Tiba-Tiba Mimisan, Apa ya Penyebabnya dan Bagaimana Mengobatinya?

Senyumperawat.com – Kira-kira apa yang Anda lakukan ketika tiba-tiba mimisan. Mungkin tiap orang reaksinya berbeda-beda. Ada yang langsung memegang hidung. Mungkin ada pula yang segera mendongakkan kepala. Di tempat lain, mungkin ada pula yang segera mencari tisu untuk menutup hidung atau membersihkan darah yang keluar. Kalau di kampung-kampung, yang sering kita jumpai adalah segera mencari daun sirih. Jadi daun sirihnya dibuat seperti corong lalu dimasukkan hidung.

Terjadinya mimisan diakibatkan oleh pecahnya pembuluh darah di dalam hidung. Pembuluh darah ini biasa disebut dalam istilah anatomi fisiologi dengan Plexus Kieselbach. Selain itu, bisa juga terjadi karena memang memiliki pembuluh darah yang rentan sehingga mudah sekali mimisan.

Kenapa bisa tiba-tiba mimisan?

Tentunya ketika kita tiba-tiba mimisan, pasti ada penyebab yang melatarbelakanginya. Entah itu penyebab yang sering dianggap sepele hingga kasus yang berat. Oleh karena itu, meskipun hanya sekedar mimisan, jangan dianggap remeh. Berikut ini penyebab yang mungkin mengakibatkan mimisan:

1. Infeksi

Sinusitis dapat pula menjadikan anak mimisan. Segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

2. Perubahan suhu yang mendadak

Anak memiliki sistem anatomi yang belum bisa dengan segera beradaptasi pada lingkungan. Suhu lingkungan yang awalnya panas kemudian mendadak menjadi dingin dengan masuk ke ruang AC misalkan, dapat berakibat terganggunya sistem pengatur suhu terhadap udara yang masuk ke hidung.

3. Kondisi udara yang kering

Udara yang amat kering dapat mengiritasi lapisan mukosa hidung. Jika dibiarkan terus terpapar kondisi dapat berakibat mimisan.

4. Alergi hingga bersin terus-menerus

Bersin-bersin dapat mengakibatkan terjadinya perlukaan pada saluran nafas jika berlangsung lama. Salah satunya adalah mimisan. Anak mimisan bisa dihubungkan dengan adanya alergi yang membuatnya bersin terus-menerus. Hendak dicari tahu penyebab bersinnya tersebut sesegara mungkin.

5. Polusi udara

Polusi berupa asap dapat mengiritasi mukosa hidung.

6. Trauma

Benturan yang terjadi apda hidung, dapat menjadi akibat anak mengalami mimisan. Jika benturan tidak terlalu kuat dan hanya mimisan biasa maka tidak terlalu mengkhawatirkan dan tidak terlalu perlu dilakukan X-Ray. Namun jika benturan amat keras, harus segera dibawa ke RS karena dikhawatikan terjadi patah tulang hidung. Bahkan yang lebih berbahaya adalah jika trauma tersebut terkena pada otak. Kasus orang mengalami kecelakaan lalu lintas, tidak sedikit yang meninggal karena benturan yang kerang pada otak sehingga keluar darah pada hidung dan telinga.

7. Komplikasi atau tanda suatu penyakit

Penyakit yang memiliki gejala mimisan biasanya terjadi pada penyakit demam berdarah (DBD), Leukemia atau bisa juga kanker nasofaring.

8. Penyebab lain

  • Benda asing di hidung dan iritan senyawa kimia
  • Reaksi alergi dan trauma pada hidung
  • Bersin berulang, udara dingin, infeksi saluran nafas atas dan mengkonsumsi aspirin dosis besar.
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi)
  • Kanker, penyakit perdarahan, dan penyakit pembekuan darah.

Klasifikasi mimisan

1. Epistaksis Anterior

Epistaksis anterior paling sering berasal dari Pleksus Kiesselbach, yang merupakan sumber perdarahan paling sering dijumpai pada anak-anak. Selain itu juga dapat berasal dari Arteri EthmoidalisAnterior. Perdarahan dapat berhenti sendiri (spontan) dan dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana.

