Perawat Sandra: Sudah kuliah kesehatan mahal-mahal tapi ujung-ujungnya jadi pengangguran juga

0
Sudah kuliah kesehatan mahal-mahal dan juga mendapat beasiswa dari pemerintah, tapi ujung-ujungnya jadi pengangguran juga

Senyumperawat.com – Berdasarkan data Badan Pusat Styatistik, jumlah penduduk Indonesia yang tidak memiliki pekerjaan bertambah. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, angka pengangguran terbuka pada Februari 2015 mencapai 5,8 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,7 persen. Berdasarkan laporan BPS, jumlah angkatan kerja pada Februari 2015 mencapai 128,3 juta orang.

Dari jumlah itu, terdapat 7,45 juta orang yang menganggur. Sedangkan pada Februari tahun lalu, jumlah angkatan kerja sebanyak sebanyak 125,3 juta orang, dengan pengangguran sebanyak 7,15 juta.

Kemudian jumlah penduduk yang tidak bekerja secara penuh mencapai 35,7 juta jiwa pada tahun ini. Dari total tersebut, pekerja yang setengah menganggur dan bekerja paruh waktu masing-masing 10,4 juta jiwa dan 25,64 juta jiwa.

Berdasarkan tingkat pendidikan, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang menganggur naik paling tinggi yakni 9,05 persen. Diikuti oleh pengangguran dari lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) 8,2 persen.

Selanjutnya, lulusan Diploma III dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) masing-masing 7,5 persen dan 7,14 persen. Sedangkan lulusan Sarjana yang menanggur naik 5,34 persen, dan Sekolah Dasar (SD) ke bawah naik 3,61 persen.

Salah seorang warga Bulungan dan alumnus Diploma Tiga Kesehatan, Sandra (22) mengaku sulit mendapatkan pekerjaan.

Pasca lulus dan diwisuda pada November 2014 atau dengan kata lain, Sandra menganggur kurang lebih nyaris setahun.

Sedianya Sandra telah melamar di rumah sakit, puskesmas, dan klinik, tapi belum juga dipanggil-panggil untuk bekerja.

“Perawat sekarang susah cari kerja, karena terkendala dengan Surat Tanda Registrasi (STR), untuk menandakan bahwa perawat itu sudah Sah, tapi untuk mengurus itu sangat sulit,” ucap Sandra.

Dirinya pun berharap pemerintah daerah jangan mempersulit kepengurusan STR. STR penting, tapi setidaknya bisa menyusul karena yang terpenting sudah lulus ujikom.

“Sudah kuliah kesehatan mahal-mahal dan juga mendapat beasiswa dari pemerintah, tapi ujung-ujungnya jadi pengangguran juga,” cetus Sandra.

Nasib serupa juga memayungi Agus (29). Sejak lulus S-1 Jurusan Pendidikan Matematika tiga tahun lalu, Agus hijrah ke Bulungan berharap dapat kerja di pemerintahan. “Saya sudah masukkan beberapa lamaran di instansi, tapi belum ada panggilan sama sekali. Saya ingin di pemerintahan, karena gaji bekerja diswasta juga kecil,” aku Agus.

Pengangguran para fresh graduate tak henti di situ saja. Kali ini dialami Ilham Syafutra. “Sudah setahun saya nganggur,” kata Ilham. Ilham mengaku pernah kerja di supermarket sebagai PSG. “Tapi, setelah lulus saya sudah masukkan lamaran di kantor-kantor dan sampai sekarang belum juga dipanggil,” tutup dia. (Destur/Prokal)

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.