Meskipun Orangtuanya Tunanetra dan Miskin, Retno Lulus Jadi Bidan dengan Nilai Cumlaude

Rumah Singgah Retno Beserta Orang Tuanya. (Foto: Netz)

Retno Lulus Jadi Bidan dengan Nilai Cumlaude. (Foto: Netz)

Senyumperawat.com – Pengalaman pahit itu seolah menjadi sumber kekuatan bagi Retno Puji Astuti untuk bisa membuktikan bahwa kemiskinan tak menghalangi haknya untuk bisa berprestasi.

Retno sendiri terlahir dari orang tua yang memiliki keterbatasan ekonomi dan tunanetra. Tapi kondisi itu justru jadi motivasi utamanya untuk semangat belajar dan mencari beasiswa.

Retno dan kedua orang tuanya sendiri tinggal disebuah bangunan kosong yang tak terpakai di Desa Jatirejo, Kulonprogo, Yogyakarta. Bahkan kondisi bangunan kosong yang telah ditempatinya lebih dari 30 tahun ini memiliki atap yang rapuk dan nyaris roboh.

Kedua orang tuanya yang mengalami tunanetra sejak lahir membuat kehidupan Retno serba pas-pasan. Untuk menopang kehidupan sehari-hari, ayah Retno, Wakijo bekerja sebagai tukang pijat panggilan. Dengan upah berkisar Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu dalam seminggu.

Uang tersebut ditabung untuk membiayai kuliah Retno. Setelah 16 tahun mengenyam bangku pendidikan, Retno kini telah berhasil menyelesaikan kewajibannya. Ia berhasil menyelesaikan kuliahnya selama tiga tahun dengan IPK 3,72 dan mendapatkan predikat cumlaude sebagai calon bidan.

Rumah Singgah Retno Beserta Orang Tuanya. (Foto: Netz)

“Yang pasti saya dapat membahagiakan orangtua. Sebetulnya saya malah bangga punya kedua orangtua ini, jerih payah mereka semua hanya untuk anak, mereka bahkan enggak pernah mikir kemauan sendiri,” papar Retno saat ditemui oleh Tim Liputan NET pada Selasa, 5 September 2017 lalu.

Perjuangan Retno untuk berhasil tak hanya sampai di situ. Pihak kampus tempat ia berkuliah, STIKES Akbidyo Yogyakarta juga menganggkatnya untuk jadi salah satu karyawan di laboratorium praktek.

Pihak yayasan juga rencananya akan memberikkan beasiswa untuk Retno menempuh S2. Ini semua agar Retno bisa menjadi dosen di tempatnya bernaung menempuh pendidikan selama ini.

Kesuksesan yang diraih Retno tentu membuat kedua orang tuanya bangga. Jerih payah Wakijo dan istrinya, Suprih Mulyani seakan terbayarkan.

“Saya adalah orang bodoh. Keluarga saya juga tidak ada yang kuliah. Maka, jangan sampai keturunan saya juga ikut bodoh. Kalo bisa ada yang kelihatan, ada yang menonjol,” papar Wakijo.

Kisah perjuangan Retno ini kemudian jadi viral di media sosial. Apa yang dialaminya jadi bukti, bahwa kemiskinan bukan menjadi batas bagi seseorang untuk mendapatkan prestasi. Doa dan kerja keras jadi kunci utama untuk meraih apapun yang menjadi cita-cita. (Destur/Netz)

Share

This website uses cookies.