Fungsi Gerakan Sholat Efektif Mengatasi Hipertensi dan Kecemasan

Fungsi Gerakan Sholat Efektif Mengatasi Hipertensi dan Kecemasan

Senyumperawat.com – Fungsi gerakan sholat tidak hanya efektif untuk menenteramkan hati, tapi juga fisik. Sudah banyak yang membuktikan adanya khasiat tersebut. Misalkan dalam kasus hipertensi (tekanan darah tinggi). Dengan menerapkan sholat dengan benar maka besar kemungkinan gerakan sholat efektif menurunkan hipertensi. Begitu juga kecemasan yang mana itu berkaitan dengan psikologis.

Dokter Sagiran dalam bukunya “Mukjizat Gerakan Shalat” menjelaskan bahwa gerakan sholat adalah salah satu terapi komplementer yang efektif. Fungsi gerakan sholat efektif untuk mengendalikan hipertensi. Gerakan shalat, menurut beliau juga mampu menjadi sebuah aktivitas yang kompleks. Di dalamnya terdiri dari aktivitas pikiran, lisan, fisik, dimana semua unsur-unsur tersebut menjadi satu kesatuan. Meskipun energi yang digunakan dalam shalat tidak maksimal akan tetapi hasil maupun manfaat yang ditimbulkan bisa akan lebih besar dari pada aktivitas yang lain.

Muat Lebih

Baca juga:

Oleh karena itu pelaksanaan shalat haruslah dilakukan dengan segenap hati maupun fikiran, lisan mengucapkan do’a dengan khusuk dan badan melaksanakan gerakan di dalam shalat.

Gerakan dalam terapi shalat akan mengaktifkan berbagai sendi yang ada dalam tubuh. Selain itu terapi gerakan shalat menghasilkan efek yang lebih baik dibandingkan dengan menjalani sesi terapi musik klasik karena pada dasarnya mayoritas penduduk muslim lebih nyaman dengan intervensi gerakan shalat dibandingkan harus mendengarkan musik klasik yang selama ini jarang mereka dengarkan.

Fungsi gerakan sholat bagi tubuh

Kalau dikupas satu per satu, maka akan kita jumpai betapa besar fungsi gerakan sholat secara medis. Dimulai dari gerakan awal yakni takbirotul ihram hingga salam. Semua ada kaitannya dengan kesehatan.

a. Takbiratul ihram

Gerakan Takbiratul ihram dilakukan dengan cara mengangkat kedua tangan hingga telapak tangan berada di samping telinga. Selanjutnya tangan diturunkan dan memposisikan tangan bersedekap didepan dada. Untuk beberapa aliran Islam ada kalanya gerakan ini berbeda. Namun secara fungsi, gerakan takbiratul ihram melakukan aktivasi pada sendi siku, sendi bahu, otot lengan, otot jari dan otot leher.

Gerakan dilakukan hingga terasa ada bagian tubuh yang tertarik. Untuk menambahkan efek religius, terapis dapat menyarankan kepada subjek untuk membaca al fatihah dan surat pendek seperti saat subjek sedang beribadah

b. Ruku’

Gerakan ruku’ dilakukan dengan cara mengangkat kedua tangan seperti saat melakukan gerakan takbiratul ihram. Kemudian badan di bungkukkan ke arah depan hingga membentuk sudut ± 90 derajat sembari meletakkan telapak tangan pada bagian lutut.

Gerakan ini mengaktivasi otot paha, otot lutut, otot leher, sendi lutut, sendi pinggang, dan sendi punggung. Gerakan ini juga mengaktivasi rangka tulang belakang sehingga sendi antar tulang seolah-olah tertarik dengan kencang. Gerakan ruku’ juga membantu sendi pada siku untuk berusaha lurus dan menarik otot yang ada pada tangan

c. I’tidal

Gerakan i’tidal dilakukan memposisikan diri untuk kembali berdiri. Gerakan tangan dilakukan sesuai dengan gerakan takbiratul ihram namun diakhiri dengan memposisikan tangan di samping badan. Dalam gerakan i’tidal, rangka tulang belakang di posisi kembali dalam posisi tegak. Efek ini menciptakan stimulus pada pembuluh darah yang ada di punggung untuk mempercepat alirannya karena dari posisi memanjang kembali memendek.

