Cara Menurunkan Demam Tanpa Obat Pada Anak

Anak Penyakit

Senyumperawat.com – Mungkin kini masih menjadi pembahasan menarik bagi para orang tua. Cara menurunkan demam tanpa obat pada anak, satu bagian yang amat penting. Kadang ada orang tua yang sangat kaku dalam memilih obat. Memilih anti pada obat medis tapi belum begitu paham tentang obat non medis. Kadang sampai dijumpai anak mengalami kejang demam karena terlalu dianggap sepele.

Cara menurunkan demam tanpa obat pada anak sebenarnya tidaklah mustahil. Tentu hal ini akan terkait dengan penyebab demam dan tingkat keseriusan demamnya. Boleh jadi, panik adalah respon awal kala Anda mendapati anak sedang demam. Oleh karena itu, kami mengingatkan pula bahwa dalam kondisi seperti apa pun upayakan jangan panik. Sebab, ketika sudah terlanjur panik maka pikiran akan semakin rumit untuk berpikir akan bertindak bagaimana.

Demam pada dasarnya adalah salah satu gejala dari respon tubuh terhadap benda asing. Benda asing di sini maksudnya virus atau bakteri. Ada kalanya tubuh bisa dengan cepat beradaptasi mengatasi bakteri dan virus itu. Tapi ada masanya pula, tubuh sedang dalam kondisi kurang baik. Oleh karena itu, menurunkan demam dengan bantuan obat semisa Paracetamol atau Ibuprofen, hendaknya menjadi alternatif setelah mencoba tanpa obat.

Cara menurunkan demam tanpa obat pada anak:

  1. Berikan kompres hangat pada bagian lipatan tubuh seperti leher, ketiak atau selakangan. Pada bagian permukaan tubuh yang luar juga boleh semisal dada sampai perut.
  2. Berikan asupan cairan yang cukup karena kondisi demam akan beresiko dehidrasi.
  3. Jauhkan dari paparan AC.
  4. Mandikan anak. Hal ini pernah dilakukan oleh Rosulullah.
  5. Periksa suhu tubuh secara berkala. Jika dijumpai suhu mencapai lebih dari 38 derajat maka segeralah bawa ke dokter. Termasuk jika dijumpai gejala penyakit lain.

Berikut ini petuah Ibnul Qoyyim perihal demam

Apabila Rasulullah SAW menderita demam, beliau meminta didatangkan kantong air, lalu beliau menyiramkan di kepala beliau, lalu beliau mandi.

Termuat di dalam “As-Sunan”, dari hadis Abu Hurairah, dia berkata, “Penyakit demam disebutkan di samping Rasulullah SAW, lalu seorang lelaki mencelanya. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau mencelanya, sebab ia menghapuskan dosa-dosa sebagaimana api menghilangkan karat besi.”

Oleh karena itu, demam diikuti oleh pencegahan makanan yang tidak bermutu dan harus memakan makanan dan obat yang bermanfaat—yang berkhasiat untuk pemurnian badan, penghilangan kotoran dan sisa-sisanya, dan pembersihan dari materi-materi yang tidak baik.

Adapun pembersihan demam terhadap hati dari kotoran dan dakinya serta pengeluaran kandungan-kandungnnya yang tidak bermutu, merupakan urusan yang hanya diketahui dan ditemukan oleh dokter-dokter hati. Sebagaimana diberitakan oleh Nabi SAW.

Akan tetapi, bila penyakit hati telah mencapai pada tingkatan yang tidak ada harapan lagi untuk disembuhkan, maka pengobatan seperti ini tidak akan bermanfaat baginya.

Sebuah riwayat juga mengatakan, demam sehari adalah kaffarah setahun. Dalam hal ini ada dua pendapat. Demam yang memasuki setiap anggota dan ruas tubuh, yang jumlahnya tiga ratus enam puluh ruas, untuk menghapuskan dosa-dosa hari ini sesuai dengan jumlah ruas.

Demam memberikan pengaruh kepada badan yang tidak hilang secara keseluruhan dalam setahun, seperti dikatakan Nabi SAW, “Barang siapa yang meminum khamr, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari.”

Ini berarti bekas khamr akan tetap berada dalam perut hamba Allah, uratnya dan anggota badannya selama empat puluh hari.

Abu Hurairah juga berkata, “Tidak ada satu penyakit pun yang menimpaku, yang lebih aku sukai selain demam. Karena ia masuk ke dalam setiap anggota badanku dan Allah SWT memberikan kepada setiap anggota bagian pahalanya.”

At-Tirmidzi meriwayatkan di dalam Al-Jami’-nya, dari hadis ibnu Rafi’ ibnu Khadij, yang dimarfu’kan kepada Nabi, “Apabila salah seorang diantara kamu ditimpa demam, dan demam adalah sepotong dari neraka, maka hendaklah ia memadamkannya dengan air yang dingin dan hendaklah ia menghadap ke sungai yang mengalir.”

“Hendaklah ia menghadap ke air yang mengalir sesudah terbit fajar dan sebelum terbit matahari. Dan hendaklah ia mengucapkan, “Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu dan teguhkanlah rasul-Mu.” Dan hendaklah ia berbenam di dalamnya tiga kali selama tiga hari. Jika tidak sembuh berbenam lima kali, maka ia harus berbenam tujuh kali.” (Kitab Thibb An-Nabawi oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.