Kuliah Keperawatan Itu Tak Semudah Karir Tsubasa

Kuliah Keperawatan Itu Tak Semudah Karir Tsubasa

Senyumperawat.com – Sebagian besar pembaca yang lahir di tahun 90-an pasti tak asing dengan film Tsubasa. Ia adalah sosok yang sejak kecil dikisahkan terkenal dengan jargon “Bola Adalah Teman”. Karirnya sebagai pesebak bola sejak kecil dikisahkan selalu penuh dengan tantangan. Tapi, tiap tantangan itu dikemas oleh sang kreator dengan perjalanan yang mulus. Seingat saya, hanya sekali ia kurang mujur tatkala hijrah ke mancanegara. Karirnya sempat kurang mulus karena harus bertengger di tim lapis 2.

Lantas, apa kaitannya dengan keperawatan?

Kuliah keperawatan itu bagi semua mahasiswa pasti menilai tak ada yang mudah. Kalau menilai mudah itu pasti karena takdirnya dia punya karir seperti Tsubasa ^_^. Kalau ada yang masih ingat semasa kuliah di zaman dulu. OSPEK selalu diwarnai dengan beragam atribut yang dinilai lucu. Padahal bagi yang memakainya pasti menilai itu nyeleneh.

Muat Lebih

Tapi ya sudahlah, tiap zaman pasti berbeda nuansa yang dilalui. Ketika kuliah, mahasiswa keperawatan akan dihadapkan dengan beragam hasanah keilmuan. Mulai dari anatomi fisiologi, kegawatdarurat bahkan ilmu kebidanan pun ada.

Nah, masalahnya tak semua mahasiswa pandai soal hafalan

Sudah menjadi rahasia umum bukan kalau kuliah keperawatan itu harus mengandalkan hafalan. Logical thinking sangat penting khususnya untuk memutuskan diagnosis yang membutuhkan analisis. Namun kalimat diagnosis, intervensi, implementasi dan lain sebagainya lebih sering harus hafalan. Ada sebagian dosen yang menilai tugas laporan dari sisi susunan kalimat. Kalau tak sesuai dengan bunyi yang ada dalam literatur, bisa disalahkan atau minimal nilainya kurang.

Itu baru soal bagaimana perkuliahan. Belum lagi jika sudah memasuki masa-masa praktikum. Ada check list tindakan yang harus dikuasai. Lagi-lagi mahasiswa masih harus dihadapkan pada hafalan. Sebab, ini terkait dengan SOP (Standar Operasional Prosedur). Jika saat praktik tidak urut sesuai SOP, bisa-bisa tidak lulus.

Menjadi semakin sulit jika kita punya masalah dalam aspek hafalan. Misalnya dalam memakai sarung tangan saja. Kalau lupa urutan kapan saat memakainya yang tepat, bisa tidak lulus. Seperti contoh saat praktik perawatan luka. Konsepnya harus steril. Jika sarung tangan steril digunakan di awal padahal peralatan belum disiapkan, otomatis akan disuruh mengulangi atau tidak lulus.

Ini yang makin menunjukkan tak semulus karir Tsubasa

Usai lulus, perawat dihadapkan kembali dengan dunia kerja. Sebagaimana tulisan dalam artikel beberapa hari lalu, soft skill menjadi sangat penting. Hanya mereka yang memiliki keterampilan lainlah yang akan mampu bertahan dalam sengitnya dunia kerja.

Lulusan perawat tiap tahunnya mungkin sudah ratusan ribu. Namun lowongan kerja yang terbuka tak mampu menyerap seluruhnya. Terlebih lagi bagi yang sudah didoktrin oleh orang tuanya untuk harus menjadi seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil). Sudah lama pemerintah tidak membuka lowongan PNS bagi perawat. Hal ini berkaitan pula dengan masih banyaknya TKS dan honorer perawat yang belum jelas nasibnya. Walaupun sekarang pemerintah sudah menginisiasi adanya PPPK.

Lain daripada itu, kuliah keperawatan itu akan lebih bisa optimal jika dimanfaatkan pula untuk membantun soft skill. Sekarang perawat sudah diperbolehkan membuka praktik mandiri. Dengan beragam syarat yang sebagian besar menilai merepotkan. Mulai dari STR dan lain-lain.

Maka, mungkin dari sisi karir seorang perawat tak bisa semudah Tsubasa. Sebab itu hanyalah cerita fiktif yang tentunya suka-suka yang membuatnya. Kita sebagai manusia, hanya bisa berikhtiar untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah saja. Selebihnya tawakkal dan mempertebal iman agar tidak terjerumus pada wahana kerja yang menyimpang dari kebaikan.

Sebagai penutup, kita diciptakan oleh Allah untuk beribadah. Maka sebagai lulusan perawat, selalulah niatkan pekerjaan itu sebagai ibadah agar bernilai pahala. Soal karir, gaji dan segala pernik itu memang sangat dibutuhkan untuk sarana kehidupan. Termasuk pula sebagiannya bisa menunjang ibadah. Tapi, yakinlah bahwa rejeki kita sudah Allah atur. Tidak akan pernah tertukar apalagi dikurangi oleh Allah. Hanya mungkin bisa cepat, lambat, melimpah atau sempit itu tergantung pula dari seberapa dekat kita dengan-NYA. (Destur)

Pos terkait