Ibu Hamil dengan Resti (Resiko Tinggi)

0

Senyumperawat.com – Ibu Hamil dengan resti (resiko tinggi) adalah istilah yang sudah tidak asing bagi seorang ibu. Secara umum dapat diartikan dengan adanya resiko tinggi bagi seorang ibu yang sedang hamil. Resiko tinggi itu ada beberapa macamnya. Untuk lebih luas lagi, di bawah ini kami salinkan penjelasan yang telah ditulis oleh salah seorang blogger bidan, tujuhnovember.wordpress.com.

Ibu hamil dengan resti, apaan sih itu?

Kok kayanya nyeremin banget khususnya buat para bidan. Apalagi kalo datang calon partus dengan resti, kok kayanya para bidan ga mau nolong sendirian. Emangnya ada apa?

Yupyupyup karena resti adalah singkatan dari resiko tinggi hehe. Jadinya ibu hamil apalagi ibu bersalin dengan resiko tinggi jadi pantauan dan perhatian penuh para bidan.

Yang gimana sih yang resti itu?

Yang pasti resti itu ada 5 T yang keterlaluan hehehe:

  1. T yang pertama adalah terlalu muda.

    Maksudnya usia ibu saat pertama kali melahirkan terlalu masih muda. yaah seumuran anak-anak SMP 13 tahun – 20 tahun.

  2. T yang kedua adalah Terlalu tua.

    Terlalu muda aja ga boleh, apalagi terlalu tua. Kasian dong yah udah 40 tahunan tapi masih bersalin. Cape buibu. Maksimal ibu hamil dan bersalin adalah 35 tahun.

  3. T yang ketiga adalah terlalu dekat.

    Terlalu dekat jarak hamil dan bersalin si ade dan si kakak juga berbahaya loh. Sistem reproduksi yang baru saja pulih atau mungkin belum pulih betul dan tiba-tiba harus berubah lagi bisa membahayakan kesehatan ibu dan calon janin. Coba bisa diatur jarak anaknya minimal 2 tahun.

  4. T yang keempat sekaligus yang kelima adalah Terlalu banyak dan sering.

    Terlalu banyak punya anak dan terlalu sering melahirkan bisa berbahaya loh. hasil konsepsi yang siap untuk menempel di rahim akan mencari bagian rahim mana yang belum pernah ‘ditempeli’ zygot sebelumnya dan terdapat banyak pembuluh darah. kalau terlalu sering dan banyak maka tingkat terjadinya plasenta previa mau yang manapun macamnya bisa meningkat.

Screening kehamilan

Kenapa para bidan sudah melakukan screening awal dan ancang-ancang kalau ada bumI l atau bulin resti? Karena sebagai bidan, kita harus bisa meminimalisir AKI (Angka Kematian Ibu) dan AKB (Angka Kematian Bayi) yang paling sering bersumber dari bumil (ibu hamil) dan bulin (ibu bersalin) resti ini. Jadi, bidan sudah bisa menentukan apakah persalinannya layak untuk dilakukan di PONED (Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar) atau rumah sakit.

Biasanya, patologis yang sering terjadi karena si 5T ini adalah retensio plasenta dan atonia uteri. Retensio plasenta adalah tidak lepasnya plasenta lebih dari 30 menit setelah bayi keluar. Juga berpotensi terjadinya Atonia Uteri. Atonia uteri adalah kontraksi uterus (rahim) ibu yang kurang atau tidak ada pasca salin.

Kalau diruntut jadinya seperti ini:

Ibu bersalin -> bayi a/s (apgar score) bagus -> plasenta masih menempel > 30 menit -> retensio plasenta -> dilakukan manual plasenta -> perdarahan -> syok

Kalau pasien sudah perdarahan, maka bidan harus pasang infus untuk mencegah syok. Karena syok bermula dari perdarahan.

Kenapa bidan ga mau sendiri kalau lagi nolong bulin resti?

Karena harus ada yang membantu menangani ibu:

  1. Untuk menginfus,
  2. Ambil obat,
  3. Masukin obat,
  4. Memberi oksigen dan lain-lain

Termasuk kalau bidannya udah cape dan pegel-pegel. Jadi bisa gantian.

***

Bila mencari sumber terpercaya bisa cari di google books yaah.. karena ini hanya sekedar ilmu yang nempel hasil belajar 2 tahun jadi mahasiswi kebidanan. Yaah tapi ga segini juga. Ini cuma beberapa.

Jadi yang berpikir mau punya anak banyak yah mikir mikir dulu yah.. ga kasian sama bidan?? *eeh apa urusannya..

keep healthy ~~ bumil dan calon bumil ~~

Mau konsultasi soal kebidanan?
Mangga~~ bisa langsung email aja yaah ^^
putriiskoeunri@gmail.com

Share

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.