Kasus Penyakit Akibat Rokok Paling Banyak Sedot Dana BPJS, Bahkan Sampai Rp 7,4 Triliun

0
Dana BPJS (foto: kantor BPJS Yogyakarta, Republika)

Senyumperawat.com – Dana BPJS terlalu banyak dikeluarkan untuk penyakit-penyakit yang ditimbulkan karena gaya hidup tidak sehat. Misalkan merokok, termasuk penguras dana BPJS terbesar. Dikutip dari laman pdpersi, kasus penyakit tidak menular, yang salah satunya dipicu rokok. Rokok merupakan ancaman serius bagi keberlangsungan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Epidemi konsumsi rokok di Indonesia telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Lebih dari sepertiga penduduk atau 36,3% merupakan perokok. Sebanyak 20% remaja usia 13 tahun hingga 15 tahun adalah perokok. Hal ini perlu segera mendapatkan perhatian khusus. Ada kontradiksi yang cukup kentara telah terjadi. Satu sisi, kesehatan harus ditingkatkan. Namun di sisi lain, rokok dilegalkan untuk menjadi barang konsumsi.

Bahkan, prevalensi perokok laki-laki dewasa di Indonesia bahkan yang paling tinggi di dunia, yaitu 68,8%. Padahal, rokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung dan pembuluh darah, serta penyakit paru.

“Biaya untuk penyakit jantung dan pembuluh darah saja Rp6,59 triliun. Beberapa hari lalu saya bertemu Direktur Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, bahkan dikatakan mencapai Rp7,4 triliun,” kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengatakan saat membuka Konferensi Indonesia untuk Tembakau atau Kesehatan (ICTOH) ke-4 di Jakarta, hari ini.

ICTOH ke-4 merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2017 yang diperingati setiap 31 Mei. Pertemuan tersebut diselenggarakan Kementerian Kesehatan Indonesia bersinergi dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Tobacco Control Support Center (TCSC) IAKMI

Data BPJS Kesehatan itu, kata Nila, valid karena lembaga itu hanya akan mengeluarkan dana bila pasien didiagnosis dengan benar.

“Mayoritas penyakit tidak menular diasosiasikan dengan gaya hidup tidak sehat, yaitu kurang olahraga, kurang konsumsi buah dan sayuran, serta merokok dan minum minuman beralkohol,” tutur Nila.

Selain mengancam program JKN, penyakit tidak menular dan konsumsi tembakau juga mengancam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Karena itu, penanggulangan penyakit tidak menular dan pengendalian konsumsi rokok menjadi salah satu upaya untuk mencapai tujuan pembangunan tersebut. (Destur/pdpersi)

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.