2. Epistaksis Posterior

Pada epistaksis posterior, perdarahan berasal dari Arteri Sfenopalatina dan Arteri Ethmoidalis Posterior. Epistaksis posterior sering terjadi pada orang dewasa yang menderita hipertensi, arteriosklerosis, atau penyakit kardiovaskuler. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti spontan.

Pemeriksaan yang mesti dilakukan

Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk menentukan penyebab dari mimisan yang dialami. Termasuk menentukan apakah tergolongan epistaksis anterior atau posterior. Jika terdapat benda asing, maka harus diambil dulu. Bila perlu, dilakukan pemeriksaan penunjang, diantaranya:

  1. Pemeriksaan darah rutin
  2. PT/APTT
  3. Endoskopi hidung,
  4. CT-scan hidung dan X-ray wajah dan hidung.

Bagaimana cara mengobati mimisan?

Cara mengobati mimisan ini bisa dibagi berdasarkan penyebabnya. Bisa juga atas dasar klasifikasi sebagaimana disampaikan di atas.

Pada penanganan epistaksis, yang terutama diperhatikan adalah perkiraan jumlah dan kecepatan perdarahan. Pemeriksaan hematokrit, hemoglobin dan tekanan darah harus cepat dilakukan. Pada pasien dalam keadaan syok, kondisi ini harus segera diatasi. Jika ada kecurigaan defisiensi faktor koagulasi harus dilakukan pemeriksaan hitung trombosit, masa protrombin dan masa tromboplastin (APTT), sedangkan prosedur diagnosis selanjutnya dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan. Bila terjadi kehilangan darah yang banyak dan cepat, harus difikirkan pemberian transfusi sel-sel darah merah (packed red cell) disamping penggantian cairan.

Epistaksis Anterior

  • Kauterisasi

Sebelum dilakukan kauterisasi, rongga hidung dianestesi lokal dengan menggunakan tampon kapas yang telah dibasahi dengan kombinasi lidokain 4% topikal dengan epinefrin 1:100.000 atau kombinasi lidokain 4% topikal dan penilefrin 0.5 %. Tampon ini dimasukkan dalam rongga hidung dan dibiarkan selama 5-10 menit untuk memberikan efek anestesi lokal dan vasokonstriksi. Kauterisasi secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan larutan perak nitrat 20-30% atau dengan asam triklorasetat 10%. Becker (1994) menggunakan larutan asam triklorasetat 40-70%.

Setelah tampon dikeluarkan, sumber perdarahan diolesi dengan larutan tersebut sampai timbul krusta yang berwarna kekuningan akibat terjadinya nekrosis superfisial. Kauterisasi tidak dilakukan pada kedua sisi septum, karena dapat menimbulkan perforasi. Selain menggunakan zat kimia dapat digunakan elektrokauter atau laser.5 Yang (2005) menggunakan electrokauter pada 90% kasus epistaksis yang ditelitinya.

  • Tampon Anterior

Apabila kauter tidak dapat mengontrol epistaksis atau bila sumber perdarahan tidak dapat diidentifikasi, maka diperlukan pemasangan tampon anterior dengan menggunakan kapas atau kain kassa yang diberi vaselin atau salap antibiotik. Tampon ini dipertahankan selama 3-4 hari dan kepada pasien diberikan antibiotik spektrum luas. Vaghela (2005) menggunakan swimmer’s nose clip untuk penanggulangan epistaksis anterior.

Epistaksis Posterior

Perdarahan dari bagian posterior lebih sulit diatasi, sebab biasanya perdarahan hebat dan sulit dicari sumber perdarahan dengan rinoskopi anterior. Epistaksis posterior dapat diatasi dengan menggunakan tampon posterior, balloon tamponade, ligasi arteri dan embolisasi.

