Peran Suami Ketika Istri Mengalami Baby Blues Jelang Persalinan

Peran Suami Ketika Istri Mengalami Baby Blues Jelang Persalinan

Senyumperawat.com – Baby blues jelang persalinan memang biasa dialami oleh para ibu. Banyak kecemasan yang mungkin timbul. Baik kecemasan terhadap diri sendiri maupun bayinya. Baik kecemasan terhadap lingkungan atau kondisi setelah persalinan terjadi. Banyak perkara yang mungkin dipikirkan oleh sang ibu. Kondisi hormonal ibu yang juga labil menjadikan baby blues jelang persalinan semakin menguat.

“Ibu yang mengalami baby blues butuh dukungan emosional. Jadi kalau istrinya bilang takut dan khawatir, ditanya apa yang dirasakan. Kalau takut, takutnya kenapa. Kalau khawatir, khawatirnya kenapa,” tutur psikolog dari Tiga Generasi, Della, M.Psi, Psikolog, di sela-sela Mother and Baby Fair yang digelar di Balai Kartini, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Jumat (29/9/2017) dikutip dari laman haibunda.

Muat Lebih

Baca juga:

  1. Cara Mengurangi Nyeri Persalinan Tanpa Obat
  2. Timbulnya Kontraksi di Awal Persalinan
  3. Didampingi Suami Saat Melahirkan Bikin Prosesnya Lebih Mudah

Peran suami mengatasi istri yang baby blues

Suami dituntut untuk lebih pengertian. Tingkat kecemasan ibu hamil bisa saja semakin meningkat. Jika suami justru menjadi penambah kecemasan, ini semakin mempersulit kondisi. Boleh jadi, istri semakin manja ketika istri mengalami baby blues jelang persalinan. Maka, butuh kedewasaan dalam menghadapi hal ini.

Kata Della, sebenarnya nggak cuma dukungan suami saja yang perlu, tapi juga keluarga dekat lainnya seperti mertua, orang tua kandung, serta saudara lain. Karena tanpa dukungan yang memadai, ibu akan merasa sendiri, sehingga dia akan memendam keluhannya sendiri dan menganggap normal sesuatu yang sebenarnya tidak normal atau tidak baik bagi kesehatan jiwanya.

Baby Blues itu wajar

Baby blues sendiri sebenarnya kondisi normal yang dialami 50-85 persen ibu seusai melahirkan karena hormon. Nah, gejalanya adalah sensitif atau emosional, mudah tersinggung, serta mudah menangis tanpa alasan yang jelas. Selain itu gejala lainnya adalah cemas dan lelah.

“Gejala ini berlangsung paling lama dua minggu sesudah melahirkan. Akan hilang sendiri tanpa butuh bantuan atau penanganan lebih lanjut,” sambung Della.

Tapi waspadai kalau baby blues terjadi berkepanjangan dan memburuk ya Bun, karena bisa menjadi post partum depression. Saat terkena post partum depression, maka ibu bisa mengalami gangguan pola tidur, gangguan pola makan, juga sulit bonding dengan bayi.

Nggak cuma itu, ibu juga bisa merasakan mood swing yang drastis, bahkan berpikir untuk melukai diri sendiri dan bayinya. Hal ini bisa dialami berbulan-bulan dan bahkan sampai satu tahun.

“Orang dengan post partum depression sering merasa merasa tidak bisa mencintai anaknya, nggak ada koneksi, malah ada yang nggak mau menggendong anaknya,” tutur Della.

Pos terkait