Relawan Medis Jadi Korban Kekerasan Polisi, Jangan Meniru Perilaku Israel di Gaza

Senyumperawat.com – Penanganan kericuhan pada aksi 22-23 Mei 2019 di Jakarta diketahui menimbulkan kerugian bagi pihak relawan kesehatan. Seperti diketahui, lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa membenarkan adanya perlakuan represif oleh sejumlah oknum kepolisian atas tim relawan medisnya.

Menurut pakar hukum pidana Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar, tindakan aparat kepolisian itu tidak menghormati misi kemanusiaan sebagaimana mestinya. Seharusnya, dalam setiap peristiwa konflik, relawan kemanusiaan mendapatkan perlindungan. Bahkan, dia mencontohkan, dalam situasi perang dunia sekalipun Palang Merah–sebagai representasi relawan medis–tidak boleh diserang.

“Ini benar-benar tidak menghargai misi kemanusiaan. Dalam perang saja seperti itu ada hukum internasional yang dihormati. Apalagi, ini cuma menjaga unjuk rasa,” ujar Abdul Fickar saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (23/5).

Oleh karena itu, dia menegaskan perlunya membentuk tim imvestigasi oleh Komisi Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Tujuannya untuk mengusut peristiwa penyerangan yang menimpa tim Dompet Dhuafa.

Dia juga menyerukan agar semua pihak dapat menghentikan tindak kekerasan, khususnya sehubungan dengan aksi massa di Jakarta. “Polri diharapkan tidak melakukan tindakan yang represif dan kontra produktif bagi penegakan dan pemenuhan HAM,” ujar alumnus Lembaga Bantuan Hukum Indonesia itu.

Sebelumnya, Abdul Fickar bersama dengan kalangan Alumnni LBH-YLBHI menyerukan agar para demonstran menyampaikan aspirasinya secara bertanggung jawab. Selain itu, pihaknya meminta baik para pengunjuk rasa maupun aparat tidak melakukan perbuatan yang berpotensi melanggar hukum.

Kekecewaan terhadap hasil pemilihan umum disalurkan pada kanal hukum yang tersedia yakni melalui Badan Pengawas Pemilu Umum (Bawaslu) dan Mahkamah Konstitusi (MK). Mekanisme itu, lanjut mereka, disediakan agar demokrasi dapat berjalan secara terarah.

“Patut menjadi perhatian semua untuk melakukan evaluasi sistem pemilihan umum ke depan terutama pemilihan presiden agar berjalan dengan jujur dan adil. Selain itu Presiden Joko Widodo juga kami minta tidak diam saat situasi seperti ini. Berikan kepastian keamanan dan perlindungan,” jelasnya.

Pasukan Israel Tembak Mati Remaja Relawan Medis Palestina

Pasukan Zionis Israel menembak mati seorang relawan medis Palestina selama bentrokan di Tepi Barat yang diduduki pada Rabu (27/3/2019). Hal itu dikatakan oleh Kementerian Kesehatan Palestina.

Seorang pejabat dinas ambulans mengatakan Sajid Muzher (17) tewas di kamp pengungsi Dheisheh dekat Betlehem di Tepi Barat selatan oleh pasukan Israel dalam bentrokan dengan pelempar batu. Korban diidentifikasi sebagai sukarelawan medis dari seragam yang dikenakannya.

Seorang juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan korban ditembak oleh pasukan Israel saat bekerja sebagai sukarelawan medis. Dua korban lainnya mengalami luka-luka dalam bentrokan itu, yang terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di Tepi Barat.

Dalam sebuah pernyataan, Menteri Kesehatan Palestina Jawad Awad mengatakan, pembunuhan yang dilakukan pasukan pendudukan terhadap relawan medis dengan menembaknya di perut adalah kejahatan perang.

Lembaga Bantuan Medis Palestina mengonfirmasi bahwa Muzher bekerja dengan mereka. Dalam sebuah pernyataan, Lembaga Bantuan Medis Palestina mengatakan korban ditembak ketika mencoba merawat salah satu dari mereka yang terluka dalam bentrokan.

Pasukan Israel sering memasuki kamp-kamp pengungsi untuk melakukan penangkapan atau operasi lainnya. Aksi ini sering memicu bentrokan dengan penduduk.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, dalam sebuah pernyataan sangat mengutuk pembunuhan itu. WHO mengatakan remaja itu terbunuh saat memberikan perawatan kepada orang-orang yang terluka.

“Kami sedih dengan kehilangan yang tragis ini. Petugas kesehatan memberikan perawatan kritis dan menyelamatkan nyawa. Perlindungan mereka harus dipastikan,” kata Gerald Rockenschaub, kepala kantor WHO untuk Tepi Barat dan Gaza seperti dikutip dari Asharq Al-Awsat.

Direktur Human Rights Watch, Omar Shakir mengatakan bahwa jika dikonfirmasi, kematian Muzher akan menandai setidaknya empat petugas medis Palestina yang dapat diidentifikasi secara jelas ditembak oleh pasukan Israel pada tahun lalu.

“Pembunuhan ilegal yang dilakukan oleh pasukan Israel secara rutin dan impunitas penuh di Israel menyoroti perlunya Pengadilan Kriminal Internasional untuk membuka penyelidikan resmi atas kejahatan serius yang dilakukan di Palestina,” katanya.

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker