Lagi-Lagi Perawat Jadi Tumbal Karena Kesalahan Manajemen RS

0
Lagi-Lagi Perawat Jadi Tumbal Karena Kesalahan Manajemen RS
Direktur RSU ketika menerima aksi demo honorer di rumah sakit, Senin (21/1/2019)

Senyumperawat.com – Istilah perawat jadi tumbal memang terkesan kasar. Namun memang tidak sedikit perkara yang akhirnya terjadi seperti itu.

Berbagai kalangan menyesalkan penetapan dua perawat honorer RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh sebagai tersangka dalam kasus dugaan salah suntik yang kemudian menjadi penyebab kematian pasien, tahun lalu. Protes terhadap itu kemarin juga diwarnai demo para honorer RS tersebut yang meminta rekannya yang sudah dijadikan tersangka dibebaskan karena dinilai bukan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Para penanggap proses kasus itu menyatakan tetap menghormati hukum, namun pengusutannya diharapkan tidak berhenti pada kedua perawat honorer yang hanya menerima upah Rp 1 juta sebulan itu. “Mereka hanya honorer. Kenapa mereka saja yang jadi tersangka,” kata Rona Julianda, Staf Sosial Masyarakat Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Keperawatan Indonesia (Ilmiki) Aceh.

Rona berpendapat, berdasarkan kronologi dan fakta-fakta yang terungkap, seharusnya banyak pihak yang bertanggung jawab pada kasus itu. Sebab, dalam peristiwa itu ada dokter, kepala ruangan, pejabat berwenang, bahkan manajemen RSUD Cut Nyak Dhien Meulaboh, yang bertanggung juawab terhadap pelayanan pasien.

Respon ketua DPRDK Aceh Barat

Sependapat dengan Ilmiki, Ketua DPRK Aceh Barat, Ramli SE juga menyatakan dalam kasus ini yang ikut bertanggungjawab adalah manajemen rumah sakit. “Ketika tim DPRK turun ke RSUD Cut Nyak Dhien pada malam itu, yang bertugas di ruang itu semuanya tenaga honorer, tak ada satu pun PNS di ruang itu,” kata Ramli.

Kita setuju bahwa dalam kasus itu jangan hanya melimpahkan tanggungjawab kepada dua perawat honorer yang secara prosedural mereka tak memiliki wewenang apa-apa kecuali menjalankan perintah atasan. Jadi, karena menjalankan perintah atasan, tetntu mereka tak harus menjadi pihak yang paling bertanggungjawab.

Kemudian, praktik seperti yang terjadi di RSUD Meulaboh itu juga terjadi di hampir semua rumah sakit, termasuk rumah sakit rujukan. Di hampir semua rumah sakit, paling sering pasien yang masuk ke IGD itu ditangani oleh para pihak yang tak berwenang serta tak tidak bisa diminta tanggung jawab jika terjadi “kecelakaan” seperti yang menimpa dua perawat honorer di ibu kota Kabupaten Aceh Barat.

Problem manajemen pelayanan RS

Selain perawat honorer, yang paling sering melayani pasien di IGD-IGD banyak rumah sakit umum adalah para “dokter magang” atau dokter muda yang sedang menjalani koas (ko-asisten). Jadi dia benar-benar tidak punya kewenangan, selain mengikuti dan membantu dokter. Namun, faktanya para dokter koas itulah yang selama ini paling sering menangani pasien, termasuk ke ruang perwatan. Celakanya lagi, para dokter koas sering masuk ruang perawatan pasien tanpa dokter pembimbingnya.

Jadi, kita berharap apa yang menimpa dua perawat honorer di RSUD Meulaboh menjadi pelajaran bagi semua dokter dan manajemen rumah sakit agar tidak ceroboh dalam memberi pelayanan kepada pasien. (Destur/Tribunnews)

Tinggalkan Komentar