Berbagi Suka-Duka Menjadi Perawat di Arab Saudi, Kamu Mau Juga?

0
Berbagi Suka-Duka Menjadi Perawat di Arab Saudi

Senyumperawat.com – Ini adalah sekelumit dari sekian banyak kisah menjadi perawat di Arab Saudi. Tidak banyak memang yang berkenan menulis karena menulis adalah hobi. Mungkin sekarang lebih banyak yang pakai media video sebagai komunikasi. Namun dari itu semua, tetaplah sama esensinya yakni berbagi kisah. Kisah di bawah adalah pengalaman nyata. Disadur dari blog pribadinya, Violeta, begitu nama pena yang ia sematkan.

Violeta membagikan kisah suka-duka selama menjadi perawat di Arab Saudi. Kita pahami bersama bahwa menjadi perawat di luar negeri tidaklah mudah. Kendala paling sulit adalah perihal bahasa. Menjadi perawat di Arab Saudi pun harus terampil perihal bahasa. Bahasa Arab yang digunakan sebagai bahasa keseharian harus dikuasai.

Mari kita simak, bagaimana sebenarnya suka-duka di Arab Saudi. Apakah lebih banyak suka atau dukanya. Tapi semestinya harus banyak sukanya karena semakin dekat dengan Kakbah.

 Assalamualaikum Indonesia…

Bulan ini terasa mengesankan karna tepat tahun lalu menginjakkan kaki di negara ini, Arab Saudi. Saya bekerja sebagai Saudi Private Nurse di Jeddah. Baru 1,5 bulan berada disini. Karena sebelumnya 10 bulan di Riyadh. Karena pasien disana meninggal, maka perusahaan mengirim saya kesini.

Well. Beberapa di antara teman-teman sering kali menanyakan, enak nggak sih kerja di Arab Saudi?

Bagi saya, ini pertanyaan sulit. Atau justru terkesan retoris. Karna jika menjawab tidak, kalian akan menganggap negara ini kejam. Jika menjawab enak. Pada kenyataan, ada dukanya.

Awal datang kesini, saya tidak betah. Serius. Selama 2 bulan, menangis hampir setiap hari. Kenapa? Karena ditempatkan di satu rumah yang luckily, saya satu-satunya dari Indonesia. Jujur saja, saya sangat terpukul. Karna mau tidak mau harus berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Dengan kemampuan elementary school, saya sering kali ditertawakan. Bahkan dikucilkan.

Meski di Indonesia belajar Bahasa Inggris dari SD, tetapi jarang sekali mempraktikkan. Pembelajaran sebatas guru memberi materi, murid menangkap, ujian bisa mengerjakan. Dan, inilah saya hasil konkrit dari sistem itu. Lidah tidak terbiasa. Dari hati Ingin mengucapkan ‘bathroom’, tapi justru terdengar ‘bedroom’.

Salah satu teman dari Philippine marah ketika saya menceritakan tentang keindahan pantai di Pulau Palawan Philippine. Ternyata artikulasi saya bukan beach, tapi… you know what I mean lah. Dan itu fatal! Sumpah! Malu bukan main!

Dan kekurangan dalam berbahasa arab, sering membuat saya terpojok. Saya tidak pernah sekalipun, seumur hidup, mendapat pelajaran Bahasa Arab. Karena selalu berada di sekolah nasional. Maka pertanyaan membunuh setiap waktu terhunus, “Kamu kan islam, kok nggak bisa Bahasa Arab? Bukannya kitabmu itu berbahasa arab? Jangan-jangan kamu islam palsu!” mereka tertawa terbahak-bahak.

Belum lagi persaingan antar negara. Pengetahuan keperawatan dihajar habis-habisan. Saya yang memang dasar pelupa, meraba-raba ketika pembahasan masuk ke masalah sirkulasi tubuh, anatomi hingga detail ke sel-sel. Diskusi itu biasa di gelar dokter dan perawat. Terakhir membaca anatomi sel tubuh manusia sepertinya 2 tahun lalu di kampus. Sekarang benar-benar mati kutu!!

Parahnya diskusi bukan lagi tentang you and I. Tapi merambah menjadi dari mana asalmu dan ilmu apa yang kamu bawa. It’s mean that negara saya dipertaruhkan! Itu di kepala teringat bendera merah putih dan para pahlawan yang telah gugur.

Sedihnya pula karna jauh dari orang tua. Klise banget kalau ini sih. Derita perantau. Apapun tergantung dengan paket internet, wifi dan sinyal. Saya tidak tahu apa jadinya jika belum ditemukan video call. Oh God! Video call ini menjadi penyelamat jarak.

