Kontroversi Lotus Birth Mencuat Kembali, Berikut Ini Beberapa Sanggahan Ilmiahnya

0
kontroversi lotus birth
Kontroversi Lotus Birth (Foto: Jezebel.com)

Senyumperawat.com – Kontroversi Lotus Birth mulai mencuat akhir-akhir ini. Sebenarnya kontroversi Lotus Birth sudah lama ada. Namun memanas kembali karena beberapa personal menerapkan metode melahirkan seperti ini. Kalau kita merujuk pada sebuah teori ilmiah, maka kedua kubu yang pro dan kontra memiliki alasan tersendiri. Namun yang namanya ilmiah tentu bisa dibuktikan dengan uji empiris sesuai fakta dan data yang bisa diukur.

Maka sejatinya apakah akan memilih pro atau kontra, tergantung dari banyak sisi juga. Anda perlu memahami yang pertama bagaimana dari sisi agama. Kemudian, baru disikapi dari sisi ilmu pengetahuan secara kedokteran.

Kalau membahas soal agama, kontroversi Lotus Birth tentu tidak perlu panjang memahaminya. Tinggal dikembalikan kepada studi referensial terhadap kandungan Al Quran dan Sunnah. Jika Anda adalah seorang muslim.

Di tinjau dari segala aspek ilmiah dalam Islam, sebenarnya belum ada penjelasan terkait metode kontroversi Lotus Birth. Namun Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wa sallam tidak pernah melarang umatnya untuk mengembangkan urusan duniawi. Sejatinya, dalam urusan duniawi secara umum hukumnya boleh. Tapi, ada batasan dalam memaknai boleh itu.

Misalkan, tidak bertentangan dengan kaidah dasar halal-haram. Tidak memberikan dampak yang jauh lebih buruk. Tidak menuai kontroversi di tengah masyarakat sehingga membuat kekacauan dan keributan. Serta batasan-batasan lain yang lazim kita pahami.

Perihal Lotus Birth, mungkin kita juga perlu menelusuri sejarahnya. Jika dalam Islam tidak ada, maka sebagai umat Islam tentu cukup ditanyakan dalam hati “Jika Islam tidak mengajarkan tapi agama lain mengajarkan, kenapa pilih ajaran agama lain?”.

Sekilas sejarah Lotus Birth

Dikutip dari laman beritagar.id, dijelaskan bahwa Lotus Birth terinspirasi dari gerakan kembali ke alam ini sebenarnya sudah dilakukan oleh masyarakat tradisional di beberapa daerah di dunia, termasuk di Bali. Kemudian diperkenalkan di Australia dan Amerika Serikat sejak tahun 1974.

Hal ini tercantum dalam buku karya Dr. Sarah Buckley yang berjudul Gentle Birth, Gentle Mothering: the wisdom and science of gentle choices in pregnancy, birth and parenting. Di Indonesia metode ini mulai populer, dan mulai dijalankan oleh beberapa selebritas.

Para ibu yang memilih mempraktikkan metode lotus birth ini meyakini berbagai manfaatnya. Selain sebagai praktik kembali ke alam dan meminimalkan penggunaan obat-obatan kimia, berikut beberapa manfaat lotus birth seperti dilansir dari situs Majalah Kartini:

  1. Tambahan darah sampai sekitar 100 ml, hal ini akan membuat bayi tidak kekurangan hemoglobin,
  2. Bayi juga akan mendapatkan pasokan darah yang cukup untuk jantung dan otak,
  3. Karena plasenta dianggap sebagai bagian dari bayi yang tersambung dengan ibu, maka pemotongan plasenta sesaat setelah lahir merupakan tindakan yang tidak manusiawi. Membiarkan plasenta tetap terhubung juga merupakan penghormatan terhadap bayi, dan memperkenalkan dunia tanpa paksaan.
  4. Metode lotus birth lebih mendekatkan hubungan antara ibu dan bayi
  5. Tanpa pemotongan tali pusat, maka risiko terkena infeksi pada luka bekas potongan akan berkurang
  6. Plasenta dapat membuat bayi memiliki kekebalan tubuh yang lebih tinggi, karena dapat memberikan tambahan makanan, oksigen dan antibodi untuk bayi.

Namun pendapat ini masih dianggap kontroversial di dunia kedokteran. Dikutip dari Detik, dokter Frizar Irmansyah, SpOG mengatakan bahwa belum ada penelitian terhadap metode lotus birth ini.

Dokter Frizar juga menyatakan bahwa secara medis, tali pusat harus segera dijepit atau diklem untuk mencegah bayi menjadi kuning karena bilirubin yang tinggi. Apalagi jika terjadi kasus perbedaan rhesus darah ibu yang berbeda dengan darah bayi, untuk menghindari bercampurnya darah ibu dengan darah bayi.

Memang jika bayi dilahirkan dalam keadaan yang tidak sehat, dokter akan membiarkan tali pusat dengan menunda tindakan klem atau penjepitan. Hal ini bertujuan agar bayi mendapatkan tambahan darah dari plasenta.

Namun, anggapan bahwa membiarkan plasenta tetap terhubung dengan bayi setelah kelahirannya karena tambahan makanan, oksigen dan antibodi ini dibantah oleh dokter Frizar.

“Plasenta memang memproduksi antibodi, tapi jika masih berada di dalam tubuh,” jelasnya seperti yang dikutip dari Detik, “Jika sudah di luar tubuh ibu, ya sudah mati.”

Sementara situs Alodokter menyatakan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar dilakukan penundaan pemutusan tali pusat selama satu sampai tiga menit setelah kelahiran.

Tidak disarankan pemotongan tali pusat lebih awal, atau kurang dari 1 menit setelah kelahiran, kecuali untuk keadaan darurat.

Tinggalkan Komentar