Cara Mencegah Komplikasi Pemasangan Infus

0
Cara Mencegah Komplikasi Pemasangan Infus

Senyumperawat.com – Tindakan medis yang tidak sesuai SOP, bisa saja menghadirkan komplikasi termasuk adanya komplikasi pemasangan infus. Oleh karenanya menjadi penting untuk diperhatikan bagaimana cara mencegah komplikasi pemasangan infus tersebut.

Tidak sedikit potensi komplikasi yang terjadi saat pemasangan infus. Kadang walaupun sudah berulang kali melakukan pemasangan infus, komplikasi masih terjadi. Misalkan adanya flebitis, hematoma, infiltrasi dan lain sebagainya. Termasuk juga terjadinya emboli udara.

Baca juga:

Potensi terjadinya komplikasi saat pemasangan infus

Berikut ini beberapa komplikasi yang mungkin terjadi ketika infus dipasang pada pasien. Sewaktu masih mahasiswa, mungkin salah satu atau lebih pernah menjumpainya.

1. Hematoma

Pecahnya pembuluh darah saat jarum infus disuntikkan, memang biasa terjadi. Bisa karena sudut kemiringan yang kurang atau momentum sewaktu menyuntikkan kurang baik. Tanda dan gejala hematoma yaitu ekimosis. Pembengkakan segera pada tempat penusukan dan kebocoran darah pada tempat penusukan.

2. Tromboflebitis

Tromboflebitis merupakan adanya bekuan ditambah peradangan dalam vena. Rasanya nyeri tapi terlokalisir, berwarna kemerahan, terasa hangat dan bengkak.

3. Flebitis

Inflamasi vena yang disebabkan oleh iritasi kimia maupun mekanik. Kondisi ini dikarakteristikkan dengan adanya daerah yang memerah dan hangat di sekitar daerah insersi/penusukan atau sepanjang vena, nyeri atau rasa lunak pada area insersi atau sepanjang vena, dan pembengkakan.

4. Infiltrasi

Infiltrasi terjadi ketika cairan IV memasuki ruang subkutan di sekeliling tempat pungsi vena. Infiltrasi ditunjukkan dengan adanya pembengkakan (akibat peningkatan cairan di jaringan), palor (disebabkan oleh sirkulasi yang menurun) di sekitar area insersi, ketidaknyamanan dan penurunan kecepatan aliran secara nyata. Infiltrasi mudah dikenali jika tempat penusukan lebih besar daripada tempat yang sama di ekstremitas yang berlawanan. Suatu cara yang lebih dipercaya untuk memastikan infiltrasi adalah dengan memasang torniket di atas atau di daerah proksimal dari tempat pemasangan infus dan mengencangkan torniket tersebut secukupnya untuk menghentikan aliran vena. Jika infus tetap menetes meskipun ada obstruksi vena, berarti terjadi infiltrasi.

5. Iritasi vena

Kondisi ini ditandai dengan nyeri selama diinfus, kemerahan pada kulit di atas area insersi. Iritasi vena bisa terjadi karena cairan dengan pH tinggi, pH rendah atau osmolaritas yang tinggi (misal: phenytoin, vancomycin, eritromycin, dan nafcillin).

6. Trombosis

Trombosis ditandai dengan nyeri, kemerahan, bengkak pada vena, dan aliran infus berhenti. Trombosis disebabkan oleh injuri sel endotel dinding vena, pelekatan platelet.

7. Occlusion

Occlusion ditandai dengan tidak adanya penambahan aliran ketika botol dinaikkan, aliran balik darah di selang infus, dan tidak nyaman pada area pemasangan/insersi. Occlusion disebabkan oleh gangguan aliran IV, aliran balik darah ketika pasien berjalan, dan selang diklem terlalu lama.

8. Vena spams

Kondisi ini ditandai dengan nyeri sepanjang vena, kulit pucat di sekitar vena, aliran berhenti meskipun klem sudah dibuka maksimal. Spasme vena bisa disebabkan oleh pemberian darah atau cairan yang dingin, iritasi vena oleh obat atau cairan yang mudah mengiritasi vena dan aliran yang terlalu cepat.

9. Reaksi vasovagal

Digambarkan dengan klien tiba-tiba terjadi kollaps pada vena, dingin, berkeringat, pingsan, pusing, mual dan penurunan tekanan darah. Reaksi vasovagal bisa disebabkan oleh nyeri atau kecemasan.

10. Kerusakan syaraf, tendon dan ligament

Kondisi ini ditandai oleh nyeri ekstrem, kebas/mati rasa, dan kontraksi otot. Efek lambat yang bisa muncul adalah paralysis, mati rasa dan deformitas. Kondisi ini disebabkan oleh tehnik pemasangan yang tidak tepat sehingga menimbulkan injuri di sekitar syaraf, tendon dan ligament.

Cara mencegah komplikasi pemasangan infus

Beberapa cara berikut ini bisa diterapkan untuk mencegah komplikasi pemasangan infus. Bisa dikembangkan pula menyesuaikan kondisi di lapangan.

  1. Pastikan alat yang digunakan sesuai dan masih steril.
  2. Karena pemasangan infus berkenaan dengan luka, pastikan arena tempat penusukan infus sudah didesinfeksi.
  3. Perhatikan tempat penusukan jarum infus. Jangan di daerah infeksi, vena yang telah rusak, vena pada daerah fleksi dan vena yang tidak stabil.
  4. Mengatur ketepatan aliran dan regulasi infus dengan tepat.
  5. Ganti lokasi tusukan setiap 48-72 jam dan gunakan set infus baru.
  6. Ganti kasa steril penutup luka setiap 24-48 jam dan evaluasi tanda infeksi
  7. Observasi tanda / reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain
  8. Jika infus tidak diperlukan lagi, buka fiksasi pada lokasi penusukan
  9. Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir
  10. Tekan lokasi penusukan menggunakan kasa steril, lalu cabut jarum infus perlahan, periksa ujung kateter terhadap adanya embolus.

Tinggalkan Komentar