Banyak Sarjana Perawat “Banting Setir” Karena Gaji Tak layak, Lulusan SMA/SMK Dijamin Kesejahteraannya

Banyak Sarjana Perawat "Banting Setir" Karena Gaji Tak layak, Lulusan SMA/SMK Dijamin Kesejahteraannya

Senyumperawat.com – Tidak sedikit sarjana perawat “banting setir” menekuni pekerjaan lain karena nilai gaji tak senilai dengan perjuangan mendapatkan gelar itu. Problem lain karena tuntutan profesi tidaklah sedikit. Mulai dari anggaran untuk mengurus STR dan syarat lain untuk bisa tetap bekerja. Hingga problem ekonomi yang menuntut untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Polemik nilai yang tak setara dengan perjuangan menjadi perawat, belum dilirik sepenuhnya oleh pemerintah. Kondisi tersebut semakin runyam dengan defisit BPJS kesehatan yang akhirnya terbongkar.

Muat Lebih

Kendati sudah terbongkar, bisa-bisanya presiden mengimbau agar hal itu tidak dikeluhkan di media sosial. Padahal alasan kondisi itu diungkap di media sosial karena tak ada ruang dialog dengan pihak pengambil kebijakan. Kondisi tersebut diungkap oleh salah seorang dokter yang videonya sempat viral.

Dalam video berdurasi pendek yang tersebar di media sosial itu, sang dokter dengan penuh perasaan mengungkap kegundahannya. Ia bersama tim telah berulang kali ingin bertemu dengan para pengambil kebijakan. Tapi selalu sulit untuk mendapatkan ruang dialog. Padahal ia memiliki data yang bisa membongkar segala kegagalan sistem yang selama ini diterapkan. Termasuk langkah usulan agar segera teratasi.

Ujung tombak yang jadi tumbal

Di sisi lain, para tenaga kesehatan yang menjadi ujung tombak mengalami dampak luar biasa. Lagi-lagi urusan gaji. Gaji para dokter dan perawat menjadi tertunda. Bukan hanya itu, sampai-sampai ada rumah sakit yang memajang spanduk bertuliskan tunggakan BPJS kesehatan kepada rumah sakitnya. Itu bisa menjadi polemik baru jika akhirnya rumah sakit gagal beroperasi karena tunggakan yang begitu mencengangkan.

Selama ini masyarakat tidak pernah tahu adanya ketimpangan itu. Hingga ketika terlanjur mencuat, tidak dapat lagi dibendung betapa kecewanya banyak pihak.

Hal ini pula yang akhirnya menjadi salah satu alasan para sarjana perawat “banting setir”. Sudah terlanjur meradang dengan sistem yang menjadikan mereka sebagai tumbal. Padahal selama ini mereka digadang-gadang sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan.

Wacana lulusan SMA/SMK yang pengangguran akan digaji

Bagi sebagian besar tamatan sarjana yang juga pengangguran, hal iltu sangat mengganggu. Ada masalah serius di sini. Janji akan dibukanya puluhan juta lapangan pekerjaan tidak terbukti. Namun justru akan menyejahterakan pengangguran. Kurang lebih demikian suasana di media sosial yang sedang hangat dikeluhkan.

Bahkan ada yang sampai menuliskan dengan kalimat psimis. Seolah perjuangan mereka untuk meraih gelar tamatan perguruan tinggi menjadi debu yang terbang begitu saja saat ditiup oleh angin kebijakan yang sekedar ingin mencari suara.

Banting setir untuk membuka pintu rejeki

Tidak salah pula jika para sarjana perawat banting setir mencari jalan rejeki lain. Sebab, secara konsep takdir rejeki itu sudah dituliskan dalam Lauh Mahfuzh oleh Allah. Ia akan diberikan tanpa pernah dikurangi. Seberapa pun nilainya akan dipenuhi hingga menjelang ajal nanti.

Jadi tak perlu khawatir ketika memilih untuk keluar dari zona nyaman. Tidak salah jika Allah memberikan perumpamaan seperti seekor burung. Ia keluar di pagi hari dalam keadaan perut kosong lalu pulang sore hari dalam kondisi perut kenyang.

Banyak ahli tafsir dan ulama mengartikan perumpamaan tersebut sebagai sebuah kepastian dari janji Allah. Siapapun yang berusaha untuk mengetuk pintu rejeki itu, maka ia akan mendapatkannya. Siapapun itu, bahkan orang di luar Islam pun diberikan jatah rejeki sendiri oleh Allah. Namun bedanya, bagi seorang muslim terdapat nilai tambah di dalamnya. Berkah adalah tanda dimana apa yang kita usahakan dinilai mengandung ibadah.

Bagaimana kita pergi untuk bekerja diawali dengan do’a. Lalu ketika mendapatkan hasil pun ditutup sebuah do’a dan sebuah rasa syukur. Yaknilah bahwa rejeki tak akan pernah tertukar. Tinggal kita mau mencari pintu keberkahan atau pintu kemurkaan. Apapun profesinya, apapun gelar akademiknya, pastikan ladang rejekinya halal. (Destur)

Pos terkait