Tak Mungkin Semuanya Jadi PNS, Coba Lirik Peluang Praktik Mandiri Perawat

Senyumperawat.com – Peluang membuka praktik mandiri perawat masih sangat luas. Jiwa kewirausahaan bagi lulusan baru sebaiknya diasah. Hal ini agar tak ada lagi para perawat yang rela menjadi Tenaga Kerja Sukarela (TKS). Perlu pergeseran paradigma bahwasanya pekerjaan itu tak selalu harus berkenaan dengan PNS (Pegawai Negeri Sipil).

Peluang untuk membuka praktik mandiri perawat telah terbuka sejak disahkannya undang-undang keperawatan pada 2014 lalu. Perawat kini sudah dapat membuka praktik keperawatan mandiri dan juga berhak memasang papan nama praktik perawat. Tapi mungkin, belum banyak yang bisa memenuhi syarat-syarat yang harus dilengkapi

Syarat membuka praktik mandiri perawat

Syarat untuk bisa mendapatkan izin praktik mandiri bagi perawat adalah sebagai berikut:

  1. Perawat berpendidikan vokasi dan profesi
  2. Perawat yang memiliki Surat Tanda Registerasi (STR)
  3. Perawat yang memiliki Surat Izin Praktik Perawat (SIPP)

Dari 3 syarat utama tersebut, nomor 2 adalah momok tersendiri. Syarat pertama mungkin masih dirasa mudah. Sebab, jika mereka rajin kuliah dan lulus ujian skripsi insya Allah pasti mendapatkan ijazah dan gelar profesi. Tapi, STR itu bagi sebagian besar perawat adalah dinding penghalang yang menjulang tinggi. Seolah perjuangan kuliah 3 tahun diploma dan 5,5 tahun bagi profesi Ners tak ada gunanya.

Nasib masa depan mereka ditentukan oleh STR, seakan seperti itu. Padahal, persepsi ini mesti diluruskan. Organisasi profesi membuat kebijakan tersebut pasti ada alasannya. Alasan tersebut berkenaan erat dengan kualitas lulusan perawat di Indonesia.

Berkenaan dengan SIPP, tentunya ini berkenaan dengan standar kelayakan pelayanan kesehatan. Mulai dari tempat, sarana dan prasarana dan lain sebagainya. Tergantung regulasi pemerintah setempat. SIPP dikeluarkan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota atas rekomendasi pejabat kesehatan (kepala dinas kesehatan) yang berwenang di kabupaten/kota tempat domilisi atau tempat dimana perawat menjalankan praktiknya.

Syarat untuk mendapatkan SIPP

Berikut ini syarat untuk mendapatkan SIPP bagi teman-teman yang berniat untuk membuka praktik mandiri perawat:

  1. Salinan STR yang masih berlaku dan dilegalisir
  2. Memiliki surat rekomendasi dari organisasi profesi keperawatan (PPNI)
  3. Surat pernyataan memiliki tempat praktik (jika ingin praktik mandiri) atau surat keterangan dari pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan (jika bergabung dengan klinik interprofesi atau klinik kolaborasi)
  4. Pas foto berwarna 4 x 6 sebanyak tiga (3) lembar
  5. Surat sehat dari dokter
  6. Poin 4 dan 5 tidak disebutkan di UU Keperawatan tahun 2014, tetapi ada disebutkan di SK menteri kesehatan RI nomor 1239 tahun 2001 tentang registrasi perawat. Penulis tidak mengetahui apakah SK menteri ini masih berlaku atau sudah dihapus, jadi disiapkan saja semua syaratnya untuk berjaga-jaga.

Perlengkapan standar untuk klinik

Dalam mendirikan sebuah klinik, tentu ada peralatan standar yang diperlukan. Jangan sampai klinik sudah dibuka tapi lupa mempersiapkan stetoskop. Beberapa di antara perlengkapan yang mesti sobat siapkan seperti:

  1. Bangunannya
  2. Perlengkapan untuk tindakan asuhan keperawatan dan kunjungan rumah, antara lain:
  3. Alat untuk mengukur tanda-tanda vital, timbangan, meteran badan.
  4. Alat untuk mengukur gula darah, asam urat dan kolesterol jika ingin menambahkan, tergantung kemampuan finansial masing-masing.
  5. Obat-obatan. Hanya boleh obat bebas dan obat bebas terbatas.
  6. Perlengkapan administrasi. Meliputi formulir catatan tindakan asuhan keperawatan serta formulir rujukan dan formulir persetujuan tindakan keperawatan (inform consent).

Batasan tindakan keperawatan

Perawat tidak sama dengan dokter. Meskipun dalam profesi memiliki kedudukan yang setara. Namuun dalam tindakan medis, ada bagian masing-masing yang tak bisa dilampaui. Untuk tindakan perawat jika mendirikan praktik mandiri, batasannya kurang lebih seperti di bawah ini.

  1. Melaksanakan proses keperawatan antara lain: pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi
  2. Merujuk pasien ke rumah sakit
  3. Memberikan tindakan pada keadaan gawat darurat sesuai dengan kompetensi. Misalnya memberikan bantuan hidup dasar, atau penanganan pertama pada kecelakaan (lebih mudah jika kita sudah mendapatkan sertifikat BTCLS).
  4. Berkolaborasi dengan dokter jika ada kasus yang tidak bisa ditangani sendiri.
  5. Memberikan penyuluhan kesehatan dan konseling
  6. Memberikan obat sesuai resep dokter
  7. Memberikan obat bebas dan obat bebas terbatas.

Reporter: Destur

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker