Pengertian Kecemasan, Penyebab dan Tingkatannya

Pengertian Kecemasan, Penyebab dan Tingkatannya

Senyumperawat.com – Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar yang berkaitan dengan perasaan yang tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak mempunyai objek yang spesifik (Stuart, 2006).

Kecemasan merupakan suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir yang mengeluhkan bahwa suatu yang buruk akan terjadi (Grenee, 2003).

Menurut (Carpenito, 2000) kecemasan adalah keadaan dimana seseorang mengalami perasaan gelisah atau cemas dan aktivasi sistem syaraf otonom dalam berespons terhadap ancaman yang tidak jelas dan tidak spesifik.

Menurut (Hawari, 2004), kecemasan adalah gangguan alam perasaan (afektif) yang ditandai dengan perasaan ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam dan berkepanjangan, tidak mengalami gangguan dalam menilai realitas, berkepribadian masih tetap utuh, perilaku dapat terganggu tetapi masih dalam batas normal.

Kecemasan banyak ditemui pada pasien yang menjalani pemeriksaan, investigasi atau perawatan dalam bidang kesehatan seperti pasien kanker yang menjalani kemoterapi (Lubis, 2009).

Penyebab terjadinya kecemasan

Menurut Greene (2003), faktor penyebab kecemasan adalah faktor biologis, faktor sosial dan lingkungan, faktor kognitif dan emosional, faktor psikodinamik.

1.Teori Psikodinamika

Psikodinamika memandang gangguan-gangguan kecemasan sebagai usaha ego untuk mengendalikan munculnya impuls-impuls yang mengancam kesadaran. Perasaan kecemasan adalah tanda peringatan bahwa implus-implus yang mengancam mendekat ke kesadaran. Ego menggerakkan mekanisme pertahanan diri untuk mengalihkan implus-implus tersebut yang kemudian mengarah menjadi gangguan kecemasan lainnya.

2.Faktor sosial

Kurangnya dukungan sosial yang diperoleh baik dari anggota keluarga maupun teman, mengamati respon takut pada orang lain, pemaparan terhadap peristiwa atau traumatis dapat menyebabkan seseorang mengalami cemas. Dukungan sosial adalah adanya bantuan atau dukungan yang diterima individu dari orang lain dalam kehidupannya sehingga individu tersebut merasa bahwa orang lain memperhatikan, menghargai, dan mencintainya.

3.Faktor kognitif dan emosional

Faktor-faktor kognitif mungkin juga memegang peranan dalam gangguan-gangguan kecemasan seperti prekdiksi berlebihan terhadap rasa takut, keyakinan yang self-defeating dan irasional, sensitivitas yang berlebih mengenai sinyal-sinyal dan tanda ancaman, harapan-harapan self-efficacy yang terlalu rendah dan salah mengartikan sinyal-sinyal tubuh.

4.Faktor biologis

Faktor genetis mempunyai peran dalam perkembangan gangguan kecemasan termasuk gangguan panik, gangguan kecemasan menyeluruh dan gangguan-gangguan fobia.

Faktor yang mempengeruhi kecemasan

Literatur lain menurut Smeltzer dan Bare (2002) ada dua faktor yang mempengaruhi kecemasan yaitu:

1.Faktor internal

a.Pendidikan dan status ekonomi
Pendidikan dan status ekonomi yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami kecemasan. Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap kemampuan berfikir, semakin tinggi tingkat pendidikan akan semakin mudah berfikir rasional dan menangkap informasi baru termasuk menguraikan masalah baru (Stuart & Sundeen, 2006).

b.Usia
Seseorang yang mempunyai usia lebih muda ternyata lebih mudah mengalami gangguan kecemasan daripada orang yang lebih tua.

c.Jenis kelamin
Gangguan kecemasan biasanya lebih sering dialami oleh perempuan daripada laki-laki.

2.Faktor eksternal

a.Dukungan sosial
Dukungan sosial dapat mempengaruhi seseorang dalam mengatasi masalah, termasuk dalam hal kecemasan. Dukungan sosial juga membuat seseorang merasa diperhatikan dan dicintai oleh orang lain, merasa dirinya bagian dari jaringan komunikasi oleh anggotanya (Smeltzer & Bare, 2001)

b.Dukungan keluarga
Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap penderita yang sakit. Jenis dukungan keluarga adalah dukungan informatif, emosional, penilaian, dan instrumental.

Tingkat Kecemasan

Menurut Stuart & Sundeen (2006), ada empat tingkat kecemasan yaitu ringan, sedang, berat dan panik.

a.Kecemasan ringan

Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya seperti melihat, mendengar dan gerakan menggenggam lebih kuat. Kecemasan ringan ini dapat memotivasi belajar, dan mampu meningkatkan perkembangan kreativitas seseorang. Pada cemas ringan ini ditandai dengan gejala seperti sesekali bernafas pendek, bibir gemetar, jantung berdebar kencang, tidak dapat duduk dengan tenang, dan tangan terlihat gemetar.

b.Kecemasan sedang

Kecemasan sedang ini seseorang fokus pada hal yang penting yang menjadi pusat perhatiannya dan mengesampingkan hal lain. Kecemasan ini mempersempit lapang pandang seseorang seperti penglihatan, pendengaran, dan gerakan menggenggam berkurang. Tanda dan gejalanya adalah mulut kering, anoreksia, badan genetar, eksperi wajah seperti ketakutan, gelisah, susah tidur, dan tidak mampu bersikap rileks.

c.Kecemasan berat

Lapang pandang pada cemas berat ini akan menyempit. Seseorang cenderung memusatkan sesuatu terinci dan spesifik, tidak memikirkan hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketengangan. Seseorang tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain. Tanda gejalanya yang biasanya muncul adalah sakit kepala dan berkeringat, penglihatan kabur, kecewa, tidak berdaya, tidak mampu menyelesaikan masalah, berbicara dengan tempo yang cepat dan perasaan ancaman meningkat.

d.Panik

Individu mengalami kehilangan kendali, sehingga tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Aktivitas motorik meningkat, menurunkan kemampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi menyimpang dan kehilangan pemikiran yang rasional. Timbul perasaan jantung berdebar-debar, penglihatan berkunang-kunang, sakit kepala, susah bernafas, tubuh terasa tegang dan tidak mampu melakukan apa-apa.

Pengukuran Kecemasan

Menurut Hawari (2004), kecemasan ringan, sedang, berat dan panik bisa diukur dengan menggunakan alat ukur kecemasan untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan tersebut. Alat tersebut dikenal dengan Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A).

Alat tersebut dikenal dengan Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A). Tingkat kecemasan juga dapat diukur dengan menggunakan Visual Analog Scale (VAS) dari angka 0 – 100. Pengukuran tingkat kecemasan dengan menggunakan VAS lebih mudah daripada menggunakan HRS-A karena Visual Analog Scale membutuhkan waktu kurang dari 5 menit jika dibandingkan dengan Hamilton Rating Scale For Anxiety (HRS-A) yang memakan waktu lebih dari 10 menit.

Respon Individu Terhadap Kecemasan

Seseorang yang mengalami kecemasan akan mempengaruhi perubahan dalam fungsi organ tubuhnya. Perubahan tersebut menurut (Stuart, 2006) adalah sebagai berikut :

a. Respon fisiologis

1) Kardiovaskuler : respon jantung berdebar, tekanan darah meningkat, rasa ingin pingsan
2) Pernafasan : respon yang terjadi adalah sesak nafas, nafas dangkal, cepat, terengah-engah, rasa seperti tercekik
3) Gastrointestinal : respon yang tejadi kehilangan nafsu makan, mual, nyeri abdomen, nyeri ulu hati,
4) Neuromuskuler : respon yang terjadi adalah reaksi terkejut, insomnia, tremor, mondar-mandir, wajah tegang.
5) Kulit : respon yang terjadi adalah wajah kemerahan, telapak tangan berkeringat, wajah pucat, rasa panas dan dingin pada kulit.

b. Respon perilaku

Respon perilaku yang terjadi adalah gelisah, tremor, reaksi terkejut, kurang koordinasi, menarik diri, bicara cepat, ketegangan fisik.

c. Respon kognitif

Pada respon kognitif, respon yang terjadi biasanya pelupa, konsentrasi buruk, hambatan berfikir, bingung, kehilangan kendali, takut cedera atau kematian, mimpi buruk, kreativitas menurun.

d. Respon afektif

Mudah terganggu, tegang, gugup, ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, malu, rasa bersalah.

Daftar pustaka

  • Stuart, G. (2006). Buku Saku Keperawatan Jiwa (Edisi 5). Jakarta: EGC. Subiatmi.
  • Smeltzer, S. C. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Edisi 8). Jakarta: EGC.
  • Greene, d. (2005). Psikologi Abnormal. Edisi 5. Jakarta: Erlangga.
  • Lubis, N. L. (2009). Dukungan Sosial Pada Pasien Kanker, Perlukah? Medan: USU Press.
  • Hawari, D. (2004). Psikiater Kanker Payudara, Dimensi Psikoreligi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
  • Carpenito, L. J. (2000). Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC.
Share

COMMENTS