Ketika mama opname di Rumah Sakit. Melihat ponakan pertama lahir masih berlumur darah (persis iklan di TV). Melayat Pakdhe yang meninggal, Itu kamera diletakkan sejengkal dengan wajah jenazah. Sampai ucapan selamat penikahan di malam terakhir sahabat melepas masa lajang. Semua lewat video call.

Dan pertanyaan paling menusuk, hingga membelah rusuk bukan lagi, ”kapan nikah?”. Tapi, “kapan pulang?” yakin, itu sakit sesakit-sakitnya. Karena of course, saya jadi ingat kontrak kerja yang masih lamaaa… So, please guys, tenang saja. Saya akan pulang pada waktunya.

Well. Sebenarnya itu berita mengenaskan. Jadi bagaimana sisi yang lain?

Happy-nya, disini bertemu orang-orang dari berbagai negara. Bahkan 6 bulan saya tidak bertemu orang Indonesia. Jadi pasti tidak berbicara dalam Bahasa Indonesia selain saat telfon dengan keluarga. Pertama kali bertemu dengan orang Indo. Lidah kaku! Bahkan lupa Bahasa Indonesianya mister. Serius. Mulut menolak untuk sekadar mengucapkan, “Bapak dari kota mana?”. Hingga bapak tersebut terkekeh bilang, “Nggak apa-apa. Awal saya kesini juga begitu. Lupa bahasa Indonesia.” saya meminta maaf berkali-kali.

Bagi saya, meninggalkan Indonesia tidak sekadar mencari ilmu. Tapi disinilah kepribadian dan mental saya di tempa. Bagaimana menaklukkan ketakutan dan berdamai dengan tantangan. Kompleksnya masalah membuat mau tidak mau harus bertahan dan berusaha lebih kuat lagi. Pula karna di negara ini islam pertama datang membawa cahaya. Maka bagi saya pribadi, keislaman diri menjadi lebih tertanam.

Beberapa kali terkena marah atasan karna shalat terlambat. Bahkan sampai di ingatkan dan diawasi di hari-hari selanjutnya. Maka alasan ‘sibuk bekerja hingga meninggalkan shalat’, tidak mempan disini. “Jika adzan terdengar, ambil wudhu, langsung shalat. Tinggalkan apapun yang sedang kamu kerjakan!!”

Teman-teman juga tidak berhenti mengingatkan puasa sunnah, membaca Quran, dan shalat dimana saja. Di emperan toko, di dalam supermarket hingga di tepi jalan raya yang berpasir.

“Bukankah bekerja adalah aktivitas mengisi waktu sembari menunggu adzan?” dan pertanyaan, “kalau besok kamu mati gimana? Apa yang kamu bawa?” adalah pecut mereka ketika saya dirundung malas-malasan puasa sunah dan shalat tepat waktu.

Kesempatan menakjubkan adalah bisa umroh. Ke belahan bumi mana lagi kita akan menuju jika bukan ke tanah yang paling Ia berkahi?

Seorang saya yang bahkan tak punya uang untuk ke Makkah, justru diajak oleh keluarga pasien dan kesemuanya dibiayai beliau. Dari tiket pesawat PP Riyadh-Jeddah, hotel tepat di depan Masjidil Haram, hingga makan 3x sehari. Bahkan ketika mengucapkan terima kasih yang tak putus-putus, beliau dengan senyum tulus berkata, “ini semua dari Allah, lewat perantara saya.” saya menghambur dipelukannya.

Dan kado ulang tahun terindah di Bulan Juni lalu adalah, ajakan ke Madinah tepat di bulan suci Ramadhan. Sekali lagi, dengan cuma-cuma. Bahkan diberi uang tambahan untuk belanja di pertokoan sekitar Masjid Nabawi. Alhamdulillah… Alhamdulillah…

Jadi teman, saya tidak bisa menjawab utuh apakah bekerja disini enak atau tidak. Tapi kesemua yang saya alami membawa ke keduanya. Maka pilihan itu juga ada di tangan kalian. Saya berharap tulisan ini sedikit memberi pandangan. Karena berbeda orang, berbeda masalah, lain pula ceritanya. Salah satu teman dari Indonesia ada yang setiap bulan umroh. Tapi saya tahu, tantangannya juga lebih pelik. Karna hukum Allah disini jelas sekali. Apa yang kau semai, itu yang kau tuai.

Selepas shalat isya, seorang nenek meminta botol bekas minum saya untuk diisi air zam-zam. Sebenarnya saya juga butuh untuk di penginapan, tapi saya berikan saja. Esoknya, setelah shalat dhuhur di depan ka’bah. Di bawah terik matahari. Ada wanita yang tidak saya kenal membawakan segelas air zam-zam dingin. Tepat saat saya bergumam dalam hati, “haus.”

*Violeta
Jeddah, KSA. 2 Agustus 2016. 08.16 am

Tinggalkan Komentar