Ketika Zya Didiagnosis TOF Oleh Dokter

Ketika Zya Didiagnosis TOF Oleh Dokter

Senyumperawat.com – Tetralogy of Fallot (TOF) merupakan penyakit jantung bawaan (PJB) yang langka. Angka kejadiannya cukup jarang. Qodarullah anak kami, Zya Shofiyyah divonis oleh dokter menderita penyakit tersebut. Tepat H-2 lebaran tahun ini (2018).

Memang tanda dan gejala yang tampak awalnya kami pikir tidak berbahaya. Namun seiring waktu, pertumbuhannya sulit dan sering tampak biru jika kelelahan. Hingga suatu ketika, kami coba mendengarkan suara jantung Zya dengan stetoskop. Apa yang kami dapati memang benar adanya, ada suara lain yang cukup aneh di jantungnya.

Selang beberapa waktu kemudian, kami membawanya ke dokter anak. Sang dokter pun memberikan penilaian yang serupa. Hingga muncullah kata, ada kebocoran pada jantung Zya.

Di situ kami pun mulai paham, tiap keluarga memiliki senyum dan air matanya masing-masing. Tidak ada kebahagiaan yang abadi kecuali di surga sana. Dan ujian adalah salah satu bentuk anak tangga menuju ke sana.

Untuk memastikan diagnosis tersebut, sang dokter pun merujuk untuk dilakukan pemeriksaan echocardiografi. Akhirnya keesokan harinya, tanpa menanti waktu lama kami pun membawanya ke dokter spesialis jantung.

Sebuah jawaban

Akhirnya, setelah melalui pemeriksaan yang cukup singkat, dokter pun memberikan kesimpulannya. Zya yang kala itu baru berumur 15 bulan divonis TOF. Dokter pun menyarankan untuk segera dirujuk ke rumah sakit jantung nasional guna dilakukan operasi. Seketika air mata uminya mulai mambasahi.

Ketika kami tanya, apakah ada treatment lain selain itu. Sang dokter pun menjawab dengan lugas, “Dioperasi memang beresiko tapi jauh lebih baik daripada tidak”.

Tidak mudah, tentunya bagi siapa pun yang mendapatkan kabar demikian tidak akan bisa berkata mudah. Meskipun pernah menonton serial film yang berkisah tentang sebuah keluarga dengan anak yang mengidap penyakit langka pula, namun ini berbeda. Tetap tidak mudah untuk bisa menerima hal tersebut.

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (286)

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 285-286)

Hanya dengan sebuah kesabaran kabar ini bisa menguatkan. Allah tidak akan membebani suatu perkara kepada hamba-Nya melebihi kadar kemampuan hamba itu. Itulah yang menjadi modal kami untuk tetap berpikir positif akan takdir yang diberikan.

150 Juta?

Itulah nominal yang disebutkan oleh dokter. Begitu luar biasa ujian itu. Nominal yang harus dikeluarkan untuk biaya operasi Zya berkisar diangka yang tak pernah kami bayangkan. Memegang rupiah sekian banyak pun belum pernah.

Hendak mencari ke mana angka sebesar itu sedangkan kami adalah keluarga yang baru belajar hidup mandiri. Itulah kuasa Allah untuk memberikan ujiannya. Dan setiap kesulitan akan selalu diiringi dengan dua kemudahan.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. (Al Insyirah: 5-6)

Ketika Allah menurunkan penyakit, Allah jua yang menurunkan obatnya. Begitu pun dalam setiap masalah yang kita hadapi. Insya Allah selalu ada jalan keluarnya.

Dalam dekapan ukhuwah

Buku itu baru ku ketahui ketika diberikan oleh adik sepupu sekian tahun silam di kota Gudeg, Yogyakarta. Dalam dekapan ukhuwah, kita saling memberikan cinta. Dalam dekapan ukhuwah, kita saling memiliki rasa. Dalam dekapan ukhuwah, pembuktian iman itu ada.

Allah memberikan solusi yang tak terduga. Seketika dukungan itu datang dari saudara seiman. Betapa benar apa yang Allah sampaikan bahwa setiap kesulitan akan ada kemudahan di balik itu semua.

Sampai pada hari ini, kami berada di kota Bekasi pun atas rasa ukhuwah yang begitu hangat terwujud. Hari demi hari terus berputar dan tiadalah kami luput untuk selalu mengucap syukur dan mendoakan manisnya ukhuwah yang merebak sepanjang perjalanan kami mengiringi langkah si kecil Zya melawan penyakitnya.

Selalu teringat langkah kecilnya yang sering terjatuh karena ia tak bisa kelelahan. Tapi ia tetap tak goyah dan mencoba berdiri dan jatuh dan berdiri lalu jatuh. Dengan nafas yang terengah-engah dan bibir yang membiru, kadang ia tak mau ditolong. Masih ingin berjuang melangkahkan kaki kecilnya. Semoga ia akan selalu kuat menjalani proses ini sebagaimana tekadnya yang begitu kuat ingin segera bisa berjalan, berlari dan ceria sebagaimana lainnya.

Bekasi, 5 November 2018
Kantor Marco Tour & Travel Jatiwarna
Bung Destur

Share

COMMENTS