Kisah Tragis Para Luwak, Mungkin Anda Akan Berpikir Ulang Kalau Mau Minum Kopi Luwak

0
kopi luwak

Senyumperawat.com – Tulisan ini bukan untuk menjadikan para pecinta kopi menjadi anti kopi luwak. Tapi lebih kepada menelisik apa yang terjadi di balik kopi luwak. Lebih lanjut lagi, mari kita peduli terhadap nasib para luwak.

Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan sejenis binatang yang mirip musang, yang hanya hidup di daerah Asia Tenggara. Khususnya di Indonesia, Malaysia, Vietnam dan Filipina. Luwak hanya memakan buah kopi yang berkualitas dan yang telah benar-benar matang. Di dalam perutnya, Luwak memproses buah kopi kemudian mengeluarkan biji kopi bersama kotorannya.

Kelangkaan dan tingkat kesulitan yang tinggi untuk mengumpulkan biji kopi luwak ini membuat harga jenis kopi ini menjadi sangat tinggi. Hewan ini biasanya hidup dekat dengan perkebunan kopi manusia, karena itulah saat musim panen mereka bisa memakan biji kopi dengan leluasa di malam hari. Para pekerja kebun kopi kemudian akan mengambil biji kopi yang terletak dalam kotoran luwak. Enzim pencernaan luwak memproses biji kopi secara unik sehingga kopi luwak memiliki rasa yang khas.

Sayangnya, saat ini sudah hampir tidak mungkin menemukan kopi luwak yang original. Harga kopi luwak yang mahal ternyata tidak dibarengi dengan perhatian akan kesehatan dan kesejahteraan luwak. Kopi Luwak memang merupakan salah satu kopi termahal yang pernah ada.

Produksi kopi luwak sangat sedikit, namun permintaan yang ada sangat tinggi. Maka tak heran jika harga biji kopi luwak arabika yang telah disangrai bisa mencapai Rp 1 juta/kg, padahal biji sangrai kopi arabika biasa dijual seharga Rp 200 ribu/kg. Bahkan menurut informasi yang didapat dari situs resmi Kementerian Perdagangan, harga kopi luwak di pasar expor bisa mencapai $200/kg atau setara dengan Rp 2,4 juta/kg. Hal ini pula-lah yang menjadikan kopi luwak sebagai komoditi yang banyak diperdagangkan di dunia internasional.

Kopi luwak yang ada di pasaran saat ini berasal dari luwak liar yang ditangkap dan dimasukkan dalam kandang. Kondisi ini membuat luwak mengalami penderitaan karena luwak kini harus hidup berjejal-jejal dalam kandang. Hal ini tidak cocok untuk luwak yang sebenarnya merupakan hewan liar.

Mereka juga dipaksa untuk memakan biji kopi sebanyak mungkin, keadaan yang menyedihkan ini akhirnya sering membuat sejumlah luwak stres dan mati dalam kandang.

Organisasi penyelamat hewan dunia People For The Ethical Treatment of Animals atau PETA merilis investigasi dibalik produksi kopi luwak di salah satu penagkaran luwak di Bali. PETA menemukan luwak-luwak yang ada di kandang menderita Zukosis, yaitu tanda-tanda hewan yang akan menjadi gila. Hal ini dapat terlihat dari perilaku luwak yang suka berjalan mondar-mandir gelisah di dalam kandang, mengangguk-anggukan kepala, berputar, dan mulai mnggigit-gigit bagian tubuhnya sendiri. Investigasi tersebut juga ditayangkan ulang oleh salah satu stasiun tv swasta di Indonesia.

Karena permintaan kopi Luwak yang sangat tinggi, membuat sang hewan menjadi semakin menderita. Karena produsen kopi luwak memaksa luwak untuk terus menerus mengkonsumsi buah kopi, padahal kopi bukanlah makanan utama mereka. Jika permintaan dari pembeli tidak dapat dipenuhi, maka prosusen akan mencampur kopi luwak dengan kopi biasa. Bahkan di pasar luar negeri sana, banyak embel-embel wild civet coffee tersemat di bungkus-bungkus kopi demi untuk meyakinkan pembeli. (dari berbagai sumber)

Share

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Wajib diisi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.