Status Perawat Bukanlah Pembantu Dokter

0
Status Perawat Bukanlah Pembantu Dokter
Foto: CBS News

Senyumperawat.com – Status perawat oleh sebagian pihak masih disangka sebatas pembantu dokter. Padahal sejatinya persepsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Kita mesti lebih jeli dalam memandang status perawat. Hal ini dikarenakan profesi perawat adalah tenaga profesional.

Berikut ini adalah tulisan dari seorang blogger Tribun yang menyajikan tanggapan terkait hal tersebut. Ia adalah Joko Gunawan. Tulisannya yang berjudul “Perawat Bukanlah Pembantu Dokter” dimuat pada 20 Januari 2016. Mari kita simak bagaimana sebenarnya status perawat, apakah sebatas pembantu dokter?

Perawat Bukanlah Pembantu Dokter

Banyak pihak yang sering salah mengartikan tentang arti sebuah profesi perawat. Dari mulai pembantu dokter sampai menganggap perawat sebagai dokter.

Perlu diketahui bahwa perawat adalah perawat. Dalam kamus bahasa Indonesia, perawat memiliki arti orang yang mendapat pendidikan khusus untuk merawat, baik yang sakit maupun yang sehat. Perawat adalah sebuah profesi yang setara dengan profesi kesehatan lainnya termasuk dokter. Tidak ada yang perlu merasa paling tinggi atau paling rendah.

Walaupun terkadang banyak fenomena profesi kesehatan lainnya yang merasa lebih tinggi dari yang lain. Dalam hal ini ada beberapa poin penting yang perlu digarisbawahi mengenai perawat.

Pertama, jika bicara masalah perawat, kita bicara masalah keperawatan atau caring.

Sebagaimana diatur oleh UU no 38 thn 2014 tentang Keperawatan. Pada pasal 1 menjelaskan, “keperawatan adalah kegiatan pemberian asuhan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat baik dalam keadaan sakit maupun sehat.” Tentu berbeda dengan dokter yang berhubungan dengan pengobatan, medication.

Kedua, kita tidak perlu membicarakan masalah posisi kita lebih tinggi atau lebih rendah antar sesama profesi kesehatan.

Karena kita bekerja secara interprofesional, kolaborasi untuk memberikan pelayanan yang baik kepada pasien. Coba bayangkan jika perawat tanpa dokter, rasanya tidak mungkin pelayanan akan berjalan optimal, apalagi dokter tanpa perawat. Hal ini dikarenakan perawat yang standby 24 jam dirumah sakit, perawat juga yang membangunkan dokter saat jaga malam jika ada pasien. Dan Perawat yang melakukan tugas-tugas yang didelegasikan oleh dokter. Namun perlu ditekankan sekali lagi, perawat bukanlah pembantu dokter.

Ketiga, coba bayangkan jika saudara menjadi pasien

Perawatlah yang mengingatkan untuk minum obat dengan dosis dan waktu yang tepat, perawat yang mengingatkan saudara hari apa sekarang, siapa nama saudara, perawat juga yang memonitor tanda-tanda vital, mengobservasi bahwa kesehatan saudara mulai mengalami peningkatan. Jadi cukup kita melihat sisi baik perawat.

Keempat

Perlu ditekankan bahwa diluar negeri, bukan di Indonesia, ada yang namanya APN (Advanced Practice Nurse) atau perawat yang sudah ahli yang sudah memiliki sertifikasi dan layak untuk memberikan obat kepada pasien dalam kondisi apapun, kapanpun, dan dimanapun.

Namun jelas di Indonesia kita cuma ada Perawat S1 dan D3, bukan APN. Jadi bukan wewenang perawat Indonesia memberikan obat kepada pasien.

Kelima, banyak sekali masyarakat yang ada didaerah pedalaman Indonesia yang menganggap perawat adalah dokter.

Hal ini dikarenakan mungkin kurangnya dokter didaerah pedalaman walaupun sudah diberlakukan sistem dokter PTT. Disisi lain, hal ini perlu diluruskan, arti perawat di lokasi setempat harus memberitahukan kepada masayarakat akan eksistensi perawat itu sendiri. Bukan merasa bangga dipanggil dokter atau dokter kecil sehingga seenaknya memberikan resep obat kepada masyarakat.

Akan tetapi, perlu diketahui juga bahwa perawat bisa memberikan pengobatan yaitu saat keadaan darurat, dan saat keadaan dimana tidak ada dokter di lokasi pelayanan sewaktu pasien membutuhkan. Dari beberapa poin diatas bisa diketahui tentang makna dari perawat itu sendiri. Namun ada baiknya jika perawat, dokter, farmasi, dan profesi lainnya duduk bareng membahas suatu kasus bersama sehingga jelas deskripsi tugas masing-masing profesi.

Sehingga tidak ada namanya area abu-abu yang kemudian saling menyalahkan satu sama lain tanpa ada solusi.

Penulis: Joko Gunawan
Editor: Destur
Source: Tribunnews

Share

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.