Klasifikasi Asfiksia Berat, Sedang dan Ringan

0
klasifikasi asfiksia

Senyumperawat.com – Sebelum kita membahas terkait klasifikasi Asfiksia, tentunya akan lebih tepat jika kita bahas pengertiannya. Ada beberapa pendapat terkait pengertian asfiksia. Beberapa di antaranya mari kita simak.

Asfiksia Neonatorum adalah keadaan bayi dimana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan ini disertai hipoksia, hiperkapnia, dan berakhir dengan asidosis. (Marmi & Kukuh, 2012:268)

Asfiksia adalah kegagalan untuk memulai dan melanjutkan pernafasan secara spontan dan teratur pada saat bayi baru lahir atau beberapa saat sesudah lahir. (Sudarti & Fauziah,2013:64)

Asfiksi berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis. Bila proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. (Sarwono, 2005)

Asfiksia neonatorum merupakan suatu keadaan pada bayi baru lahir yang mengalami gagal bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir, sehingga bayi tidak dapat memasukkan oksigen dan tidak dapat mengeluarkan zat asam arang dari tubuhnya. (Dewi Vivian, 2010:102)

Jika disarikan dari sekian pendapat, mungkin rekan-rekan pembaca bisa mengambil kesimpulan sendiri. Pada dasarnya, pengertian asfiksia adalah ketidakmampuan bayi yang baru lahir untuk bernafas secara spontan. Terhitung sejak pertama kali ia lahir.

Etiologi Asfiksia

Pengembangan paru bayi baru lahir terjadi pada menit-menit pertama kelahirannya, setelah itu diikuti dengan pernapasan teratur. Asfiksia janin/bayi baru lahir terjadi apabila terdapat gangguan pertukaran gas atau transport oksigen dari ibu ke janin. Gangguan transport oksigen tersebut dapat timbul pada masa kehamilan, persalinan atau segera setelah lahir. (Maryunani, dkk, 2008:154)

Ada beberapa faktor penyebab etiologi asfiksia yaitu: (Marmi dkk, 2012)

1. Faktor ibu

a. Hipoksia ibu dan gangguan aliran darah uterus
b. Pre-eklamsia dan eklamsia
c. Perdarahan anterpartum
d. Partus lama
e. Demam selama hamil
f. Infeksi Berat (malaria, sifilis dan TBC)
g. Pospartum

2. Faktor plasenta

Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengarahi oleh luas dan kondisi plasenta. Asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasent, misalnya solusio plasenta, perdarahan plasenta dll.

3. Faktor fetus

a. Kompresi umbilicus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilicus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin.
b. Lilitan tali pusat
c. Tali pusat pendek
d. Simpil tali pusat
e. Prolapsus tali pusat

4. Faktor neonatus

a. Bayi premature
b. Mekonium dalam ketuban
c. Depresi pusat pernafasan pada bayi baru lahir yang terjadi karena beberapa hal, yaitu: Pemakaian obat anestesi atau analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin, trauma yang terjadi pada persalinan, kelainan kongenital pada bayi.

Tanda dan Gejala Asfiksia

Gejala dan tanda asfiksia menurut (Sudarti dkk, 2013:64):

1. Tidak bernafas atau nafas megap-megap atau pernafasan lambat (kurang dari 30 kali per menit).
2. Pernafasan tidak teratur, dengkuran atau retraksi (pelekukan dada).
3. Tangisan lemah atau merintih.
4. Warna kulit biru.
5. Tonus otot lemas atau ekstermitas terkulai.
6. Denyut jantung tidak ada atau lambat (kurang dari 100 kali per menit).

Klasifikasi Asfiksia

Klasifikasi Asfiksia menurut (Dewi Vivian, 2010:102)

1. Asfiksia berat (nilai APGAR 0-3)

Pada kasus asfiksia berat, bayi akan mengalami asidosis, sehingga memerlukan perbaikan dan resusitasi aktif dengan segera. Tanda dan gejala yang muncul pada asfiksia berat adalah sebagai berikut:

a. Frekuesi jantung kecil, yaitu < 40 kali per menit.
b. Tidak ada usaha napas.
c. Tonus otot lemah bahkan hampir tidak ada.
d. Bayi tidak dapat memberikan reaksi jika diberikan rangsangan.
e. Bayi tampak pucat bahkan sampai berwarna kelabu.
f. Terjadi kekurangan oksigen yang berlanjut sebelum atau sesudah persalinan.

2. Asfiksia sedang (nilai APGAR 4-6)

Pada asfiksia sedang, tanda dan gejala yang muncul adalah sebagai berikut:

a. Frekuensi jantung menurun menjadi 60-80 kali per menit.
b. Usaha napas lambat
c. Tonus otot biasanya dalam keadaan baik
d. Bayi masih bisa bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan
e. Bayi tampak sianosis
f. Tidak terjadi kekurangan oksigen yang bermakna selama proses persalinan.

3. Asfiksia ringan (nilai APGAR 7-10)

Pada asfiksia ringan, Tanda dan gejala yang sering muncul adalah sebagai berikut:

a. Takipnea dengan napas lebih dari 60 kali per menit
b. Bayi tampak sianosis
c. Adanya retraksi sela iga
d. Bayi merintih (grunting)
e. Adanya pernapasan cuping hidung
f. Bayi kurang aktivitas.
g. Dari pemeriksaan auskultasi diperoleh hasil ronchi, rales, dan wheezing positif.

Daftar Pustaka

  • Vivian Nanny Lia Dewi. Asuhan Neonatus Bayi Dan Anak Balita. Jakarta: Salemba Medika. 2010. H. 11.
  • Sudarti, dkk. 2013. Asuhan Kebidanan Neonatus Risiko Tinggi dan Kegawatan.Yogyakarta.
  • Marmi,dkk.Asuhan Neonatus Bayi, Balita, dan Anak Prasekolah. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.2012.
  • Maryunani Anik.dkk.Buku Saku Asuhan Bayi Baru Lahir Normal. Jakarta: TransIndo Medika.2008.
  • Dewi, Vivian N.L., dan Sunarsih, T. (2013). Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas.Jakarta: Salemba Medika
  • Sarwono. 2005.Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.