Dasar-Dasar Keperawatan Gawat Darurat

Dasar-Dasar Keperawatan Gawat Darurat

Senyumperawat.com – Dasar-dasar keperawatan gawat darurat haruslah diberikan kepada calon perawat. Kemudian, konsep ini sudah harus dipahami setelah mereka lulus.

Algoritma initial assessment trauma

Jika anda menemukan pasien trauma, yang harus anda lakukan adalah, ingat 3A!

  1. Aman diri (pakai APD)
  2. Aman lingkungan (aktifkan defibrillator dengan meminta tolong)
  3. Aman pasien (pindahkan pasien ke tempat yang aman)

Cek kesadaran dengan AVPU

  1. Respon alert
  2. Respon verbal
  3. Respon pain
  4. Un respon

Jika pasien sadar, pemeriksaan dilakukan sesuai dengan permasalahan yang ada; ABCDE. Jika pasein tidak sadar, lakukan SPGDT (Sistem Penanganan Gawat Darurat Terpadu) seperti meminta pihak rumah sakit terdekat untuk mengirim ambulan.

Pada pasien trauma, segera lakukan primary survey

A. Airway (jalan nafas) dan control cervical

1. Fiksasi kepala, pasang neck collar bila curiga fraktur cervical, tanda-tandanya;

a. Trauma kapitis dengan penurunan kesadaran
b. Multi trauma
c. Terdapat jejas di atas clavicula ke arah cranial
d. Biomekanika trauma yang mendukung

2. Periksa airway: look, listen, feel

a. Bila terdapat suara gurgling (kumur-kumur), segera lakukan saction atau miringkan (log roll)
b. Bila snoring (ngorok) lakukan jaw thrust atau chin lift (tindakan manual). Gunakan OPA untuk pasien yang tidak sadar, atau NPA untuk pasien sadar.
c. Bila terdengan suara stridor, perlu Airway definitif (intubasi atau surgical airway)

Curiga trauma dan fraktur tulang basic cranii; pendarahan dari lubang hidung dan telinga, racoon eyes, beatle sign dan hematoma brill. Khusus pasien yang nontrauma dan tidak sadar, lakukan dengan:

a. Membuka airway,
b. Teknik head tilt dan chin lift.

B. Breathing (pernapasan) dan oksigenisasi

Nilai frekuensi napas, kemudian berikan oksigen bila ada masalah terhadap ABCD. Beragam pilihan Canul, 2-6 LPM. Face mask/RM, 6-10 LPM. NRM, 10-12 LPM, BVM, bila pernapasan tidak adekuat atau apnea maka berikan ventilasi tambahan dengan teknik bagging atau ventilator.

Jika frekuensi napas semakin cepat, maka langkah berikutnya adalah dengan mencari sumber masalah melalui inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi.

Terdapat empat masalah yang mengancam breathing

  1. Tension pneumothorax (terperangkapnya udara di dalam rongga pleura, dengan pemeriksaan IAPP, temukan tanda dan gejalanya sebagai berikut;

a. Pasien sangat sesak, frekuesi napas cepat dan dangkal
b. Ekspansi dinding dada tidak simetris disertai jejas pada daerah thorax
c. Hasil auskultasi negatif
d. Trakhea bergeser
e. Distensi vena jugularis

Tindakan setelah memberikan oksigen adalah dengan dekompresi (needle thoracosintesis di ICS 2 mid clavicula), kemudian kolaborasi dengan dokter untuk pemasangan chest tube atau WSD

2. Open pneumothorax (luka terbuka pada thorax), ditandai dengan;

a. Pasien sangat sesak, frekuesi napas cepat dan dangkal
b. Ekspansi dinding dada tidak simetris
c. Luka terbuka atau tembus pada thorax
d. Hasil perkusi hypersonor
e. Terdengar suara sucking chest wound (menghisap lewat lubang luka)

Tindakan setelah menperian oksigen adalah dengan menutup kassa 3 sisi yang kedap udara. Kemudian kolaborasi dengan dokter untuk pemasangan WSD atau chest tube.

3. Massive pneumothorax (pendarahan di dalam rongga pleura atau thorax). Dengan melakukan IAPP, temukan tanda dan gejala sebagai berikut

a. Pasien sangat sesak, frekuesi napas cepat dan dangkal
b. Ekspansi dinding dada tidak seimetris
c. Hasil auskultasi negatif
d. Hasil perkusi dullness/pekak/redup
e. Tedapat tanda-tanda shock hemoragic dengan pendarahan lebih dari 1500 cc (lebih dari 200 cc/jam selama 2 jam)

Tindakan pemberian oksigen, lalu kolaborasi dengan dokter untuk tindakan WSD/chest tube. Nilai apakah perlu thoracotomy.

4. Flail chest dengan kontusio paru (fraktur pada costae lebih dari 2 segmen), tanda dan gejala yang ditemui adalah;

a. Pasien sangat sesak, frekuesi napas cepat dan dangkal
b. Ekspansi dinding dada tampak paradoksal
c. Pasien nyeri hebat saat bernapas sehingga cenderung takut napas

Tindakan setelah yang dilakukan adalah dengan pemasangan oksigen, analgetik, assisted ventilation, nilai apakah perlu dilakukan intubasi (tanyakan dokter). Jangan lupa ambil sample darah segera, setelah pasangan infus untuk kontrol volume.

C. Circulation (sirkulasi) dan kontrol perdarahan dan perbaikan

Pendarahan terbagi menjadidua;pertama, pendarahan eksternal, tindakan yang dilakukan adalah balut tekan, cek nadi dan akral, bila ada tanda-tanda shok hemoragic (hipovolemic) berikan infus dua jalur dengan RL yang hangat 1-2 liter diguyur (pertimbangan 3:1 resusitasi cairan).

Adapun perdarahan internal adalah perbaiki volume untuk cegah syok lebih lanjut. Jika pada bagian pelvis, sebaiknya gunakan gurita. Pada anatomi femur, gunakan bidai. Jika didapati pada bagian thorax sebaiknya konsultasikan ke dokter bedah (torakotomi). Bila pada bagian abdomen, retroperotoneal, konsultasikan ke dokter bedah laparotomy. Tentukan penatalaksanaannya, jangan lupa untuk mempertimbangkan pemberian transfsi darah.

D. Disability (periksaan status neurologis)

  1. Nilai GCS

a. Eye

  • Membuka mata spontan : 4
  • Membuka mata terhadap suara : 3
  • Membuka mata terhadap nyeri : 2
  • Tidak ada respon : 1

b.Verbal

  • Orientasi baik : 5
  • Berbicara bingung : 4
  • Berbicara tidak jelas : 3
  • Merintih : 2
  • Tidak ada respon : 1

c. Motorik

  • Bergerak mengikuti perintah: 6
  • Bergerak terhadap nyeri dan dapat melokalisir nyeri: 5
  • Berlawanan dengan ragsangan nyeri atau withdrawl: 4
  • Fleksi abnormal: 3
  • Extensi abnorman: 2
  • Tidak ada respon: 1

2. Reaksi pupil dengan pen light: isokor atau un-isokor, midriasis, dilatasi, ukuran.

3. Kekuatan otot motorik: bandingkan kedua sisinya, dengan cara;
Jika psien sadar perintahkan untuk berjabat tangan dengan kuat pada petugas, untuk kaki, perintahkan untuk menggerakan atau letakan tangan petugas pada telapak kakai pasien lalu minta utuk mrndorong dengan kuat.(pada saat cek GCS)

Sedangkan untuk pasien yang tidak sadar, angkat kedua tangan pasien kemudian lepaskan secara bersamaan, kemudian nilai kekuatan ototnya, begitupun dnegan otot kaki.

E. Exposire (gunting pakaian, lihata da jejas atau tidak, kemudian cegah hipotermi dengan menyelimuti)

F. Folley cateter, sebelum dipasang sebaiknya lihat dahulu adakah kontra indikasi?

Tidak dipasangan bila’

  1. Pada laki-laki terdapat darah di OUE, scrotum haematum, RT prostat melayang
  2. Pada wanita keluar darah dari uretra, hematum perinium
    Bila tidak ada kontra indikasi, pasang selang cateter, urin pertama dibuang, lalu tampung untuk pemeriksaaan

G. Gastric tube

Bila lewat hidung, perhatikan kontra indikasi fraktur tulang basis cranii, cegah lalu lakukan lewat mulut (OGT), perhatikan pula indikasi pemasangan yakni:

  1. Untuk kepentingan selama proses pembedahan karena pasien tidka sadar
  2. Untuk mengurangi distensi abdomen
  3. Untuk mencegah aspirasi
  4. Untuk kuras atau bilas lambung
  5. Untukpemberian nutrisi dan terapi obat

H. Heart monitoring (waspada terhadap arithmia yang mengancam), pulse oxymeter, saturasi normal, pemeriksaan radiologi pada lokasi cidera.

Re-evaluasi ABCDE

Secondary survey

A. Anamnesa: KOMPAK (keluhan, obat, makan terakhir, penyakit penyerta, alergi, kejadian), atau gunakan AMPLE (alergi, medication, past illness, last meal, event)
B. Log roll, form head to toe, finger in every orifice: periksa kembali untuk menilai apakah ada BTLS (bengkak, tumor, luka, sakit)?
C.TTV

Penulis: Zr. Runekaf (Surat Pembaca via Email)
Editor: Bung Destur

Share

COMMENTS