Pengertian Kemoterapi, SOP dan Efek Sampingnya

0
Pengertian Kemoterapi, SOP dan Efek Sampingnya

Senyumperawat.com – Pengertian kemoterapi adalah penggunaan antipreparat antineoplastik sebagai upaya untuk membunuh sel-sel tumor dengan mengganggu fungsi dan reproduksi selular. Kemoterapi merupakan salah satu modalitas pengobatan pada kanker secara sistemik yang sering dipilih terutama untuk mengatasi kanker stadium lanjut, lokal maupun metastatis (Desen, 2008).

Jika menurut pengertian kemoterapi di atas, pada dasarnya ini adalah satu metode pengobatan penyakit kanker. Kendati demikian, harus sesuai dengan indikasi penyakitnya. Terlebih lagi harus dengan instruksi dokter.

Tujuan kemoterapi

Kemoterapi sangat penting dan bermanfaat karena bersifat sistemik membunuh sel-sel kanker dengan cara melalui infus (Otto, 2003). Tujuan dari kemoterapi adalah penyembuhan, pengontrolan, dan paliatif harus realistik, karena tujuan tersebut akan menetapkan medikasi yang digunakan dan keagresifan rencana pengobatan.

Obat kemoterapi secara umum disebut sitostatika, efeknya adalah membunuh atau menghambat semua sel yang sedang aktif membelah diri (Smeltzer&Bare, 2002).

SOP tindakan kemoterapi

Menurut (Gale, 2000) Obat kemoterapi dapat diberikan dengan melalui topikal, oral, intravena, intramuskular, subkutan, arteri, intratekal. Pemberian biasanya tergantung pada tipe oat dosis yang dibutuhkan, jenis, lokasi dan luasnya tumor yang diobati.

1.Oral

Obat kemoterapi diberikan secara oral, yaitu dengan bentuk tablet atau kapsul, yang harus diminum beberapa kali sehari. Keuntungan kemoterapi oral ini adalah bisa dilakukan dirumah, dan harus mengikuti jadwal yang telah ditentukan.

2.Intramuskular

Caranya dengan menyuntikkan ke dalam otot, dan pastikan untuk pindah ke daerah penyuntkan lain untuk setiap dosis, karena tempat yang sudah pernah untuk tempat penusukan, dalam penyembuhan akan memakan waktu tertentu yang cukup lama.

3.Intravena

Cara ini adalah yang paling banyak digunakan, yaitu dengan melalui kateter vena sentral atau vena perifer. Ada 4 metode pemberian, meliputi:

a. Bolus, yaitu pemberian obat secara langsung ke dalam vena melalui jarum.
b. Piggyback, yaitu obat diberikan menggunakan botol sekunder dan selang infus primer diberikan bersama dengan obat.
c. Sisi lengan yaitu dengan diberikan melalui spuit dan jarum pada sisi alat infus yang sedang terpasang.
d. Infus yaitu dengan obat ditambahakan ke botol cairan intravena yang akan diberikan (Otto, 2003)

4.Intratekal

Caranya obat dimasukkan ke lapisan sub arakhnoid di dalam otak atau disuntikkan ke dalam cairan tulang belakang.

Efek Samping Kemoterapi

Secara umum, efek samping kemoterapi dapat menimbulkan gangguan saluran cerna, lambung, usus. Kerusakan pada membran mukosa menyebabkan nyeri pada mulut, diare dan stimulasi zona pemicu kemotaksis yang menimbulkan mual dan muntah.

Menurut Smeltzer & Bare (2002) toksisitas kemoterapi yaitu:

  1. Sistem gastrointestinal. Mual dan muntah yang terjadi menetap hingga 24 jam setelah pemberian obat.
  2. Sistem hematopoietik. Agen kemoteraupetik mendepresi fungsi sumsum tulang, yang mengakibatkan menurunnya produksi sel-sel darah baik sel-sel darah merah (anemia), leukosit (leukopeni), trombosit (trombositopenia) dan meningkatkan resiko infeksi dan perdarahan (Susanti & Tarigan, 2012).
  3. Sistem ginjal. Agen kemoterapeutik dapat merusak ginjal karena efek langsungnya selama ekskersi dan akumulasi produk akhir setelah lisis sel. Lisis sel tumor dengan cepat setelah kemoterapi mengakibatkan meningkatnya ekskresi asam urat, yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal.
  4. Sistem kardiopulmonal. Antibiotik antitumor menyebabkan toksisitas jantung kumulatif yang irreversibel dan efek toksik pada fungsi paru.
  5. Sistem reproduksi. Fungsi testis dan ovarium dapat dipengaruhi oleh preparat kemoteraupetik, yang mengakibatkan kemungkinan sterilitas. Pada perempuan dapat terjadi menoupause dini, atau sterilitas permanen. Jika dilihat dari gejala klinik kanker serviks pada stadium lanjut sepert keputihan yang gatal dan berbau busuk, pendarahan kontak, pendarahan spontan dan nyeri yang hebat, maka penyakit ini mengganggu fungsi seksual. Hal ini sangat ditakuti oleh kaum perempuan karena perubahan fungsi seksual merupakan perubahan yang sangat berarti bagi seorang perempuan dikaitkan dengan fungsi dan perannya dalam keluarga yaitu sebagai seorang istri dan ibu.
  6. Sistem neurologis. Dapat menyebabkan kerusakan neurologis seperti neuropati perifer, kehilangan refleks tendon profunda. Efek samping ini bersifat irreversibel, menghilang setelah selesainya kemoterapi. Akibat dari dampak yang tidak diinginkan dari pemberian kemoterapi, maka pasien akan mengalami gangguan fisik atau kelelahan fisik sehingga akan lebih mudah mengalami kecemasan atau stress (Gale, 2000)

Siklus Kemoterapi

Siklus kemoterapi adalah waktu yang diperlukan untuk pemberian satu kemoterapi. Untuk satu siklus biasanya 3-4 minggu sekali, namun ada juga setiap 1 minggu sekali. Sudah ditentukan untuk masing-masing jenis kanker berapa siklus harus diberikan dan berapa interval waktu antar siklusnya.

Daftar pustaka

Desen, W. (2008). Onkologi Klinis. Edisi 2. Jakarta: FKUI.
Otto, S. E. (2003). Buku Saku Keperawatan Onkologi. Jakarta: EGC.
Smeltzer, S. C. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah (Edisi 8). Jakarta: EGC.
Gale, D. &. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta: EGC.
Susanti  & Tarigan (2012). Karakterisitk Mual dan Muntah Serta Upaya Penanggulangan Oleh Penderita Kanker Yang Menjalani Kemoterapi. Diakses tanggal 5 April 2013.

Tinggalkan Komentar