  • Tampon Posterior

Prosedur ini menimbulkan rasa nyeri dan memerlukan anestesi umum atau setidaknya dengan anestesi lokal yang adekuat. Prinsipnya tampon dapat menutup koana dan terfiksasi di nasofaring untuk menghindari mengalirnya darah ke nasofaring. Kemudian dilakukan pemasangan tampon anterior. Tekhnik ini pertama sekali diperkenalkan oleh Bellocq, dengan menggunakan tampon yang diikat dengan tiga pita (band). Masukkan kateter karet kecil melalui hidung kedalam faring, kemudian ujungnya dipegang dengan cunam dan dikeluarkan dari mulut agar dapat diikat pada kedua ujung pita yang telah disediakan.

Kateter ditarik kembali melalui rongga hidung sehingga tampon tertarik ke dalam koana melalui nasofaring. Bantuan jari untuk memasukkan tampon kedalam nasofaring akan mempermudah tindakan ini. Apabila masih tampak perdarahan keluar dari rongga hidung, maka dapat pula dimasukkan tampon anterior ke dalam kavum nasi. Kedua pita yang keluar dari nares anterior kemudian diikat pada sebuah gulungan kain kasa didepan lubang hidung, supaya tampon yang terletak di nasofaring tidak bergerak. Pita yang terdapat di rongga mulut dilekatkan pada pipi pasien. Gunanya untuk menarik tampon keluar melalui mulut setelah 2-3 hari.

  • Tampon Balon

Pemakaian tampon balon lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan pemasangan tampon posterior konvensional tetapi kurang berhasil dalam mengontrol epistaksis posterior. Ada dua jenis tampon balon, yaitu: kateter Foley dan tampon balon yang dirancang khusus. Setelah bekuan darah dari hidung dibersihkan, tentukan asal perdarahan. Kemudian lakukan anestesi topikal yang ditambahkan vasokonstriktor. Kateter Foley no. 12-16 F diletakkan disepanjang dasar hidung sampai balon terlihat di nasofaring.

Kemudian balon diisi dengan 10-20 cc larutan salin dan kateter Foley ditarik kearah anterior sehingga balon menutup rongga hidung posterior. Jika dorongan terlalu kuat pada palatum mole atau bila terasa sakit yang mengganggu, kurangi tekanan pada balon. Selanjutnya dipasang tampon anterior dan kateter difiksasi dengan mengunakan kain kasa yang dilekatkan pada cuping hidung. Apabila tampon balon ini gagal mengontrol perdarahan, maka dilakukan pemasangan tampon posterior.

  • Ligasi Arteri

Penanganan yang paling efektif untuk setiap jenis perdarahan adalah dengan meligasi pembuluh darah yang ruptur pada bagian proksimal sumber perdarahan dengan segera. Tetapi kenyataannya sulit untuk mengidentifikasi sumber perdarahan yang tepat pada epistaksis yang berat atau persisten. Ada beberapa pendekatan ligasi arteri yang mensuplai darah ke mukosa hidung.

– Ligasi Arteri Karotis Eksterna

Ligasi biasanya dilakukan tepat dibagian distal a. tiroid superior untuk melindungi suplai darah ke tiroid dan memastikan ligasi arteri karotis eksterna.12 Tindakan ini dapat dilakukan dibawah anestesi lokal. Dibuat insisi horizontal sekitar dua jari dibawah batas mandibula yang menyilang pinggir anterior m. sternokleidomastoideus. Setelah flap subplatisma dielevasi, m. sternokleido- mastoideus di retraksi ke posterior dan diseksi diteruskan ke arah bawah menuju selubung karotis. Lakukan identifikasi bifurkasio karotis kemudian a. karotis eksterna dipisahkan. Dianjurkan untuk melakukan ligasi dibawah a. faringeal asendens, terutama apabila epistaksis berasal dari bagian posterior hidung atau nasofaring.10 Arteri karotis eksterna diligasi dengan benang 3/0 silk atau linen.3

– Ligasi Arteri Maksilaris Interna

Ligasi arteri maksilaris interna dapat dilakukan dengan pendekatan transantral. Pendekatan ini dilakukan dengan anestesi lokal atau umum lalu dilakukan insisi Caldwell-Luc dan buat lubang pada fosa kanina. Setelah dijumpai antrum maksila, secara hati-hati buang dinding sinus posterior dengan menggunakan pahat kecil, kuret atau bor, dimulai dari bagian inferior dan medial untuk menghindari trauma orbita.

Setelah terbentuk jendela (window) pada tulang, lakukan insisi pada periostium posterior. Dengan operating microscope pada daerah itu lakukan observasi untuk melihat adanya pulsasi yang menandakan letak arteri. Jaringan lemak dan jaringan ikat pada fosa pterigopalatina didiseksi dengan menggunakan hemostat, alligator clips, bayonet forcep dengan bipolar electrocauter dan nervehook.

Setelah a. maksila interna diidentifikasi, arteri ini diretraksi dengan menggunakan nervehook dan identifikasi cabang-cabangnya. Dibuat nasoantral window dan masukkan tampon yang telah diberi salap antibiotik selama 24 jam.

Maceri (1984) menjelaskan pendekatan transoral untuk ligasi a. maksilaris interna. Plane of buccinator dimasuki melalui insisi gingivobukal. Jaringan lemak bukal dibuang, dan identifikasi perlekatan m. temporalis ke prosessus koronoid mandibula. Lakukan diseksi tumpul pada daerah ini dan identifikasi a. maksila interna. Selanjutnya arteri dipisahkan, dijepit atau diligasi.

Prosedur ini berguna apabila pendekatan transantral tidak dapat dilakukan oleh karena trauma sinus atau malignansi. Kelemahan dari prosedur ini adalah lokasi ligasi terletak lebih ke proksimal dibandingkan dengan pendekatan transantral sehingga lebih memungkinkan untuk terjadinya kegagalan. Komplikasi utama pendekatan ini adalah pembengkakan pipi dan trismus yang dapat berlangsung selama tiga bulan. Shah (2005) menggunakan clip titanium pada arteri sphenopalatine untuk mengatasi epistaksis posterior.

– Ligasi Arteri Etmoidalis

Perdarahan yang berasal dari bagian superior konka media paling baik diterapi dengan ligasi a. etmoidalis anterior atau posterior, atau keduanya. Ligasi dilakukan pada tempat arteri keluar melalui foramen etmoidalis anterior dan posterior yang berada pada sutura frontoetmoid. Foramen etmoidalis anterior berada kira-kira 1,5 cm posterior dari krista lakrimalis posterior. Foramen etmoidalis posterior berada hanya 4 – 7 mm. sebelah anterior n. optikus.

Insisi etmoid eksterna dilakukan untuk mencapai daerah ini. Retraktor orbita digunakan untuk meretraksi periostium orbita dan sakus lakrimalis. Diseksi dilakukan disebelah posterior disepanjang garis sutura pada lamina subperiosteal. Dua klem arteri diletakkan pada a. etmoidalis anterior, dan rongga hidung dievaluasi kembali. Jika perdarahan berhenti, a. etmoidalis posterior tidak diganggu untuk menghindari trauma n. optikus. Tetapi bila perdarahan persisten, a. etmoidalis posterior diidentifikasi dan diklem. Hidarkan pemakaian kauter untuk menghindari trauma.

– Angiografi dan Embolisasi

Sokoloff (1974) pertama kali memperkenalkan teknik embolisasi perkutan pada a. maksilaris interna dengan menggunakan absorbable gelatin sponge untuk epistaksis yang persisten. Beberapa laporan terakhir mendiskusikan kegunaan angiografi dalam menentukan sumber perdarahan. Merland, (1980) melaporkan penggunaan embolisasi untuk pengobatan telangiektasi hemoragik herediter, epistaksis (primer dan traumatik), angiofibroma nasofaring, tumor ganas dan penyakit pendarahan. Mereka menjumpai kesulitan dalam melakukan embolisasi a. etmoidalis tetapi tindakan ini lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan ligasi a. maksila interna oleh karena terjadinya obliterasi dibagian distal arteri.

Komplikasi embolisasi mencakup paralisis fasial dan hemiplegi. Rasa nyeri pada wajah dan trismus juga sering dijumpai. Beberapa material telah digunakan untuk embolisasi tetapi absorbable gelatin sponge merupakan zat yang paling sering digunakan. Walaupun tekhnik ini masih kontroversi, ada kesepakatan bahwa embolisasi pada penanganan epistaksis dilakukan bila terapi lainnya gagal dan apabila ada kontraindikasi untuk operasi.

Daftar Pustaka

  • Abelson TI. Epistaksis dalam: Scaefer, SD. Rhinology and Sinus Disease Aproblem- Oriented Aproach. St. Louis, Mosby Inc, 1998: 43 – 9.
  • Nuty WN, Endang M. Perdarahan hidung dan gangguan penghidu, Epistaksis. Dalam: Buku ajar ilmu penyakit telinga hidung tenggorok. Edisi 3. Jakarta, Balai Penerbit FK UI, 1998: 127 – 31.
  • Watkinson JC. Epistaxis. Dalam: Mackay IS, Bull TR. Scott – Brown’s Otolaryngology. Volume 4 (Rhinonology). Ed. 6 th. Oxfor
  • d: Butterwort – Heinemann, 1997: 1–19.Ballenger JJ. Penyakit telinga, hidung, tenggorok, kepala dan leher. Alih bahasa staf ahli bagian THT FK UI. Jilid 1. Edisi 13. Jakarta, Binarupa Aksara,1994: 1 – 27, 112 – 6.
  • Becker W, Naumann HH, Pfaltz CR. Ear, nose, and throat disease, a pocket reference. Second Edition. New York, Thieme Medical Publiseher, Inc, 1994: 170– 80 dan 253 – 60.
  • Thornton MA, Mahest BN, Lang J. Posterior epistaxix: Identification of common bleeding sites. Laryngodcope, 2005. Vol. 115 (4): 588 – 90.
  • Thuesen AD, Jacobsen J, Nepper- Rasmussen J. Juvenile angofobroma. Ugeskr Leager. 2005. Vol. 167 (34): 3163 – 6.
  • Tiwari D, Plater M, Partridge R, Weston- Simons J. Primary malignan melanoma of nose: a rare cause of epistaxis in the elderly. Age Ageing. 2005. Vol. 34 (6): 653 – 4.
  • Sys L, van den Hoogen FJ. Rendu-Osler- Weber disease. Ned Tijdschr Tandheelkd. 2005. Vol. 112 (9): 336 – 9.
    Abelson TI. Epistaxis. Dalam: Paparella MM, Shumrick DA, Glucman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology. Vol. III. Ed. 3 rd. Philadelphia: WB Saunders Company, 1997: 1831 – 41.
  • Yang DZ, Cheng JN, Han J, Shu P, ZhangH. Management of intactable epistaxis and bleeding points laokalization. Zhonghua Er Bi, 2005. Vol. 40 (5): 360 – 2.
  • Adam GL, Boies LR, Higler PA. Boies buku ajar penyakit THT. Alih bahasa: Caroline W. Edisi VI. Jakarta. EGC Penerbit buku kedokteran, 1993: 224 – 37.
  • Vaghela HM. Using a swimmer’s nose clip in the treatment of epistaksis in the A&E departement. Accing Emerg Nurs, 2005, Vol. 13 (4): 261 – 3.
  • Vaghela HM. Foley catheter posterior nasal packing. Clin Otolaryngol, 2005. Vol. 30 (2): 209 – 10.
  • Shah AG, Stachler RJ, Krouse JH. Endoscopic ligation of the sphenopalatine artery as a primary management of severe posterior epistaxis in patiens with coagulopathy. Ear Nose Throat J. 2005. Vol. 84 (5): 296 – 7.

Destur PJ ,S. Kep

Perawat sekaligus seorang penulis dan juga suka bergabung dalam event organizer. Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi rekan-rekan seprofesi dan juga para pembaca.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker