Faktanya, Urgensi Perawat Kurang Dihargai di Indonesia

0
perawat kurang dihargai

Senyumperawat.com – Urgensi perawat kurang dihargai di negeri ini. Bukan soal bagaimana sikap pemerintah terhadap perawat. Namun lebih dari itu, yakni kebijakan yang tidak pro pada kesejahteraan perawat.

Selama ini, kita pahami bahwa profesi perawat menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan. Tapi dengan segala macam resiko yang dihadapi itu, selama ini belum ada kebijakan yang benar-benar bijak untuk mengangkat harkat hidup perawat.

Rumah sakit di luar negeri lebih menghargai tenaga perawat Indonesia dibanding negara sendiri. Perbandingannya pun bagai langit dan bumi.

Perawat lebih dihargai di luar negeri

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadillah mengungkapkan, pihaknya sudah mengirimkan 1000 perawat ke Jepang. Di sana mereka dibayar Rp 18 hingga Rp 30 juta per bulan, dikutip dari berita JPNN.

Begitu masa kontraknya habis dan harus pulang ke Indonesia, gajinya terjun bebas di bawah upah minimum provinsi (UMP).

Alhasil sebagian besar perawat alih profesi jadi penerjemah bahasa Jepang secara online.

“Perawat Indonesia yang bekas kerja di luar negeri ogah jadi perawat lagi. Mereka lebih memilih jadi penerjemah bahasa asing di online. Gajinya bisa mencapai Rp 12 sampai Rp 15 juta,” terang Harif dalam taklimat media di Jakarta, Kamis (15/3).

Para perawat yang mau bertahan dengan profesinya, lanjutnya sangat kecil. Walaupun gaji kecil tetap mengutamakan pengabdian.

Karena itu, kata dia, pemerintah harusnya memerhatikan kesejahteraan perawat. Jangan biarkan perawat terus didiskriminasi.

Oleh karena segala macam sebab itulah, tidak aneh jika kita simpulkan bahwa perawat kurang dihargai di Indonesia.

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.