Potret Perawat Bercadar di Rumah Sakit Pakistan

Senyumperawat.com – Jika Anda melihat ada perawat pakai hijab, itu mungkin sudah biasa. Namun bagaimana ketika Anda melihat ada perawat bercadar. Mungkin di satu sisi Ada yang memuji. Tapi kalau konteksnya di Indonesia, mungkin akan lebih banyak yang penuh tanya. Bagaimana cara mereka memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien?

Terlepas dari beragam tanggapan itu, sebagai seorang perawat bercadar memang harus memahami banyak aspek. Mulai dari aspek religiusitas yakni batasan aurat, mahram dan lain sebagainya. Kemudian ketika dikaitkan dengan pelayanan kesehatan, juga harus paham tentang mekanisme penularan penyakit dan yang berkenaan dengan itu.

Selanjutnya, tidak kalah penting adalah kebijakan instansi kesehatan tempat ia bekerja. Ini yang seringnya menjadi kendala berarti. Tidak sedikit instansi kesehatan yang melarang seorang perawat muslimah mengenakan hijab yang besar. Apalagi ini cadar.

Dilema perawat bercadar di Indonesia

Tidak banyak memang kampus kesehatan di Indonesia yang memperbolehkan mahasiswinya bercadar. Namun ada pula yang tidak mempermasalahkan hal demikian karena batasannya masih terukur. Ia masih dalam proses pendidikan, belum masuk ke ranah pelayanan publik.

Masalah itu baru akan mereka dapati ketika memasuki ranah publik. Regulasi pelayanan kesehatan di banyak pusat pelayanan kesehatan sudah diatur sesuai kebijakan yang berlaku. Termasuk untuk urusan perawat bercadar. Kondisi ini lebih erat kaitannya dengan bagaimana seorang pemberi pelayanan kesehatan harus menampakkan wajahnya kepada pasien.

Meskipun sebenarnya, kebijakan ini pun berbenturan dengan kebijakan bolehnya menggunakan masker. Ketika dipertanyakan soal itu, pasti larinya kepada standar atribut medis. Masker dianggap sebagai salah satu alat pelindung diri yang terstandar medis. Sedangkan cadar bukan.

Akhirnya perawat bercadar menyiasati dengan masker

Begitulah adanya. Memang menggunakan masker sudah cukup untuk menutupi sebagian wajah. Namun bagi seorang muslimah bercadar yang memahami regulasi cadar secara umum, akan terlalu meributkan soal itu. Meskipun jika dari esensi memiliki fungsi yang serupa. Tapi apa boleh buat karena regulasi instansi kesehatan memberikan batasan yang demikian.

Di sisi lain, sebagai orang yang tidak berkecimpung di dunia medis mestinya lebih berbesar hati. Mengenakan cadar itu adalah pilihan dari jalan keislamannya. Seperti halnya banyak wanita muslimah yang tidak berhijab, mereka memilih untuk tidak mematuhi aturan Allah.

Tapi memang benar sabda Rosulullah, Islam akan kembali asing. Bukannya sibuk mengomentari yang belum berhijab, tapi umumnya akan menyoroti yang bercadar.

Coba tengok potret perawat bercadar di Pakistan

Faktanya, dengan cadar pun masih dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan baik. Di beberapa negara islami, tidak ada pelarangan bagi perawat bercadar. Mereka masih dapat mengenakan cadar dalam aktivitas publik memberikan perawatan.

perawat bercadar
Seorang perawat bersiap untuk memberikan suntikan antibiotik kepada seorang gadis muda Pakistan yang menderita diare setelah mengevakuasi daerah banjir, di rumah sakit di Sukkar, provinsi Sindh, Pakistan selatan, Sabtu, 21 Agustus 2010. (Foto AP/Kevin Frayer/Senyumperawat.com)

Sebagai seorang perawat bercadar, menjaga aurat adalah harga mati. Di sisi lain, sebenarnya pelayanan kesehatan masih tetap bisa diberikan dengan baik. Jika memang ada regulasi dari sebuah instansi yang melarang, yakinlah bahwa rejeki tidak berasal dari satu pintu saja. Banyak pintu rejeki yang mungkin belum diketuk agar terbuka.

Tags

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Komentar

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker