Contoh Prosedur Pengambilan Sampel Analisis Gas Darah

0
Contoh Prosedur Pengambilan Sampel Analisis Gas Darah

Senyumperawat.com – Pemeriksaan gas darah dan PH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai untuk menilai eseimbangan asam basa dalam tubuh. Selain itu juga untuk menilai kadar oksigenasi dan karbon dioksida dalam darah.

Analisis gas darah arteri dilakukan ketika dibutuhkan informasi tentang status asam basa klien. Kontraindikasi dari tindakan ini adalah jika keadaan fibrinolisis sistemik, seperti pada terapi trombolitik merupakan keadaan kontraindikasi relatif.

Tujuan dilakukan analisis gas darah adalah untuk mengetahui:

  • pH darah
  • Tekanan parsial Karbon Dioksida (PCO2)
  • Bikarbonat (HCO3-)
  • Base excess/deficit
  • Tekanan Oksigen (PO2)
  • Kandungan Oksigen (O2)
  • Saturasi Oksigen (SO2)

Standardisasi dalam analisis gas darah:

  • PH normal 7,35-7,45
  • Pa CO2 normal 35-45 mmHg
  • Pa O2 normal 80-100 mmHg
  • Total CO2 dalam plasma normal 24-31 mEq/l
  • HCO3 normal 21-30 mEq/l
  • Base Ekses normal -2,4 s.d +2,3
  • Saturasi O2 lebih dari 90%.

Pemeriksaan analisis gas darah (AGD) dikenal juga dengan nama pemeriksaan “ASTRUP”. Istilah tersebut bermakna suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri.

Pembuluh darah arteri yang mana saja?

Pembuluh arteri yang biasa dijadikan tempat pengambilan sampel darah antara lain:

  • Arteri radialis,
  • Arteri brachialis,
  • Arteri Femoralis.

Prosedur Pengambilan Gas Darah Arteri

1. Alat
Alat yang diperlukan untuk pengambilan darah arteri adalah :

  • Antiseptik (kapas alkohol)
  • Kassasteril
  • Spuit yang steril ukuran 3 cc
  • Heparin
  • Kontainer atau es
  • Label spesimen
  • Sarung tangan
  • Pengalas
  • Bengkok
  • Plester dan gunting

2. Teknik pengambilan darah

a. Persiapan alat dan bahan

  • Cek catatan medik.
    – Termasuk di dalamnya alasan pengambilan spesimen darah. Rasionalnya untuk mengidentifikasi tipe darah yang dibutuhkan dan bagaimana mengumpulkannya.
    – Riwayat faktor risiko perdarahan seperti terapi antikoagulan, gangguan perdarahan, jumlah trombosit yang rendah. Rasionalnya, mengingatkan untuk menyiapkan peralatan tambahan untuk penekanan pada daerah penusukan setelah dilakukannya tindakan.
    – Faktor kontra indikasi dilakukan penusukan pada arteri atau vena misalnya infus intra vena atau keadaan setelah radikal mastektomi. Rasionalnya, mengidentifikasi daerah yang ddak dapat digunakan sebagai tempat
    dilakukannya prosedur tindakan.
  • Siapkan formulir laboratorium.
  • Cuci tangan.
  • Siapkan alat dan bahan.
  • Untuk pengambilan darah arteri : si apkan spuit aspirasi 0,5 ml heparindengan perbandingan 1: 1000 unit/ml
    dari vial. Kemudian lakukan usaha agar heparin menyentuh semua dinding bagian dalam spuit. Rasionalnya, mencegah pembekuan darah. Ini perlu untuk keakuratan analisa darah.

b. Prosedur pelaksanaan

  • Beri salam, panggil pasien dengan namanya.
  • Jelaskan tujuan, prosedur dan lama tindakan yang akan dilakukan kepada klien. Rasional, memberikan informasi pada klien. Penjelasan pada pasien tantang tujuan dari test ini dan pemberitahuan bahwa tindakan ini dapat merimbukan rasa sakit nyeri. (catatan: beberapa institusi mengizinkan diberikan anastesi di area penusukan dengan 1% lidocaine (Xilocaine) akan mempersiapkan diri pasien, atau pada bayi dioleskan
    anestesi semprot/salep.
  • Beri kesempatan pada klien untuk bertanya. Menanyakan keluhan utarna klien. Memulai tindakan dengan cara yang baik.
  • Jaga privacy klien.
  • Dekatkan peralatan pada klien.
  • Atur posisi klien agar nyaman.
  • Identifikasi tempat penusukan.
  • Posisikan klien dengan lengan ekstensi dan telapak tangan menghadap keatas.
  • Letakkan pengalas.
  • Pakai sarung tangan.
  • Palpasi arteri radial dan brakial dengan jari tangan. Tentukan daerah pulsasi maksimal. Rasional, mengidentifikasi dimana letak arteri yang paling dekat dengan permukaan kulit.
  • Lakukan test Allen. Rasional, untuk mengkaji keadekuatan sirkulasi kolateral pada arteri ulnaris. Sirkulasi kolateral ini penting bila arteri radialis terobstruksi oteh trombus setelah dilakukan tindakan penusukan. Untuk melakukan test Allen, lakukan penekanan pada kedua denyutan radialis dan ulnaris dari salah satu pergelangan tangan pasien sampai denyutannya hilang. Tangan menjadi pucat karena kurangnya sirkulasi
    ke tangan. Lepaskan tekanan pada arteri ulnaris. Jika tangan kembali normal dengan cepat (tangan akan kemerahan dalam 10 detik), hasil test dinyatakan negatif dan penusukan arteri dapat dilakukan pada pergelangan tangan tersebut. Jika setelah dilakukan pelepasan tekanan pada arteri ulnaris tangan tetap pucat, artinya sirkulasi ulnaris tidak adekuat. Hasil test dinyatakan positif dan pergelangan tangan yang lain
    harus ditest. Bila hasil test pada kedua pergelangan tangan adalah positif, arteri femoralis harus dieksplorasi.
  • Stabilisasikan arteri radial dengan melakukan hiperekstensi pergelangan tangan; stabilisasi arteri brakialis dengan melakukan hiperekstensi siku. Rasional, mencegah agar arteri tidak “menghilang” ketika jarum ditusukkan.
  • Disinfeksi daerah penusukan di sekitar pulsasi maksimal dengan kapas alkohol dengan gerakan sirkuler dari dalam ke luar atau dengan usapan satu arah. Rasional, mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam arteri
    dan sistem vaskular.
  • Pegang kapas akohol dengan jari tangan dan palpasi pulsasi lagi.
  • Pertahankan jari tangan di daerah proksimal dan daerah penusukan. Rasional, memastkan keakuratan insersi jarum, mencegah masuknya mikrooganisme dalam darah.
  • Masukkan jarum, dengan sudut 60-90 derajat (sesuai dengan lokasi), langsung ke dalam arteri. Rasional, sudut ini mengoptimalkan curah darah ke dalam jarum.
  • Perhatikan masuknya darah ke dalam spuit yang terlihat seperti”denyutan”. Hentikan menusukkan jarum lebih jauh bila terlihat “denyutan” ini. Rasional, mengindikasikan keakuratan penempatan jarum dalam arteri, pergerakan lebih jauh dapat menempatkan ujung jarum pada dinding arteri atau ke luar dari arteri. Sampel darah arteri yang baik sebaiknya menggunakan tekanan hisap minimal, dan secara normal, darah naik ke dalam spuit dengan sendirinya.
  • Pertahankan posisi dan tunggu sampai terkumpul 2-4 ml (atau sesuai kebutuhan) darah ke dalam spuit.
  • Letakkan kapas akohol di atas daerah penusukan dan tarik jarum. Lakukan penekanan sesegera mungkin dengan menggunakan kapas alkohol tersebut. Rasional membatasi jumlah perdarahan dari daerah penusukan.
  • Pelihara kontinuitas penekanan selama 5′ (atau selama 10′ bila klien menerima antikoagulan). Rasional,
    memastikan waktu yang cukup untuk pembentukan formasi pembekuan. Penekanan ini lebih lama dibandingkan ketika dilakukan pengambilan darah vena karena faktor curah darah dalam arteri.
  • Keluarkan udara dari spuit.
  • Ujung jarum ditusukkan ke dalam gabus.
  • Pasang label identitas (nama pasien, tanggal, jam, suhu tubuh saat pengambilan, ruangan) di spuit.
  • Pastikan sampel dianalisis dalam waktu 5-10 menit, atau ditransport dalam freezer.
  • Bersihkan daerah penusukan dengan kapas alkohol.
  • Monitor tempat penusukan terhadap adanya perdarahan dengan melakukan inspeksi dan palpasi. Rasional, mengidentifikasi hematoma atau perdarahan. Lakukan balutan tekan (pressure dressing) jika perdarahan berlanjut.
  • Bereskan peralatan.
  • Lepaskan sarung tangan.
  • Evaluasi hasil yang dicapai (subyektif dan obyektif)
  • Beri reinforcement positif pada klien.
  • Mengakhiri pertemuan dengan baik.
  • Cuci tangan.
  • Dokumentasi. Dokumentasikan tindakan yang sudah dilakukan, meliputi:
    • Waktu dilakukannya prosedur.
    • Jenis pemeriksaan yang dilakukan
    • Keadaan kulit (kemerahan, perdarahan benebihan)

Source: Modul SkillabA-JILIDI, Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed dalam https://fk.unsoed.ac.id

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.