5 Pesan Perawat Senior Kepada Capres Prabowo

0
5 Pesan Perawat Senior Kepada Capres Prabowo

Senyumperawat.com – Hiruk-pikuk Pilpres 2019 menjadi satu ajang menyuarakan harapan bagi perawat. Termasuk 5 pesan perawat senior asal Malang ini. Syaifoel Hardy, begitu nama akun media sosialnya. Ia adalah seorang perawat senior alumnus Poltekkes Kemenkes Malang.

Dalam salah satu statusnya, ia menyampaikan 5 pesan perawat untuk mewakili aspirasi dan harapan para perawat Indonesia. Mari kita simak apa saja poinnya.

PAK PRABOWO, KALAU HANYA SOAL MAKAN, KAMI BISA

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wa barakaatuh….

Bapak Prabowo yang saya hormati

Saya seorang perawat senior, asal Malang. Umur sudah berkepala lima. Jadi sudah cukup mengenyam pahit ketirnya kehidupan. Saya orang biasa, bukan caleg, bukan pula pejabat. Jadi, kalaupun Bapak menang nanti di tahun 2019, saya tidak berharap ada perubahan pada diri saya pribadi sebagai rakyat biasa. Tapi hidup saya sebagai warga Indonesia, sama seperti Bapak, tidak boleh berfikir hanya untuk kepentingan diri sendiri. Oleh sebab itu, saya menulis ini. Semoga Bapak bisa meluangkan waktu, guna mengetahu sekilas, tentang kondisi riil anak negeri.

Adalah bukan secara kebetulan, mendiang Ibu Dora Sigar, ibunda Bapak, seorang Perawat, keturunan Manado-Jerman. Setidaknya, lewat didikan beliau, Bapak tahu, bagaimana sejatinya hidup dan kehidupan seorang perawat. Bedanya, Ibunda Dora, besar dalam pendidikan keperawatan di Belanda, yang secara kultural dan sistemnya, jauh lebih mapan ketimbang yang ada di negeri kita. Perawat itu, tugasnya berat Bapak….

Saya ingin bantu berikan informasi kepada Bapak, tentang apa yang terjadi dan menimpa profesional kami, selama tiga dekade ini. Dengan harapan, bisa menjadi bagian dari agenda Bapak (insyaallah terpilih) dalam menata pemerintahan RI, lima tahun ke depan nanti.

Ada 5 hal yang perlu Bapak Prabowo ketahui tentang kesenjangan yang dihadapi perawat Indonesia secara khusus, barangkali profesional di negeri ini pada umumnya.

Pertama, sistem pendidikan

Sistem pendidikan keperawatan di negeri ini, amburadul. Ada D3, Skep, Ners, serta beragam rentetan gelar. Ada Stikes, Akper, Poltekkes, Stikep, Universitas, dan lain-lain. Ironisnya, setiap kali terjadi pergantian sistem, penggede-penggede kita mengubahnya, mengatas-namakan ‘kualitas’.

Padahal, sebenarnya, sangat simple. Kalau kita tidak mampu, cukup ‘Copy paste’ saja apa yang diterapkan oleh negara maju, jika ingin diakui oleh masyarakat internasional. Saat ini, jangankan orang USA, Canada, Australia, serta Timur Tengah. Orang Malaysia dan Singapore saja, heran dengan pendidikan keperawatan di Indonesia. Saya tidak perlu detail jelaskan, karena Bapak nanti akan punya Tim Ahli untuk melihat ini semua.

Kedua, masalah peluang kerja di dalam negeri

Komunitas keperawatan kami, sebenarnya tidak ingin muluk-muluk. Jika pemerintah tidak sanggup mengangkat kami semua jadi pegawai negeri, berikan kami pilihan alternatif. Kami lahir dan besar di negeri ini. Kalau meminta Pemerintah untuk ngasih gaji, sebenarnya apa kesalahan kami? Per tahunnya 41.000 jumlah lulusannya, namun hanya 30% yang bisa terserap oleh lapangan kerja. Lebih dari 25.000 perawat per tahun tidak tahu arah.

Seharusnya, Pemerintah mampu tawarkan solusi. Misalnya, memaksimalkan dunia entrepreneurship di lingkungan kesehatan, perketat aturan industri yang jumlah pegawainya 150 orang lebih untuk mempekerjakan perawat, atau mendukung praktik mandiri yang sudah diundang-undangkan, dan sebagainya.

Ketiga, permudah sistem rekrutmen ke luar negeri

Tidak semua perawat kita ingin kerja di luar negeri. Tapi tidak menolak kenyataan, mereka yang ingin ke luar negeri, perlu diakomodasi.

Himbau para Dubes-dubes kita untuk serius menangani masalah ini, sebagaimana terjadi pada Dubes Filipina, India, yang memiliki kemampuan diplomasi tinggi. Ini penting, karena Indonesia adalah salah satu ‘penghasil’ perawat terbesar ke 4 di dunia (sesudah USA, China, serta India). Permudah pembuatan Passport, perbanyak jumlah PJTKI di daerah, namun resmi, ciptakan pelatihan BLK di daerah untuk kepentingan ini agar perawat Indonesia Bagian Tengah atau Timur tidak perlu repot ke Jakarta.

Mengirimkan perawat Indonesia ke luar negeri ini bukan persoalan penambahan perolehan devisa negara semata. Namun harkat dan martabat bangsa, bisa terangkat. Ke depan, kita Perawat Indonesia, bisa bicara lantang di depan forum-forum internasional sekelas WHO dan UNICEF. Inilah keuntungan Indonesia di mata dunia, sebagai bangsa yang besar.

Keempat, percepat pembentukan Nursing Council

Ssebuah badan independent yang mengatur internal masalah keperawatan di Indonesia. Ketidak-beradaan konsil yang independen ini menyebabkan perawat kita limpang-limpung. Tanpa konsil ini, standard pendidikan keperawatan kita dipertanyakan. Tanpa konsil, sistem registrasinya tidak tertata, serta nasib perawat banyak yang tidak jelas. Ketiadaan konsil inilah salah satu penyebab menderitanya ribuan perawat kita.

Kelima, kalau hanya soal makan, perawat tidak bakal kelaparan Bapak

Sebagai profesional, kami butuh perlakuan konkrit, khususnya dalam lembaga-lembaga resmi Pemerintahan di bawah naungan Kementrian Kesehatan. Walaupun memang sudah ada sejumlah perawat yang jadi Kepala Puskesmas, mungkin juga satu-dua orang sebagai kepala rumah sakit, namun belum maksimal. Beri kami kesempatan, bukan dianak-tirikan. Doktor dan profesor kami juga punya.

Dalam sistem layanan kesehatan pun, jumlah kami paling besar. Kami lah pasukan terdepan di hampir semua sektor kesehatan di negeri ini. Perawat lah yang jemput pasien, dan perawat pula yang ngantar pulang pasien. Dari Posyandu, Puskesmas, klinik hingga RS Pusat type A.

Meski demikian, Perawat Indonesia, begitu ikhlas. Ribuan jumlahnya yang statusnya jadi honor daerah, dengan gaji Rp 150.000 per bulan, tidak berontak. Ada yang lebih dari 10 tahun kerja, tidak berubah status kepegawaiannya. Kenapa? Mungkin satu penyebabnya adalah karena tidak ada perawat yang terlibat dalam pembuatan kebijakan.

Bapak Prabowo yang kami hormati….

Kami sadar, segudang tangungjawab yang Bapak pikul. Selakhsa tugas yang harus Bapak panggul. Di tengah santernya issue-issue yang miring tentang niat mulia Bapak dalam membangun negeri ini, ribuan perawat, di dalam dan di luar negeri, tetap setia mendukung Bapak, demi Indonesia yang berkemajuan. Kami ingin bangsa ini berubah.

Kami sangat mengerti, ketika Bapak berbuat kebenaran, semua orang akan suka. Namun, giliran Bapak menyuarakan kebenaran, jutaan orang yang menantang. Jadi, jangankan Bapak yang hanya manusia biasa. Rasulullah Muhammad SAW saja, yang sudah dijamin surganya saja, banyak yang benci hingga mengancam. Itulah kodrat kita.

Last but not least, …..

Kami butuh seorang Leader yang tegas. Kami pilih Bapak, bukan karena Bapak berlatar belakang militer dengan disiplin tinggi, kaya, dan pernah berjuang di medan pertempuran saja. Yang lebih penting adalah, Bapak Prabowo, putera seorang Perawat.

Semoga Bapak diberikan kekuatan, iman dan Islam, ketegaran dalam menghadapi segala ujian, serta selalu diberikan kesehatan, oleh Allah SWT.

Salam hormat dari Malang.

Malang, 17 November 2018
SYAIFOEL HARDY

Tinggalkan Komentar