Perawatan Typhoid Selama di Rumah Sakit

Perawatan Typhoid Selama di Rumah Sakit

Senyumperawat.com – Perawatan typhoid diberikan secara komprehensif kepada pasien. Penatalaksanaan keperawatan kepada pasien typhoid ada beberapa tindakan. Selama proses tindakan tersebut, pasien diharapkan kooperatif. Hal ini untuk memudahkan pemberian terapi.

Perawatan typhoid selama di RS

Tindakan perawatan typhoid ada beberapa macam, antara lain:

1.Penatalaksanaan terapeutik.

a.Isolasi, desinfeksi.
b.Istirahat saat demam tinggi selama dua minggu.
c.Diit tinggi kalori, tinggi protein, tidak mengandung banyak serat.
d.Pemberian antibiotik kloramfenikol dengan dosis tinggi.

2.Penatalaksanaan keperawatan.
Penyakit thypus abdominalis adalah penyakit menular yang sumber infeksinya berasal dari feses dan urin, sedangkan lalat sebagai pembawa atau penyebar dari kuman tersebut. Pasien tifoid harus dirawat di kamar

isolasi yang dilengkapi dengan peralatan untuk merawat pasien yang menderita penyakit menular, seperti desinfektan untuk mencuci tangan, merendam pakaian kotor dan pot atau urinal bekas pakai pasien. Yang melakukan perawatan pada pasien harus memakai celemek. Masalah pasien thypus abdominalis yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan nutrisi cairan dan elektrolit, gangguan suhu tubuh, gangguan rasa aman dan nyaman, risiko terjadi komplikasi, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.

3.Penatalaksaan medik
Pasien yang dirawat dengan diagnosis observasi tifus abdominalis harus dianggap dan diperlakukan langsung sebagai pasien tifus abdominalis dan diberikan pengobatan sebagai berikut:

a.Perawatan yang baik untuk menghindari terjadinya komplikasi, mengingat proses sakit yang lama, lemah, anoreksia dan lain-lain.
b.Istirahat selama ±2 minggu setelah suhu normal kembali (istirahat total), kemudian boleh duduk, jika tidak panas lagi boleh berdiri kemudian berjalan di ruangan.
c.Diet. Makanan harus mangandung cukup cairan, tinggi kalori dan tinggi protein, tidak menimbulkan gas. Susu 2 gelas sehari. Bila kesadaran pasien menurun diberikan makanan cair melalui sonde lambung. Jika kesadaran dan nafsu makan anak baik dapat juga diberikan makanan lunak.
d.Obat pilihan ialah kloramfenikol, kecuali jika pasien tidak serasi dapat diberikan obat lainnya seperti kotrimoksazol. Pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi, yaitu 100 mg/kg/hari (maksimum 2 gram per hari), diberikan 4 kali sehari per oral atau intravena. Pemberian kloramfenikol dengan dosis tinggi tersebut mempersingkat waktu perawatan. Efek negatifnya adalah mungkin penbentukan zat anti kurang, karena basil terlalu cepat dimusnahkan.

Bila terjadi komplikasi, terapi disesuaikan dengan penyakitnya. Bila terjadi dehidrasi dan asidosis diberikan cairan secara intravena dan sebagainya.

Daftar pustaka

  • Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak Sakit, Jakarta : EGC.
  • Suriadi, 2006, Asuhan Keperawatan pada Anak, Jakarta: EGC.
Share

COMMENTS