Pertolongan Pertama Henti Jantung Pada Anak

0

Senyumperawat.com – Pertolongan pertama henti jantung pada anak memiliki konsep yang serupa dengan orang dewasa. Namun teknik penerapannya yang mesti disesuaikan dengan anatomi fisiologi anak. Hal ini untuk mengurangi resiko cedera. Sulit dibayangkan jika teknik RJP (Resusitasi Jantung Paru) pada orang dewasa diterapkan pada anak.

Resusitas Jantung Paru (RJP) adalah upaya yang dilakukan dengan teknik tertentu untuk memberikan bantuan hidup dasar kepada pasien henti jantung dan henti nafas. Tindakan ini adalah bertujuan untuk mengupayakan jantung berdenyut kembali dan nafas spontan pasien tersebut. Tentu saja dengan izin Allah.

RJP dibagi dalam dua tindakan umum. Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan Bantuan Hidup Lanjutan (BHL). BHD adalah suatu tindakan resusitasi tanpa menggunakan alat atau dengan alat yang terbatas seperti bag-mask ventilation. Sedangkan pada BHL menggunakan alat dan obat resusitasi sehingga penanganan lebih optimal.

Tujuan utama pertolongan pertama henti jantung

Tujuan akhir RJP adalah kembalinya sirkulasi spontan yang normal atau disebut return of spontaneous circulation (ROSC) dan tidak adanya gangguan neurologis pasca henti jantung. RJP meliputi pembebasan jalan napas (airway),melakukan bantuan napas (breathing) dan mempertahankan suplai darah yang adekuat dalam tubuh (circulation).

Airway

Pasien anak yang mengalami kondisi tidak sadarkan diri, lidahnya akan berpotensi jatuh ke belakang dan dapat menyebabkan sumbatan jalan napas. Tindakan untuk mengatasi hal ini adalah dengan membuka jalan nafas. Teknik yang bisa digunakan adalah dengan head tilt dan chin lift. Untuk pasien yang mengalami kecelakaan misalkan yang diindikasi adalah cedera bagian servikal (tulang belakang di daerah leher hingga tengkuk), gunakan teknik Jaw Thrust.

Untuk mempertahankan terbukanya jalan napas, dapat dilakukan pemasangan alat Oropharingeal Airway (OPA) dan selang Nasopharingeal Airway (NPA). OPA dengan ukuran tertentu digunakan pada pasien tidak sadar, jika terlalu kecil lidah akan tetap terjatuh ke belakang sedangkan jika terlalu besar akan menyumbat jalan napas.

Breathing

Untuk menilai ada tidaknya pernapasan harus dilakukan segera, jangan lebih dari 10 detik. Gunakan teknik yang disebut dengan:

  1. Look. Lihat pergerakan dinding dada atau perut. Apakah ada pergerakan yang menandakan bahwa ia bernafas.
  2. Listen. Dengarkan apakah terdengar suara nafasnya. Dekatkan telinga pada lubang hidungnya.
  3. Feel. Rasakan hembusan nafasnya apakah ada atau tidak.

Teknik di atas dilakukan dalam satu kali gerakan. Anda dekatkan kepala Anda pada bagian bawah hidung korban. Posisi kepala menghadap ke dadanya untuk melihat pergerakan dada. Posisikan telinga dekat hidungnya untuk mendengar suara dan merasakan hembusan nafas.

Penolong harus melihat gerakan pernapasan dada maupun abdominal, mendengar suara napas pasien melalui hidung dan mulut, dan merasakan udara pernapasan yang keluar pada pipi penolong. Jika anak bernapas dan tidak ada riwayat trauma sebelumnya, tempatkan pasien pada posisi stabil untuk menjaga jalan napas dan menurunkan risiko aspirasi. Jikta tidak bernapas (gasping) pertahankan jalan napas dan berikan 2 kali bantuan napas.

Pada anak <1 tahun, gunakan teknik mouth-to-mouth and nose (mulut ke mulut dan hidung), anak >1 tahun berikan mouth-to-mouth (mulut ke mulut). Hindari pemberian ventilasi yang berlebihan karena dapat menyebabkan tension pneumotoraks akibat tekanan berlebihan. Bisa juga menyebabkan regurgitasi lambung karena saat ventilasi udara dapat masuk baik ke paru ataupun ke lambung. Serta dapat pula menyebabkan berkurangnya curah jantung akibat peningkatan tekanan intratorak sehingga aliran balik darah ke jantung (venous return) berkurang, hal ini dapat memeperburukan kondisi anak.

Circulation

Penilaian sirkulasi dilakukan dalam 10 detik dengan meraba pulsasi arteri brakialis (pada bayi) dan arteri karotis dan femoralis pada anak. Jika frekuensi nadi kurang dari 60 kali per menit (kpm) dan pada anak terlihat tanda perfusi kurang (pucat dan sianosis), kompresi dada dapat dimulai. Jika frekuensi nadi di atas 60 kpm tetapi anak tidak bernapas, lanjutkan bantuan napas tanpa kompresi dada. Bantuan napas diberikan 12-20 kpm (1 pernapasan tiap 3 sampai 5 detik) sampai pasien bernapas spontan.

Kurang lebih seperti itu gambaran cara memberikan pertolongan pertama henti jantung pada anak. Untuk urutan cara yang sesuai dengan regulasi internasional. Dapat disimak melalui video. Urutan pemberian pertolongan pertama henti jantung pada anak sama dengan pada dewasa. Dimulai dari C-A-B, jadi untuk perkara sirkulasi lebih diutamakan untuk diatasi terlebih dahulu. Baru kemudian Airway dan Breathing.

Referensi

  • Jackson, M & Jackson L, 2011. Seri Panduan Keperawatan Klinis. Penerbit Erlangga: Jakarta
  • Yuniar, Irene. 2014. Bantuan Hidup Dasar pada Anak. KALBEMED: CDK-220/vol. 41 no.9,th.2014
  • Spesialis1.ika.fk.unair.ac.id

Tinggalkan Komentar