Ketika Pertama Kali Mendampingi Zya Berobat ke Jakarta

Ketika Pertama Kali Mendampingi Zya Berobat ke Jakarta

Senyumperawat.com – Berobat ke Jakarta adalah pilihan yang harus ditempuh untuk kasus TOF (Tetralogy of Fallot). Tidak banyak RS yang mampu melakukan tindakan operasi. Akhirnya dengan bermodal informasi yang terbatas dari browsing sana-sini dan bertanya ke rekan-rekan sejawat, berangkatlah kami ke Jakarta.

Pelayanan di RSAB Harapan Kita begitu baik. Mulai dari sistem pendaftaran hingga menanti antrian periksa. Mungkin satu hal yang perlu dipertimbangkan lagi perihal tempat tunggu antrian. Sudah cukup luas sebenarnya, tapi mengingat jumlah pasien yang begitu banyak ternyata ruangan sebesar itu masih begitu penuh.

One Million of Smile

Waktu itu kami tidak membawa surat rujukan dari RS mana pun. Rujukan BPJS pun tidak. Jadi kami bayar pakai umum. Tidak ada bedanya dengan yang BPJS ternyata. Sama-sama antre.

Ketika ditanya di meja pendaftaran ingin bertemu dokter siapa, seketika kami jawab dr. Winda Azwani, Sp.A (K). Soalnya sepintas membaca nama dokter yang bertugas hanya ada dua dan satu lagi pria. Jadi kami pilih yang wanita.

Dokternya ramah dan lugas dalam penyampaian. Begitu masuk ruangan, Zya langsung diberi tindakan pemeriksaan saturasi oksigen. Kala itu didapati angka 60%. Angka yang cukup mengkhawatirkan dimana mestinya bisa di atas 95% atau 100% secara normal.

Kemudian, Zya melalui pemeriksaan echocardiografi untuk kedua kalinya, yang pertama ketika di RS Urip Sumoharjo. Hasilnya sama, diagnosisi TOF yang disimpulkan oleh dokter.

Setelah itu, dr. Winda memberikan edukasi secara lengkap tentang TOF. Mulai dari definisi penyakitnya hingga simulasi gambar yang ada di ruangan periksa itu. Tidak lupa dibekali pula cara memberikan pertolongan pertama bagi penderita TOF. Caranya ketika kondisi Zya spell (istilah medis ketika kondisi si kecil membiru dan lemas), posisi badan direbahkan dengan kaki dilipat dengan lutut menempel ke perut.

Kemudian, Zya juga dibekali obat berupa puyer Propanolol. Resep ditebus di bagian farmasi. Letaknya agak ke belakang. Dari ruang poli, masuk ke lorong menuju belakang sebelah utara, dekat dengan IGD. Setelah resep diserahkan ke farmasi, struk pembayaran akan diberikan untuk dibayarkan di IGD. Kemudian kembali lagi ke farmasi untuk pengambilan obat. Obatnya pun harus antri untuk mengambilnya. Waktu itu kurang lebih kami baru bisa menebus obat setelah 1 jam lebih.

Ini tantangan lain ketika meminumkan obat. Mengingat Zya termasuk anak yang sulit minum obat. Bahkan walaupun sudah diberi rasa buah pun ketika diminumkan masih disemburkan. Dikelabui dengan dicampur susu pun juga enggan.

Memang salah satu ciri anak penderita TOF adalah sulit untuk makan. Faktor penyulitnya adalah ketika ia makan maka otomatis saluran nafas akan tertutup selama menelan makanan. Maka pertukaran oksigen menjadi kurang efisien bagi penderita TOF. Begitulah Zya, kadang usai disuapi makan tiba-tiba tubuhnya melemah dan bibir biru lalu rewel dengan nafas yang terengah-engah.

Tak tega memang melihat kondisinya yang seperti itu, tapi mau berbuat apa juga belum bisa. Tindakan utama untuk penanganan kasus TOF memang dengan operasi. Kala itu, kami diberikan surat rujukan oleh dr. Winda untuk melanjutkan proses pengobatan ke RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita. Jadi sebenarnya sejak awal kami salah masuk RS. Harusnya langsung ke RS Jantung Harapan Kita, tapi justru ke RSAB (Anak Bunda) Harapan Kita.

Tapi tidak mengapa, justru dapat referensi dan edukasi tambahan dari dr. Winda selaku dokter spesialis jantung anak.

Setelah semua keperluan selesai, kami pun pulang. Sembari menyiapkan segala keperluan untuk ke RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita.

Bekasi, 7 November 2018
Bung Destur

Share

COMMENTS