Beberapa sendi yang diaktivasi dalam gerakan i’tidal adalah, sendi pada leher, sendi pada bahu, sendi tangan, sendi pinggang, otot pinggang, rangka tulang belakang dan sendi panggul. Sendi pada lutut serta otot pada paha akan kembali pada posisi semula yaitu dalam kondisi relaks

d. Sujud

Setelah dari posisi berdiri, subjek akan memposisikan diri untuk berada dalam posisi sujud. Dalam agama islam, sujud merupakan bentuk kepatuhan seorang ciptaan kepada sang penciptanya. Dalam melakukan gerakan sujud, sendi lutut akan teraktivasi. Posisi kepala subjek menempel pada alas atau lantai. Dalam dunia medis, gerakan ini akan memberikan asupan darah dan oksigen yang lebih banyak kepada otak. Saat melakukan gerakan sujud, seseorang akan melakukan aktivasi hampir kepada semua organ tubuhnya.

e. Duduk Iftirasy

Duduk Iftirasy atau duduk diantara dua sujud merupakan tahapan dalam gerakan shalat. Dalam posisi ini subjek seolah olah duduk. Telapak tangan di letakkan di paha hingga lengan membentuk sudut ± 90 derajat. Posisi kaki kiri berda di bawah pantat, sedangkan posisi kaki kanan seolah-olah berada disamping paha. Minta agar subjek menggunakan jempol kaki sebelah kanan sebagai tumpuan kaki kanan.

Hal ini pada dasarnya mengadopsi ilmu pengobatan china bahwa pada kaki terdapat sistem syaraf yang berperan dalam penyembuhan peningkatan tekanan darah yang dialami oleh seseorang. Saat otot pada jempol kaki terasa tertarik, dan beberapa organ tubuh lainnya juga terasa ada tarikan, maka gerakan duduk iftirasy sudah dilakukan dengan benar.

f. Salam

Sebelum melakukan gerakan salam, subjek diminta untuk melakukan gerakan sujud sekali lagi dan kemudian bangkit untuk duduk tahiyat akhir. Sendi dan otot yang diaktivasi sama dengan saat subjek melakukan gerakan sujud dan duduk iftirasy. Tahap terakhir adalah melakukan gerakan salam, dalam gerakan salam otot leher dan sendi yang ada pada daerah sekitar kepala diaktivasi untuk menciptakan sensasi nyeri pada bagian leher yang dapat membantu untuk kelancaran peredaran darah di leher.

Gerakan sholat efektif untuk hipertensi dan kecemasan

Penelitian yang dilakukan Purwanto berjudul “Relaksasi Dzikir” mendukung fakta tersebut. Peneltian yang telah dimuat dalam jurnal psikologi Universitas Muhammadiyah Semarang menunjukkan korelasi ibadah dengan penurunan tingkat kecemasan.

Dzikir yang diucapkan secara terus menerus yang disertai dengan keprasahan dan rasa keimanan atas semua takdir yang diberikan oleh Sang Pencipta akan membentuk suatu stimulus untuk bisa mengaktifkan berbagai hormon dalam tubuh yang bermanfaat untuk menurunkan kecemasan.

Sebuah riset yang dilakukan oleh Sudarso, mahasiswa Program Studi Magister Keperawatan Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta membuktikan hal itu. Studi ini menunjukkan bahwa kecemasan yang dialami oleh lanjut usia dapat menurun setelah diberikan intervensi berupa gerakan shalat.

Adanya penurunan kecemasan dari para subjek penelitian dalam mengikuti pelatihan gerakan shalat tidak lepas dari pengaruh edukasi dan pelatihan shalat khusyuk. Pelatihan itu disusun berdasarkan tahapan yang saling berkesinambungan. Sehingga subjek bisa merasakan manfaat dari proses pelatihan yang dilaksanakan.

Penelitian tersebut melibatkan para Lansia (Lanjut Usia). Setelah mengikuti mekanisme yang ditentukan, dari kelompok intervensi mulai mendapatkan:

  1. Ketenangan,
  2. Dapat meredam emosi
  3. Tidak mudah marah,
  4. Dapat tertidur dengan nyenyak meskipun masih sering terbangun karena sesuatu hal
  5. Mengalami berbagai hal positif lainnya.

Begitupun dengan hipertensi. Fungsi gerakan sholat sangat baik bagi kondisi jantung kita. Ada hubungan yang cukup signifikan antara fungsi gerakan sholat dengan penurunan tekanan darah tinggi. Hasil analisa data menggunakan uji Mann-whitney pada tekanan darah diastole (TDD), didapatkan nilai signifikasi sebesar 0,013 < 0,05. Hal ini berarti terdapat perbedaan bermakna antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol. Kesimpulannya bahwa pemberian intervensi gerakan shalat efektif untuk menurunkan tekanan darah diastole (TDD) yang dialami oleh pasien hipertensi.

Referensi:
  • Purwanto, S. (2006). Relaksasi dzikir. Jurnal psikologi Universitas Muhammadiyah Semarang, 18(1), 6-48.
  • Sagiran, (2012). Mukjizat Gerakan Shalat. Qultum Media. Jakarta
  • Sudarso (2018). Efektivitas Gerakan Sholat Terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan Dan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Panti Werdha Mojopahit Brangkal Mojokerto dalam http://repository.umy.ac.id/handle/123456789/25175 diakses pada 28/2/2019.

Pos terkait