikutip dari laman Tempo, Deputi Penempatan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI atau BNP2TKI, pengiriman tenaga perawat ke Jepang berada dalam koridor kerja sama kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang yang dibuka sejak 2008. Berdasarkan perjanjian kerja sama ini, Indonesia bisa memanfaatkan lowongan pekerjaan di Jepang dengan mengirimkan tenaga perawat ke Negeri Sakura tersebut.

Jumlah perawat yang bekerja ke Jepang setiap tahun menunjukkan kenaikan. Hal ini memperlihatkan minat para perawat Indonesia yang tinggi untuk bekerja di Jepang, khususnya menyangkut penghasilan.

“Kalau gaji di tempat saya bekerja sekitar 175 ribu yen atau sekitar Rp.21 juta,” kata Rian Setiawan, 23 tahun, calon perawat panti lansia di Yokohama, Jepang, kepada Tempo 4 Juni 2018.

Rian menceritakan penghasilan yang dia peroleh selama bekerja di Jepang akan digunakan untuk melanjutkan kuliahnya. Sebelumnya, Rian telah menyelesaikan pendidikan D3 di Poltekkes, Kementerian Kesehatan Bengkulu.

Rian dan 328 perawat lainnya akan bekerja di Jepang dengan kontrak kerja selama 3 tahun sampai 4 tahun. Setelah melalui seleksi panjang hampir satu tahun lamanya, mereka akan ditempatkan di rumah sakit dan panti jompo di berbagai wilayah di Jepang, dikutip dari Senyumperawatcom.

Gaji perawat di Jepang untuk Registered Nurse

“Pekerja migran Indonesia yang bekerja sebagai perawat apabila mereka telah lulus ujian perawat bisa memperoleh pendapatan bulanan sekitar 280 ribu yen (setara Rp 35 juta),” ungkap Direktur Pengembangan Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, Roostiawati, pada kunjungan kerja Tim Pengawas Pekerja Migran Indonesia di Tokyo, seperti dilansir dari siaran persnya di Jepang (5/11/2018).

Roostiawati menjelaskan, perawat yang telah lulus ujian nasional Jepang (registered nurse Jepang) bisa bekerja di Jepang sampai dengan pensiun dan diijinkan membawa keluarganya.

“Skema ini merupakan kerja sama antarpemerintah sehingga risiko kerja amat minim. Kerjasama yang tertuang dalam Economic Partnership Agreement (IJ-EPA) telah berlangsung selama 10 tahun,” ujar Roostiawati, dikutip senyumperawatcom.

Fakta gaji perawat di Indonesia

Ketua DPW PPNI Jawa Tengah Edy Wuryanto menyampaikan kesejahteraan perawat masih belum baik. Terutama di sektor pelayanan kesehatan swasta. Hal ini bisa dinilai dari besaran gaji perawat di Indonesia yang terbilang kecil.

“Dari sisi infrastruktur bangunan terus dilakukan perbaikan, tetapi untuk gaji perawat masih rendah, bahkan tidak memenuhi UMR (upah minimum regional). Kemudian kalau dibanding dengan negara lain, gaji perawat di Indonesia jauh tertinggal,” papar Edy, 2016 lalu dikutip dari senyumperawatcom.

Edy mencontohkan, jika dibanding dengan gaji perawat di Thailand, gaji perawat di Indonesia tiga kali lipat lebih kecil. Padahal biaya hidup di Thailand dan Indonesia sama.

Senada dengan pernyataan ketua DPW PPNI Jateng. Dr Andi Khomeini Takdir dalam Twitternya pada 25 Maret 2019 menyebutkan bahwa ia sering mendengar perawat yang digaji 100-300 ribuan sebulan.

Turut juga membahas soal gaji tenaga kesehatan, dr Gamal Albinsaid pun angkat suara. Selasa (19/3/2019) menguak hal ini dalam twitternya. Sebagai seorang dokter, ia juga mengaku pernah berkeliling ke berbagai wilayah di Indonesia. Banyak dokter, perawat dan bidan yang menyampaikan keluhan.Ia mengungkap tentang data pendapatan dokter yang di bawah standar IDI. Juga perawat dan bidan bergaji 200-300 ribu, arsip senyumperawatcom.