Soft Skill Perawat Adalah Bekal Agar Lulus Tak Jadi Pengangguran

0
Soft Skill Perawat Adalah Bekal Agar Lulus Tak Jadi Pengangguran

Senyumperawat.com – Soft skill perawat adalah salah satu bekal penting setelah lulus. Mengasah soft skill selama di kampus akan membuka peluang lebih besar usai lulus. Dunia kerja berbeda dengan dunia kampus. Kalau mau mencari bahan makalah, semuanya sudah disediakan oleh Mbah Google. Tapi kalau mencari lowongan kerja perawat, tak semudah itu bisa dapat.

Salah satu indikator keberhasilan sebuah institusi pendidikan adalah jumlah lulusannya yang sukses. Kesuksesan tidak selalu berkenaan dengan diserapnya mereka dalam bursa kerja. Tapi juga bisakah mereka menghasilkan lapangan kerja.

Mirisnya, ternyata tak sedikit lulusan keperawatan yang menganggur. Boleh jadi salah satu faktornya adalah soft skill perawat yang belum dikembangkan. Inilah kenapa soft skill itu penting.

Angka pengangguran dapat juga dianggap sebagai salah satu aspek yang mencerminkan permintaan dan penawaran pasar kerja. Dalam proses pembangunan semakin menurun pengangguran maka semakin baik kondisi pasar kerja. Begitu sebaliknya, cara berfikir itu akan tetap berlaku untuk pasar kerja tenaga kesehatan, seperti dokter, bidan dan perawat, analis kesehatan dan sejenisnya (Elfrindi, 2009).

Sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran hard skill. Tak kalah penting juga piawai dalam aspek soft skill-nya. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja. Lebih dari itu adalah kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill).

Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh hard skill. Sisanya 80% oleh soft skill (Direktorat Pendidikan Insitut Teknologi Bandung, 2005).

Pentingnya soft skill perawat

Bagi generasi bidan dan perawat, atau tenaga kesehatan saat sekarang, tantangan akan semakin berat persoalan utama yang di hadapi oleh generasi yang akan terjun ke dunia pelayanan hospitality bussines sector. Mereka masih belum menyadari betapa pentingnya keterampilan dan soft skill. untuk konteks tenaga kesehatan, bidan dan perawat menjadi sangat penting mengingat jumlahnya yang ada saja di seantero nasional tidak kurang sekitar 650.000 orang.

Oleh karenanya mesti ada cara lain agar anak didik, khususnya yang masuk bidang kebidanan dan keperawatan, pada masa depan semakin berani memasuki dunia kerja dan kemudian hidup di dunia yang semakin kompleks. Industry hospitality juga semakin kompleks dan bervariasi (Elfrindi, 2009).

Banyak tantangan berat untuk menjadikan perawat sebagai pekerja profesional dan mendapat imbalan profesi. Saat ini kondisi perawat di Indonesia memang terpuruk. Dibanding rekannya di negara lain, bahkan sesama negara ASEAN, gaji perawat di Indonesia relatif rendah, rata-rata tingkat pendidikannya pun rendah, kebanyakan hanya lulusan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK).

Di sisi lain, pemerintah sendiri juga sedang terpuruk. Jangankan menyediakan anggaran untuk pendidikan, untuk mempekerjakan saja tidak mampu. Akibatnya, tiap tahun sekitar 13.000 orang dari 15.000 lulusan sekolah perawat menganggur karena tidak terserap pasar kerja domestik, meski rumah sakit kekurangan tenaga perawat, keterpurukan kondisi perawat ini menunjukkan bahwa ada ketidakberesan dan kekurangan dalam sumber daya manusia yang kita miliki (unpad.ac.id, 2007).

Apa itu soft skill?

Pengetahuan soft skill tidak lain adalah kemampuan seseorang untuk bisa beradaptasi dan berkomunikasi dengan baik pada lingkungan dimana dia berada. Urgensivitas inilah yang mestinya mendorong lulusan kampus keperawatan mengasahnya. Tentunya pihak kampus juga memiliki peran penting untuk mendidik mahasiswanya.

Dalam manajemen modern ditemukan bahwa suksesnya seseorang tidak hanya ditentukan dari kecerdasan semata, tapi juga soft skill yang dimiliki Hard skills merupakan keterampilan spesifik. Kemampuan mendidik yang mungkin diperlukan dalam konteks tertentu, seperti pekerjaan atau aplikasi universitas.

Sementara soft skills adalah istilah sosiologis yang berkaitan dengan “EQ seseorang” (Emotional Intelligence Quotient), cluster sifat kepribadian, keterampilan sosial, komunikasi, bahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimisme yang menjadi ciri hubungan dengan orang lain (Dikti.go.id, 2010).

Perawat merupakan salah satu profesi yang berhubungan erat dengan penggunaan komunikasi. Komunikasi berperan sebagai salah satu bentuk sarana yang efektif dalam memudahkan peran dan fungsinya dengan baik. Komunikasi merupakan salah satu intervensi dalam pemberian pelayanan keperawatan yaitu dengan pendekatan komunikasi therapeutic.

Perawat yang memiliki ketrampilan berkomunikasi secara terapeutik tidak saja akan mudah menjalin hubungan rasa percaya dengan klien, mencegah terjadinya masalah legal, memberikan kepuasan profesional dalam pelayanan keperawatan dan meningkatkan citra profesi keperawatan serta citra rumah sakit (Bapelkes Batam, 2010).

Perawat dalam memberikan pelayanan akan berhadapan dengan beragam manusia secara langsung di tengah-tengah masyarakat, yang memiliki keunikan tersendiri, Untuk itu perawat di tuntut lebih menguasai keterampilan intelektual, emosional, spiritual serta berfikir positif dalam menghadapi permasalahan kesehatan masyarakat. Sangatlah perlu seorang calon perawat menguasai dan memiliki hard skill serta soft skill yang baik agar dapat di terima di tengah masyarakat dan dunia pekerjaan (Elfrindi, 2009).

Referensi

  • Elfrindi, dkk. (2009). Soft Skills Panduan bagi Bidan dan Perawat. Jakarta:
    Baduose Media.
  • Direktorat Pendidikan ITB. 2005. Sukses Dengan Softskill, (Available at
    https://ditdik.itb.ac.id/soft_skills/, accessed 19 April 2012).
  • Unpad Webblog, (2007). Nasib Perawat: Pendidikan Rendah, Gaji Rendah.
    Di akses 16 april 2012 dalam https://blogs.unpad.ac.id/fik_ceria3/?p=6.

Tinggalkan Komentar