Jangan Tanya Soal Keikhlasan Perawat, Tapi Tanyakan Bagaimana Kesejahteraan Mereka

0
Jangan Tanya Soal Keikhlasan Perawat
Foto: Mahasiswi Akper Stikes Ngudi Waluyo Semarang

Senyumperawat.com – Sah-sah saja ketika ada orang bertanya tentang keikhlasan perawat. Tidak salah pula orang yang mempertanyakan kenapa ada perawat yang mengeluh. Jangan dicibir pula pada mereka yang memberi komentar miring ketika perawat demo. Sebab, mungkin mereka belum pernah menjadi perawat.

Soal keikhlasan perawat, jangan tanyakan masalah itu. Mereka adalah tenaga kesehatan yang rela bangun malam untuk membenarkan aliran infus Anda saat macet. Mereka pula yang dengan rela meninggalkan urusan di rumahnya saat dinas malam. Jadi soal keikhlasan itu sudah mendarah daging. Tak perlu diucapkan sebab ikhlas itu bukan amalan lisan. Tapi itu soal amalan hati. Sehingga jika Anda mendapati pelayanan yang baik, maka itulah rumus ikhlas yang diaplikasikan.

Soal mengeluh ini dan itu, ketahuilah keluhan itu bukan disampaikan kepada pasien. Melainkan karena sistem yang belum pernah memberikan nilai yang pantas bagi yang merasakannya. Ada kewajiban yang mereka emban namun ketika hak tidak sesuai kewajiban itu, maka wajar jika ada unjuk rasa.

Bukan perkara mudah untuk mengukur tingkat kesejahteraan. Lebih tak mudah lagi ketika menjadi bagian yang tidak diperhatikan kesejahteraannya. Sebenarnya semua akan merasakan hal yang sama jika kasusnya seperti ini.

Ketika perawat turun demo

Di sisi lain, sebenarnya miris jika ada tenaga kesehatan melakukan demo. Tapi seolah itu satu-satunya jalan terakhir bagi mereka untuk menuntut hak. Jika memandang dari sisi lain, negara belum mengakomodir semua itu.

Saat mekanisme birokrasi terkesan diabaikan. Ketika proses untuk dialog terasa berbelit-belit dan tak mendapatkan angin segar. Maka memang alternatif terakhir kadang harus diambil. Merupakan bagian dari resiko pula untuk mengungkapkan kebenaran kepada penguasa.

Tidak ada yang salah pada aksi demo. Memang undang-undang membolehkannya. Terlebih itu terkait hak-hak seorang warga negara. Terlebih lagi yang katanya menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di suatu negara.

Keikhlasan yang tak sebanding dengan kesejahteraan

Kembali lagi bahwa istilah ikhlas itu adalah amalan hati. Jadi ketika ada orang berkata “Saya ikhlas”, bukan berarti ia sudah ikhlas. Bahkan mungkin belum bisa ikhlas. Ikhlas bukanlah diucapkan tapi diamalkan dalam hati. Kemudian ditunjukkan dengan perilaku.

Keikhlasan perawat dapat dinilai dari seberapa prima ia memberikan pelayanan. Jika sudah dibuktikan dalam amal perbuatan, maka secara otomatis ikhlas sudah diamalkan oleh hatinya. Jadi jangan tanyakan lagi soal ikhlas jika Anda sudah mendapatkan pelayanan prima dari perawat.

Nah sekarang soal kesejahteraan. Itu yang perlu Anda tanyakan kepada para perawat. Sudahkah mereka sejahtera. Kalau ikhlas tidak bisa diukur dengan matematis, kesejahteraan masih sangat bisa. Memang tiap orang memiliki ukuran yang berbeda namun semua akan sepakat sesuai dengan takaran manusiawi.

Jadi, berhentilah melemparkan kata ikhlas kepada perawat. Sebab, orang yang dirawat mungkin belum tentu bisa menyamai tingkat keikhlasan perawat. Namun perhatikanlah bagaimana kesejahteraan mereka diperhatikan negara. Ketika negera belum mampu membuat mereka sejahtera selaku ujung tombak pelayanan kesehatan, maka entah sampai kapan perawat akan bisa sejahtera. (Destur PJ)

Tinggalkan Komentar