Komentar Pedas Netizen Atas Jawaban Menkeu Saat Ditanya Soal Rokok Bagi Millenial

Komentar Pedas Netizen Atas Jawaban Menkeu Saat Ditanya Soal Rokok Bagi Millenial

Senyumperawat.com – Dalam sebuah diskusi bertajuk Youth Town Hall Nasional, Sri Mulyani menjawab satu pertanyaan tentang harga rokok yang murah. Acara yang digelar pada Kamis (21/3/2019) tersebut dihadiri oleh kalangan millenial.

Dalam satu sesi diskusi, ada salah seorang yang hadir bertanya.

Muat Lebih

“Bu Sri Mulyani, bagaimana caranya mengurangi perokok anak yang saat ini jumlahnya terus meningkat menjadi 9,1% padahal target RPJMN 5,4%, agar anak-anak tidak dapat mengakses rokok? Harga rokok murah,” tanya Kahla Jovial Nisa.

Jawaban Sri Mulyani saat ditanya soal rokok bagi millenial

Menanggapi itu, Sri Mulyani menuturkan, rokok memang memberikan dampak yang buruk untuk kesehatan. Sementara, untuk menguranginya pemerintah memiliki instrumen cukai.

Dia mengatakan, cukai diberikan pada komoditas pada komoditas yang perlu diatur konsumsinya.

“Kita memberikan, melakukan pemungutan cukai bagi komoditas yang diharapkan dikurangi konsumsinya. Makanya metil alkohol, bir, minuman keras, dan rokok,” terang Sri Mulyani.

“Barang apa yang boleh kena cukai harus ditetapkan satu peraturan pemerintah, kalau ada aspirasi plastik kena cukai maka harus masuk undang-undang APBN, membahasnya dengan dewan,” sambungnya.

Sri Mulyani menilai, aspirasi masyarakat agar barang tidak dikonsumsi secara berlebihan maka cukai mesti dinaikkan setinggi-tingginya ialah benar.

Namun, kebijakan cukai mesti mengacu Undang-undang Keuangan Negara dan Undang-undang Cukai. Sebab itu, perlu mencari keseimbangan terkait kebijakan cukai rokok.

Sri Mulyani bilang, untuk mencari keseimbangan ini maka dibahas terlebih dahulu dengan kementerian terkait.

“Setiap policy rokok, kami sebelum menarik Undang-undang APBN kita undang Menteri Kesehatan, Menteri Perindustrian, Menteri Pertanian, dan Menteri Tenaga Kerja. Karena di sisi industri rokok punya dimensi tadi,” ungkapnya.

Selain itu, dalam kebijakan rokok juga mesti menimbang peredaran rokok ilegal.

“Jadi saya harap, saya bisa menjelaskan, saya memiliki simpati besar, keinginan kita mencegah konsumsi rokok anak muda,” tutupnya.

Jawaban tersebut dimuat dalam laman finance.detik.com. Dalam kolom komentar, mayoritas setuju jika rokok tidak dikonsumsi oleh kalangan millenial. Sebagian lainnya lebih setuju jika pabrik rokok ditutup saja. Ada pula yang mempertanyakan perilaku pemerintah yang hanya mengejar pajaknya tapi mengorbankan rakyatnya dengan rokok.

Komentar netizen

“Bikin KARTU SAKTI ROKOK”, tulis Abuya Mutahdi Dimyathi.

“Maaf bu bagi saya masih belum menjawab persoalannya. Intinya karena cukai dari perusahaan rokok tinggi kali ya bu, jadi sayang”, tulis Muhammad Awwab Muhammad Zein.

“Terlalu banyak aturan , sdh lah kalau memang menggangu tutup saja pabriknya , berani ??”, tegas Mr.wd.

“Tergantung kuat2an loby industri rokok melawan pihak yang mendorong pengurangan perokok. Org2 terkaya RI, utamanya karena jualan rokok. Malah ada anekdot keluarga2 kaya dari pengusaha rokok itu malah tidak merokok. Tapi perokok bilang: mereka sudah kaya, bisa banyak pilih kesenangan sedangakan saya terbatas, dan salah satu kesenangan itu, ya dgn merokok :)”, tulis Nutlogic.

“Saya perokok, saya setuju kalo cukai rokok dinaikan. karena persentase pengeluaran rokok dibandingkan pendapatan pada masyarakat menengah kebawah cukup besar. DENGAN MAHALNYA HARGA ROKOK, ADA KEMUNGKINAN SAYA DAN PEROKOK LAINNYA DAPAT MENGURANGI KEBIASAAN MEROKOK ATAU MENGHENTIKANNYA SAMA SEKALI.”, komentar Abu Bakar.

“PEMERINTAH HARUS LEBIH MEMIKIRKAN DAMPAK DARI MEROKOK, DARIPADA MEMIKIRKAN PENERIMAAN PAJAK DARI PRODUSEN ROKOK”, tulis akun Evert Maringka dengan tulisan Caps Lock.

“Simple nya rokok menjadi salah satu pemasukan terbesar, ekonomi berputar, ada yang dikorbankan”, tulis akun Kolor Kolor.

(Destur)

Pos terkait